<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ALHAQQU</title>
	<atom:link href="http://byonspot.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://byonspot.wordpress.com</link>
	<description>lakukan yang terbaik.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Jul 2008 00:43:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='byonspot.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/9c7d74eab0946bb3ee19edef16e4b9dd?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>ALHAQQU</title>
		<link>http://byonspot.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://byonspot.wordpress.com/osd.xml" title="ALHAQQU" />
	<atom:link rel='hub' href='http://byonspot.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hukum Meninggalkan Shalat</title>
		<link>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/10/hukum-meninggalkan-shalat/</link>
		<comments>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/10/hukum-meninggalkan-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 07:24:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abunadiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://byonspot.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[<h2></h2><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=60&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hukum Meninggalkan Shalat</p>
<p>Selasa, 02 Oktober 2007 &#8211; 03:14:15			 :: kategori <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=arsip&amp;cat_id=3">Fiqh</a></p>
<p>Penulis: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari 		 			 				.:  				:.</p>
<p>Telah kita ketahui kesepakatan ulama tentang kafirnya orang yang menentang kewajiban shalat. Namun, bagi yang meninggalkannya karena malas, terlebih lagi ia masih mengimani bahwa shalat itu amalan yang disyariatkan, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, antara yang mengkafirkan dengan yang tidak mengkafirkan dan apakah ia dibunuh1 atau tidak.</p>
<p>Masalah hukum orang yang meninggalkan shalat ini memang merupakan masalah khilafiyyah sejak zaman dahulu di kalangan salaful ummah, dan perselisihannya teranggap (mu&#8217;tabar). Oleh karena itu, janganlah kita gegabah menuduh orang yang menyelisihi pendapat kita dalam hal ini, semisal kita mengatakannya Murji` (pengikut pemahaman Murji`ah, karena tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat) atau menvonisnya dengan Khariji (pengikut pemahaman Khawarij, karena mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat). Hukum asal dalam hal khilaf yang mu&#8217;tabar adalah seseorang tidak boleh mengingkari pendapat orang lain dan mencelanya. Mencela seseorang karena mengikuti pendapat ulama dari kalangan salaf (para imam yang dikenal) sama dengan mencela ulama salaf tersebut. Karena itu sekali lagi kita tegaskan, janganlah kita memboikot dan mencela saudara kita dalam permasalahan-permasalahan yang kita dapati para ulama kita juga berbeda pendapat di dalamnya. Memang masalah fiqih yang seperti ini, kita dapati para ulama sering berbeda pendapat, dan mereka pun melapangkan bagi saudaranya selama permasalahan itu memang dibolehkan/ dilapangkan untuk berijtihad.</p>
<p>Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu menyatakan bahwa permasalahan meninggalkan shalat ini termasuk permasalahan yang sangat besar yang pada hari ini banyak orang terjatuh di dalamnya (ditimpa musibah dengan tidak menunaikannya). Dan ulama beserta para imam dari kalangan umat ini, yang dahulu maupun sekarang, berselisih pendapat tentang hukumnya. (Mukaddimah kitab Hukmu Tarikish Shalah hal. 3)</p>
<p>Orang yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja berarti ia telah melakukan dosa yang teramat besar. Dosanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala lebih besar daripada dosa membunuh jiwa yang tidak halal untuk dibunuh, atau dosa mengambil harta orang lain secara batil, atau dosa zina, mencuri dan minum khamr. Meninggalkan shalat berarti menghadapkan diri kepada hukuman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan kemurkaan-Nya. Ia akan dihinakan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala baik di dunia maupun di akhiratnya. (Ash-Shalatu wa Hukmu Tarikiha, Ibnul Qayyim rahimahullahu, hal. 7)</p>
<p>Tentang hukuman di akhirat bagi orang yang menyia-nyiakan shalat dinyatakan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dalam firman-Nya:</p>
<p>مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ. قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَ</p>
<p>&#8220;Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat&#8230;.&#8221; (Al-Muddatstsir: 42-43)</p>
<p>فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّيْنَ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلاَتِهِمْ سَاهُوْنَ</p>
<p>&#8220;Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari mengerjakan shalatnya&#8230;.&#8221; (Al-Ma&#8217;un: 4-5)</p>
<p>فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاَةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا</p>
<p>&#8220;Maka datanglah setelah mereka, pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kerugian2.&#8221; (Maryam: 59)</p>
<p>Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama</p>
<p>1. Abdullah bin Mubarak, Ahmad, Ishaq, dan Ibnu Hubaib dari kalangan Malikiyyah berpendapat kafir3 orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja walaupun ia tidak menentang kewajiban shalat. Pendapat ini dihikayatkan pula dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, dan Al-Hakam bin ‘Uyainah radhiyallahu &#8216;anhum. Sebagian pengikut Al-Imam Asy-Syafi&#8217;i rahimahullahu juga berpendapat demikian4. (Al-Majmu&#8217; 3/19, Al-Minhaj 2/257, Nailul Authar, 2/403)</p>
<p>Mereka berargumen dengan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<p>فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيْلَهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ</p>
<p>&#8220;Apabila telah habis bulan-bulan Haram, bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kalian jumpai mereka dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Apabila mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221; (At-Taubah: 5)</p>
<p>Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menetapkan harus terpenuhinya tiga syarat barulah seorang yang tadinya musyrik dibebaskan dari hukuman bunuh sebagai orang kafir yaitu bertaubat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Bila tiga syarat ini terpenuhi berarti ia telah menjadi seorang muslim yang terpelihara darahnya. Namun bila tidak, ia bukanlah seorang muslim. Dengan demikian, barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja, tidak mau menunaikannya, berarti tidak memenuhi syarat untuk dibiarkan berjalan, yang berarti ia boleh dibunuh5.</p>
<p>Argumen mereka dari hadits adalah hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu &#8216;anhuma, ia berkata, &#8220;Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.&#8221; (HR. Muslim no. 242)</p>
<p>Demikian pula hadits Buraidah ibnul Hushaib radhiyallahu &#8216;anhu, ia berkata, &#8220;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهُ فَقَدْ كَفَرَ</p>
<p>&#8220;Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti ia kafir.&#8221; (HR. Ahmad 5/346, At-Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079 dan selainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi, Al-Misykat no. 574 dan juga dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib hal. 299) [Lihat Tharhut Tatsrib, 1/323]</p>
<p>Dalam dua hadits di atas dinyatakan secara umum &#8220;meninggalkan shalat&#8221; tanpa ada penyebutan &#8220;meninggalkan karena menentang kewajibannya&#8221;. Berarti ancaman dalam hadits diberlakukan secara umum, baik bagi orang yang meninggalkan shalat karena menentang kewajibannya atau pun tidak.</p>
<p>Seorang tabi&#8217;in bernama Abdullah bin Syaqiq rahimahullahu berkata:</p>
<p>كَانَ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ اْلأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ</p>
<p>&#8220;Adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memandang adanya sesuatu dari amalan-amalan yang bila ditinggalkan dapat mengkafirkan pelakunya kecuali amalan shalat.&#8221; (HR. At-Tirmidzi no. 2622, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, demikian pula dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 562)</p>
<p>Abdullah menyebutkan bahwa para sahabat sepakat ‘orang yang meninggalkan shalat itu kafir&#8217; dan mereka tidak mensyaratkan ‘harus disertai dengan pengingkaran akan kewajibannya&#8217; atau ‘menentang kewajiban shalat&#8217;. Karena yang mengatakan shalat itu tidak wajib, jelas sekali kekafirannya bagi semua orang. (Al-Majmu&#8217; 3/19, Al-Minhaj 2/257, Tharhut Tatsrib 1/323, Nailul Authar 2/403)</p>
<p>2. Sementara itu, dinukilkan pula pendapat mayoritas ulama yang memandang tidak atau belum kafirnya orang yang meninggalkan shalat secara sengaja. Al-Imam Abdul Haq Al-Isybili rahimahullahu dalam kitabnya Ash Shalah wat Tahajjud (hal. 96) menyatakan, &#8220;Seluruh kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah, baik ahli haditsnya maupun selain mereka, berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat secara sengaja dalam keadaan ia mengimani kewajiban shalat dan mengakui/menetapkannya, tidaklah dikafirkan. Namun dia telah melakukan suatu perbuatan dosa yang amat besar. Adapun hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang secara zhahir menyebutkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat, demikian pula ucapan ‘Umar radhiyallahu &#8216;anhu dan selainnya, mereka takwil sebagaimana mereka mentakwil sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِيْنَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ&#8230;</p>
<p>&#8220;Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan ia beriman saat melakukan perbuatan zina tersebut.&#8221;6</p>
<p>Demikian pula hadits-hadits lain yang senada dengan ini. Adapun ahlul ilmi yang berpendapat dibunuhnya orang yang meninggalkan shalat, hanyalah memaksudkan ia dibunuh sebagai hukum had, bukan karena ia kafir. Demikian pendapat ini dipegangi oleh Al-Imam Malik, Asy Syafi&#8217;i, dan selain keduanya.&#8221;</p>
<p>Al-Hafizh Al-‘Iraqi rahimahullahu berkata, &#8220;Jumhur ahlul ilmi berpendapat tidak kafirnya orang yang meninggalkan shalat bila memang ia tidak menentang kewajibannya. Ini merupakan pendapat para imam: Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi&#8217;i, dan juga satu riwayat dari Al-Imam Ahmad bin Hambal. Terhadap hadits-hadits yang shahih dalam masalah hukum meninggalkan shalat ini7, mereka menjawab dengan beberapa jawaban, di antaranya:</p>
<p>Pertama: Makna dari hadits-hadits tersebut adalah orang yang meninggalkan shalat pantas mendapatkan hukuman yang diberikan kepada orang kafir yaitu dibunuh.</p>
<p>Kedua: Vonis kafir yang ada dalam hadits-hadits tersebut diberlakukan kepada orang yang menganggap halal meninggalkan shalat tanpa udzur.</p>
<p>Ketiga: Meninggalkan shalat terkadang dapat mengantarkan pelakunya kepada kekafiran, sebagaimana dinyatakan bahwa ‘perbuatan maksiat adalah pos kekafiran&#8217;.</p>
<p>Keempat: Perbuatan meninggalkan shalat adalah perbuatan orang-orang kafir.&#8221; (Tharhut Tatsrib, 1/324-325)</p>
<p>Dalil yang dipakai oleh jumhur ulama adalah firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<p>إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa menyekutukan-Nya dengan sesuatu8 (syirik) dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.&#8221; (An-Nisa`: 48)</p>
<p>Sementara tidak mengerjakan shalat bukan perbuatan syirik, namun salah satu perbuatan dosa besar yang Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala janjikan untuk diberikan pengampunan bagi siapa yang Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala kehendaki.</p>
<p>Juga hadits-hadits yang banyak, di antaranya hadits ‘Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu &#8216;anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ، فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ، كَانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدًا يُدْخِلُهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ، إِنْ شاَءَ عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ</p>
<p>&#8220;Shalat lima waktu Allah wajibkan atas hamba-hamba-Nya. Siapa yang mengerjakannya tanpa menyia-nyiakan di antara kelima shalat tersebut karena meremehkan keberadaannya maka ia mendapatkan janji dari sisi Allah untuk Allah masukkan ke surga. Namun siapa yang tidak mengerjakannya maka tidak ada baginya janji dari sisi Allah, jika Allah menghendaki Allah akan mengadzabnya, dan jika Allah menghendaki maka Allah akan mengampuninya.&#8221; (HR. Abu Dawud no. 1420 dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud)</p>
<p>Hadits Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ الْمَكْتُوْبَةُ، فَإِنْ أَتَمَّهَا وَإِلاَّ قِيْلَ: انْظُرُوا هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كاَنَ لَهُ تَطَوُّعٌ أُكْمِلَتِ الْفَرِيْضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ، ثُمَّ يُفْعَلُ بِسَائِرِ اْلأَعْمَالِ الْمَفْرُوْضَةِ مِثْلُ ذَلِكَ</p>
<p>&#8220;Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba nanti pada hari kiamat adalah shalat wajib. Jika ia sempurnakan shalat yang wajib tersebut maka sempurna amalannya, namun jika tidak dikatakanlah, ‘Lihatlah, apakah orang ini memiliki amalan tathawwu&#8217; (shalat sunnah)?&#8217; Bila ia memiliki amalan tathawwu&#8217;, disempurnakanlah shalat wajib yang dikerjakannya dengan shalat sunnahnya. Kemudian seluruh amalan yang difardhukan juga diperbuat semisal itu.&#8221; (HR. Ibnu Majah no. 1425 dan lainnya, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Ibni Majah dan Al-Misykat no. 1330-1331)</p>
<p>Demikian pula hadits dalam Ash-Shahihain yang dibawakan oleh ‘Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu &#8216;anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:</p>
<p>مَنْ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ، وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ عَمَلٍ</p>
<p>&#8220;Siapa yang mengucapkan, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, ‘Isa adalah hamba Allah, putra dari hamba perempuan Allah, kalimat-Nya yang Dia lontarkan kepada Maryam dan ruh ciptaan-Nya, dan surga itu benar adanya, neraka pun benar adanya&#8217;, maka orang yang bersaksi seperti ini akan Allah masukkan ke dalam surga apa pun amalannya.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 3435 dan Muslim no. 139)</p>
<p>Dalam satu riwayat Al-Imam Muslim (no. 141) dibawakan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ النَّارَ</p>
<p>&#8220;Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah saja dan bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah, maka Allah haramkan neraka baginya.&#8221;</p>
<p>Selain itu, banyak didapatkan dalil yang menunjukkan tidak kekalnya seorang muslim yang masih memiliki iman walau sedikit di dalam neraka, bila ia telah mengucapkan syahadatain, seperti hadits Anas bin Malik radhiyallahu &#8216;anhu berikut ini. Anas berkata, &#8220;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>يُخْرَجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ شَعِيْرَةً، ثُمَّ يُخْرَجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَكَانَ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ بُرَّةً، ثُمَّ يُخْرَجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وكَانَ فِي قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ ذَرَّةً</p>
<p>&#8220;Akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan di hatinya ada kebaikan (iman) seberat sya&#8217;ir (satu jenis gandum). Kemudian akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah dan di hatinya ada kebaikan seberat burrah (satu jenis gandum juga). Kemudian akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dan di hatinya ada kebaikan seberat semut yang sangat kecil.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 44 dan Muslim no. 477)</p>
<p>Ulama yang berpandangan tidak kafirnya orang yang meninggalkan shalat tidaklah kemudian membebaskan pelakunya dari hukuman atau meringan-ringankan hukumannya. Bahkan sebaliknya, hukuman berat dijatuhkan sebagaimana yang akan kita baca dalam keterangan berikut ini.</p>
<p>Ibnu Syihab Az-Zuhri, Sa&#8217;id ibnul Musayyab, ‘Umar bin Abdil ‘Aziz, Abu Hanifah, Dawud bin ‘Ali dan Al-Muzani berpendapat, orang yang meninggalkan shalat karena malas, tidaklah divonis kafir, namun fasik. Ia harus ditahan atau dipenjara oleh pemerintah muslimin9 dan dipukul dengan pukulan yang keras sampai darahnya bercucuran. Hukuman ini terus ditimpakan padanya sampai ia mau bertaubat dan mengerjakan shalat atau sampai mati dalam penjara10. Hukuman bunuh tidak sampai dijatuhkan padanya kecuali bila ia menentang kewajiban shalat, karena ada hadits Ibnu Mas&#8217;ud radhiyallahu &#8216;anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:</p>
<p>لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ</p>
<p>&#8220;Tidak halal ditumpahkan darah seseorang yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah saja dan ia bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah, kecuali salah satu dari tiga golongan, yaitu seseorang yang sudah/pernah menikah melakukan perbuatan zina, karena jiwa dibalas jiwa (seseorang membunuh orang lain maka balasannya ia diqishash/dibunuh juga), dan orang yang meninggalkan agamanya, berpisah dengan jamaahnya kaum muslimin.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 6878 dan Muslim no. 4351) [Al-Majmu' 3/19, Ash-Shalatu wa Hukmu Tarikiha, hal. 7-8]</p>
<p>Dalam hadits di atas tidak disebutkan hukum bunuh untuk orang yang meninggalkan shalat. (Al-Minhaj, 2/257)</p>
<p>Madzhab Malikiyyah dan Syafi&#8217;iyyah berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat tanpa ada udzur, ia diminta bertaubat dari perbuatannya. Bila tidak mau bertaubat maka dibunuh11 dengan cara dipenggal dengan pedang menurut pendapat jumhur12. Namun hukuman bunuh ini dijatuhkan sebagai hukum had baginya bukan dibunuh karena kafir. Setelah meninggal, ia dikafani, dishalati, dan dikuburkan di pemakaman muslimin. (Al-Majmu&#8217; 3/17, Al-Minhaj 2/257, Nailul Authar, 2/403)</p>
<p>Dari keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam Majmu&#8217; Fatawa (22/40-53) sehubungan dengan perkara shalat ini, tampak bahwa beliau membagi manusia menjadi empat macam:</p>
<p>• Orang yang menolak untuk mengerjakan shalat sampai ia dibunuh, sementara di hatinya sama sekali tidak ada pengakuan akan kewajiban shalat dan tidak ada keinginan untuk mengerjakannya. Orang ini kafir menurut kesepakatan kaum muslimin.</p>
<p>• Orang yang terus-menerus meninggalkan shalat sampai meninggalnya, sama sekali ia tidak pernah sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Ia pun tidak mengakui kewajibannya maka orang ini pun kafir.</p>
<p>• Orang yang tidak menjaga shalat lima waktu, ini adalah keadaan kebanyakan manusia. Sekali waktu ia mengerjakan shalat, pada kali lain ia meninggalkannya. Orang yang keadaannya seperti ini berada di bawah kehendak Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Jika Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menghendaki akan diadzab, kalau tidak maka Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala akan mengampuninya. Dalilnya adalah hadits ‘Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu &#8216;anhu yang telah disebutkan di atas.</p>
<ul class="unIndentedList">
<li> Kaum mukminin yang menjaga shalat mereka. Inilah yang mendapat janji untuk masuk surga Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</li>
</ul>
<p>Dari perbedaan pendapat yang ada, penulis sendiri lebih condong pada pendapat yang menyatakan tidak kafir. Dan inilah pendapat yang menenangkan hati kami, wallahu Ta&#8217;ala a&#8217;lam bish-shawab.</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata ketika menguatkan pendapat ini, &#8220;Terus-menerus kaum muslimin saling mewarisi dengan orang yang meninggalkan shalat (dari kalangan kerabat mereka). Seandainya orang yang meninggalkan shalat itu kafir dan tidak akan diampuni dosanya, tentu tidak boleh mewarisi dan tidak mewariskan harta kepada kerabatnya. Adapun jawaban argumen yang dibawakan oleh yang berpendapat kafirnya orang yang meninggalkan shalat dengan hadits Jabir, hadits Buraidah dan riwayat Abdullah ibnu Syaqiq, adalah bahwa hadits-hadits tersebut dibawa maknanya kepada orang yang meninggalkan shalat akan menjadi serikat bagi orang kafir dalam sebagian hukum yang diberlakukan kepadanya, yaitu ia wajib/harus dibunuh. Dengan takwil ini terkumpullah nash-nash syariat dan kaidah-kaidah yang telah disebutkan.&#8221; (Al-Majmu&#8217;, 3/19)</p>
<p>Al-Imam Al-Albani rahimahullahu menyatakan, &#8220;Aku berpandangan bahwa yang benar adalah pendapat jumhur. Adapun riwayat yang datang dari sahabat bukanlah nash yang memastikan bahwa yang mereka maksudkan dengan kufur adalah kufur yang membuat pelakunya kekal di dalam neraka13.&#8221; (Ash-Shahihah, 1/174)</p>
<p>Wallahu Ta&#8217;ala a&#8217;lam bish-shawab.</p>
<p>Catatan Kaki:</p>
<p>1 Sufyan bin Sa&#8217;id Ats Tsauri, Abu ‘Amr Al-Auza&#8217;i, Abdullah ibnul Mubarak, Hammad bin Zaid, Waki&#8217; ibnul Jarrah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris Asy-Syafi&#8217;i, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahuyah, dan murid/ pengikut mereka berpandangan bahwa orang yang meninggalkan shalat dibunuh. Kemudian mereka berbeda pendapat, apakah dibunuh sebagai seorang muslim yang menjalani hukum had sebagaimana dibunuhnya zina muhshan (orang yang sudah/pernah menikah lalu berzina), ataukah dibunuh karena kafir sebagaimana dibunuhnya orang yang murtad dan zindiq. (Ash-Shalatu wa Hukmu Tarikiha, hal. 7 dan 20)</p>
<p>2 فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas dengan kerugian. Qatadah berkata, &#8220;(Kelak mereka akan menjumpai) kejelekan.&#8221; Ibnu Mas&#8217;ud menafsirkannya dengan sebuah lembah di neraka Jahannam yang sangat dalam lagi sangat buruk makanannya. Adapula yang menafsirkannya dengan sebuah lembah di Jahannam yang berisi darah dan nanah. (Al-Mishbahul Munir fit Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 830-831)</p>
<p>3 Bila sampai vonis kafir dijatuhkan berarti diberlakukan padanya hukum-hukum orang kafir/murtad. Seperti tidak memperoleh warisan dari kerabatnya yang meninggal, bila sudah beristri (dan istrinya seorang muslimah) maka ia harus menceraikan istrinya, bila belum maka tidak boleh dinikahkan dengan wanita muslimah. Bila ia meninggal dunia, jenazahnya tidak boleh dimakamkan di pekuburan muslimin dan seterusnya.</p>
<p>4 Dan pendapat ini pula yang dipegangi oleh sebagian besar imam dakwah pada hari ini. Di antaranya Samahatusy Syaikh Ibn Baz, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dan guru kami Asy-Syaikh Muqbil rahimahumullah.</p>
<p>5 Ada dua riwayat dari Al-Imam Ahmad dalam masalah membunuh orang yang meninggalkan shalat ini.</p>
<p>Pertama: Ia dibunuh sebagaimana dibunuhnya orang yang murtad. Demikian pendapat ini dipegangi oleh Sa&#8217;id bin Jubair, Amir Asy-Sya&#8217;bi, Ibrahim An-Nakha&#8217;i, Abu ‘Amr Al-Auza&#8217;i, Ayyub As-Sikhtiyani, Abdullah ibnul Mubarak, Ishaq bin Rahuyah, Abdul Malik bin Hubaib dari kalangan Malikiyyah, satu sisi dalam madzhab Al-Imam Asy-Syafi&#8217;i, Ath-Thahawi menghikayatkan dari Al-Imam Asy-Syafi&#8217;i sendiri dan Abu Muhammad ibnu Hazm menghikayatkannya dari ‘Umar ibnul Khaththab, Mu&#8217;adz bin Jabal, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah dan selain mereka dari kalangan shahabat.</p>
<p>Kedua: Dibunuh sebagai hukum had, bukan karena kafir. Demikian pendapat Malik, Asy-Syafi&#8217;i, dan Abu Abdillah ibnu Baththah memilih riwayat ini. (Ash-Shalatu wa Hukmu Tarikiha, hal. 20)</p>
<p>6 Yakni si pezina tidak mungkin melakukan perbuatan zina di kala imannya sempurna. Hanyalah ia jatuh ke dalam perbuatan nista tersebut karena imannya sedang lemah. Dengan demikian hadits ini bukanlah menunjukkan bahwa pezina itu tidak punya iman dalam arti keluar dari iman dan masuk ke dalam kekafiran, namun si pezina tetap seorang muslim dengan keimanan yang sekadar mensahkan keislamannya.</p>
<p>7 Seperti hadits Jabir dan hadits Buraidah.</p>
<p>8 Apabila si hamba meninggal dalam keadaan membawa dosa syirik, tidak sempat bertaubat dari kesyirikan. Adapun bila bertaubat dari dosa-dosanya maka:</p>
<p>إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa.&#8221; (Az-Zumar: 53)</p>
<p>9 Yang harus selalu diingat, hukum had bukanlah ditegakkan oleh orang per orang atau suatu perkumpulan/organisasi perorangan, namun yang berwenang dalam penegakannya adalah wulatul umur, yaitu pemerintah kaum muslimin.</p>
<p>10 Dan ia mati tentunya bukan sebagai orang kafir tapi sebagai orang fasik, seorang mukmin yang mengerjakan dosa besar. Sehingga pengurusan jenazahnya tetap diselenggarakan oleh kaum muslimin sebagaimana penyelenggaraan jenazah orang Islam; ia dimandikan, dikafani, dishalati dan dikuburkan di pemakaman muslimin.</p>
<p>11 Berargumen dengan ayat:</p>
<p>فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيْلَهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ</p>
<p>&#8220;Apabila telah habis bulan-bulan Haram, bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kalian jumpai mereka dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Apabila mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221; (At-Taubah: 5)</p>
<p>12 Berdalil dengan hadits:</p>
<p>إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ فِي كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah menetapkan untuk berbuat ihsan (berbuat baik) dalam segala sesuatu, maka kalau kalian membunuh baikkanlah dalam cara membunuh.&#8221; (HR. Muslim no. 1955)</p>
<p>Sementara membunuh dengan memukulkan pedang ke leher (memenggal) merupakan sebaik-baik cara membunuh dan lebih cepat menghilangkan nyawa, sehingga tidak menyakitkan dan menyiksa orang yang dibunuh.</p>
<p>13 Karena ada yang namanya kufrun duna kufrin, yaitu amalnya merupakan amalan kekafiran namun pelakunya belum tentu dikafirkan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/byonspot.wordpress.com/60/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/byonspot.wordpress.com/60/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/byonspot.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/byonspot.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/byonspot.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/byonspot.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/byonspot.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/byonspot.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/byonspot.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/byonspot.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/byonspot.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/byonspot.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/byonspot.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/byonspot.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/byonspot.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/byonspot.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=60&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/10/hukum-meninggalkan-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e08ce7fed8a6a0a72739bd469899b2c8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abunadiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mandi Janabah</title>
		<link>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/mandi-janabah/</link>
		<comments>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/mandi-janabah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 11:42:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abunadiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://byonspot.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[  <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=97&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Defenisi Mandi Janabah</p>
<p>Definisi Mandi :</p>
<p>Al-Ghuslu (Mandi) secara bahasa adalah kata yang tersusun dari tiga huruf yaitu ghain, sin dan lam untuk menunjukkan sucinya sesuatu dan bersihnya. (Lihat Mu&#8217;jam Maqayis Al-Lughoh 4/424).</p>
<p>Al-Ghuslu adalah mengalirnya air pada sesuatu secara mutlak. (Lihat : As-Shihah 5/1781-1782, Lisanul &#8216;Arab 11/454, Mufradat Al-Ashfahany hal. 361 dan AN-Nihayah Fii Ghoribul Hadits 3/367).</p>
<p>Dan Al-Ghuslu secara istilah adalah menyiram air ke seluruh badan secara khusus. (Lihat Ar-Raudh Al-Murbi&#8217; 1/26, Mu&#8217;jam Lughatul-Fuqaha` : 331 )</p>
<p>Kata Ibnu Hajar : Hakikat mandi adalah mengalirkan air pada anggota-anggota tubuh.( Lihat: Fathul Bary :1/359)</p>
<p>Definisi Janabah  :</p>
<p>Janabah secara bahasa adalah Al-Bu&#8217;du (yang jauh). Sebagaimana dalam firman Allah Ta&#8217;ala :</p>
<p>وَالْجَارِ الْجُنُبِ</p>
<p>&#8220;Dan tetangga yang junub (jauh)&#8221;. (QS. An-Nisa` : 36)</p>
<p>Dan juga dalam firman-Nya yang Maha agung :</p>
<p>فَبَصَرَتْ بِهِ عَنْ جُنُبٍ وَهُمْ لاَ يَشْعُرُوْنَ</p>
<p>&#8220;Maka Ia (saudara perempuan Nabi Musa) melihatnya dari junub (jauh) sedangkan mereka tidak mengetahuinya&#8221;. (QS. Al-Qoshash : 11)</p>
<p>Adapun secara istilah adalah orang yang wajib atasnya mandi karena jima&#8217; atau karena keluar mani. (Lihat : Al-I&#8217;lam 2/6-9, Ihkamul Ahkam 1/356 dan Tuhfatul Ahwadzy 1/349)</p>
<p>Hukum Mandi Janabah<br />
Mandi Janabah adalah wajib berdasarkan dalil dari Al-Qur`an, Sunnah dan Ijma&#8217;.</p>
<p>Adapun dari Al-Qur`an, Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman :</p>
<p>وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبٍا فَاطَّهَّرُوْا</p>
<p>&#8220;Dan jika kalian junub maka mandilah&#8221;. (QS. Al-Ma`idah : 6)</p>
<p>Dan juga Allah &#8216;Azza wa Jalla berfirman :</p>
<p>وَلاَ جُنُبٍا إِلاَّ عَابِرِيْ سَبِيْلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوْا</p>
<p>&#8220;Dan jangan pula (dekati sholat) sedang kalian dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kalian mandi&#8221;. (QS. An-Nisa` : 43)</p>
<p>Adapun dari sunnah, akan datang beberapa hadits dalam pembahasan yang menunjukkan tentang wajibnya mandi janabah.</p>
<p>Adapun Ijma&#8217; telah dinukil oleh Imam An-Nawawy dalam Syarah Shohih Muslim 3/220.</p>
<p>Hal-hal yang mewajibkan mandi</p>
<p>Berikut ini beberapa perkara yang apabila seorang muslim melakukannya maka wajib atasnya untuk mandi.</p>
<p>Satu : Keluarnya mani dengan syahwat.</p>
<p>Baik pada laki-laki atau perempuan, dalam keadaan tidur maupun terjaga. Dan para ulama telah bersepakat tentang wajibnya mandi dengan keluarnya mani, sebagaimana yang dinukil oleh Imam Muhammad bin Jarir Ath-Thobary sebagaimana dalam Al-Majmu&#8217; 2/158, Ibnu Hazm dalam Maratibul Ijma&#8217; hal. 21, An-Nawawy dalam Syarah Shohih Muslim 4/36 dan Imam Asy-Syaukany dalam Ad-Darary Al-Mudhiyah 1/47.</p>
<p>Dan ada beberapa dalil yang menunjukkan tentang hal tersebut, diantaranya :</p>
<p>1.      Hadits Ummu Salamah radhiyallahu &#8216;anha, beliau berkata :</p>
<p>جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِيْ مِنَ الْحَقِّ فَهَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنَ الْغُسْلِ إِذَا هِيَ احْتَلَمَتْ ؟ فَقاَلَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ : نَعَمْ إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ</p>
<p>&#8220;Ummu Sulaim datang kepada Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam kemudian berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran, maka apakah wajib atas seorang wanita untuk mandi bila dia bermimpi ?. Maka Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam menjawab : Iya bila ia melihat air (mani-pen.)&#8221; (HSR. Bukhary-Muslim).</p>
<p>Sisi pendalilannya : sesungguhnya Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam mewajibkan mandi kepada wanita jika keluar air (mani-pen) dan hukum terhadap laki-laki sama. (Lihat Fathul bary :1/462, Ihkamul ahkam : 1/100)</p>
<p>2.     Hadits Abu Sa&#8217;id Al-Khudry radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ</p>
<p>&#8220;Air itu hanyalah dari air&#8221;. (HSR. Bukhary-Muslim).</p>
<p>Maksud dari air yang pertama adalah air untuk mandi wajib sedangkan air yang kedua adalah air mani, maka maknanya adalah air untuk mandi itu wajib karena keluarnya air mani.</p>
<p>Faedah :</p>
<p>1. Kalau seorang mimpi tetapi tidak mendapati mani, maka tidak wajib mandi menurut kesepakatan para ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Mundzir dalam kitabnya; Al-Ijma&#8217; (34) dan Al-Ausath 2/83. Dan lihat pula Al-Majmu&#8217; 2/162.</p>
<p>2. Kalau seseorang terjaga dari tidur kemudian dia mendapatkan cairan dan tidak bermimpi maka dia wajib mandi, karena hadits Aisyah radhiyallhu &#8216;anha beliau berkata :</p>
<p>سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ عَنْ الرَّجُلِ يَجِدُ بَلَلَ وَلاَ يَذْكُرُ إِحْتِلاَمًا قَالَ : يَغْتَسِلُ. وَعَنْ الرَّجُلِ يَرَى أَنَّهً قَدِ احْتَلَمَ وَلاَ يَجِدُ الْبَلَلَ قَالَ : لاَ غُسْلَ عَلَيْهِ</p>
<p>&#8220;Rasulullah ditanya tentang seseorang yang mendapatkan bekas basahan dan dia tidak menyebutkan bahwa dia mimpi, beliau menjawab : Wajib mandi. Dan (beliau juga ditanya) tentang seseorang yang menganggap bahwa dirinya mimpi tapi tidak mendapatkan basahan, beliau menjawab : Tidak wajib atasnya untuk mandi&#8221;. (HR. Abu Daud no. 236, At-Tirmidzy no. 112 dan Ibnu Majah no. 612 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Shohih At-Tirmidzy).</p>
<p>Dan juga dalam hadits Ummu salamah di atas :</p>
<p>فَقَالَ: نَعَمْ إِذَا رَأَتِ الْمَاءَ</p>
<p>&#8220;(Rasulullah) menjawab : &#8221; Iya bila ia melihat air (mani-pen.)&#8221;.</p>
<p>3.      Kalau keluar mani tanpa syahwat seperti karena kedinginan atau sakit maka tidak wajib mandi.</p>
<p>Hal ini berdasarkan Hadits &#8216;Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhu :</p>
<p>أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا حَذَفْتَ فَاغْتَسِلْ مِنَ الْجَنَابَةِ فَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَاذِفًا فَلاَ تَغْتَسِلْ. وَفِيْ لَفْظٍ آخَرَ : فَإِذَا رَأَيْتَ فَضْحَ الْمَاءِ فَاغْتَسِلْ. وَفِيْ لَفْظٍ آخَرَ : فَإِذَا فَضَحْتَ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam bersabda : Jika kamu memancarkan mani dengan kuat) maka mandilah dari janabah dan jika tidak, maka tidak wajib mandi. Dan dalam lafazh yang lain : &#8220;Jika kamu melihat mani yang memancar dengan kuat maka mandilah&#8221;. Dan dalam lafazh yang lain : &#8220;Jika kamu memancarkan mani dengan kuat maka mandilah&#8221;. (HR. Ahmad 1/107, 109, 125, Abu Daud 206 dan An-Nasa`i 1/93 dan dishohihkan oleh Ahmad Syakir dan Syeikh Al-Albany rahimahumullah dalam Al-Irwa` 1/162).</p>
<p>Sisi pendalilan : Yaitu Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam dalam hadits ini mensyaratkan فَضْحُ الْمَاءِ untuk wajibnya mandi sedangkan فَضْحٌ adalah keluarnya air dengan kuat.</p>
<p>Kata Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab : 3/46 فَضْحُ الْمَاءِ adalahدَفْقُهُ (memancar). Dan kata Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 1/267 : اَلْفَضْحُ خُرُوْجُهُ عَلَى وَجْهِ الشِّدَّةِ(Keluarnya air mani dengan cara yang kuat).</p>
<p>Ini menunjukkan bahwasanya jika mani keluar tidak dengan syahwat maka tidak wajib mandi, sebab mani itu dapat keluar dengan kuat dan memancar dan hal tersebut tidaklah terjadi kecuali kalau keluarnya dengan syahwat. Ini adalah pendapat Jumhur, Abu Hanifah, Malik dan Ahmad dan dikuatkan oleh Ahli Fiqh zaman ini Syeikh Ibnu &#8216;Utsaimin rahimahumullah. (Lihat : Nailul Authar 1/258 dan Asy-Syarah Al-Mumti&#8217; 1/386-387.)</p>
<p>Dua : Bertemunya dua khitan (kemaluan) walaupun tidak keluar mani.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>إِذَا جَلَسَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ شُعُبِهَا الْأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ</p>
<p>&#8220;Apabila seseorang duduk antara empat bagiannya (tubuh perempuan) kemudian ia bersungguh-sungguh[1] maka telah wajib atasnya mandi. Dan salah satu riwayat dalam Shohih Muslim &#8220;walaupun tidak keluar&#8221;. (HSR. Bukhary-Muslim)</p>
<p>Kata Imam An-Nawawy dalam Syarh Shohih Muslim 4/40-41 : Makna hadits ini bahwasanya wajibnya mandi tidak terbatas hanya pada keluarnya mani, tetapi kapan tenggelam kemaluan laki-laki dalam kemaluan wanita maka wajib atas keduanya untuk mandi.</p>
<p>Kata Imam Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 2/6 : Dan kebanyakan ulama beramal dengan hadits ini demikian pula yang datang sesudahnya, bahwa siapa yang menggauli istrinya pada kemaluannya maka wajib mandi atas keduanya walaupun tidak keluar mani.</p>
<p>Faedah :</p>
<p>Adapun hadits Abu Sa&#8217;id sebelumnya yang membatasi mandi hanya ketika keluar mani adalah hadits yang telah dimansukh (terhapus) hukumnya dalam jima&#8217; oleh hadits Abu Hurairah ini dengan konteks lafazh yang tegas &#8220;walaupun tidak keluar&#8221;.</p>
<p>Berkata Imam An-Nawawy rahimahullah : Adapun hadits &#8220;Air itu hanyalah dari air&#8221;, jumhur shahabat dan yang setelah mereka menyatakan bahwa ia telah dimansukh dan mansukh yang mereka maksudkan adalah bahwa mandi karena melakukan jima tanpa keluar mani telah gugur (hukumnya) dan kemudian menjadi wajib. (Lihat Syarah Muslim 4/36).</p>
<p>Dan hal ini diperjelas oleh Ubay bin Ka&#8217;ab radhiyallahu &#8216;anhu  :</p>
<p>إِنَّمَا كَانَ الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ رُخْصَةً أَوَّلَ الْإِسْلاَمِ ثُمَّ  أُمِرْنَا بِالْإِغْتِسَالِ بَعْدُ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya mandi dengan keluarnya air mani adalah rukhshoh (keringanan) pada awal Islam kemudian kami diperintahkan untuk mandi sesudah itu&#8221; (HR. Ahmad 5/115-116, Abu Daud no. 215, At-Tirmidzy no. 111 dan beliau berkata : Hadits ini Hasan Shohih. Dan dishohihkan oleh Imam An-Nawawy dalam Al-Majmu&#8217; 2/155 dan Al-Albany dalam Shohih At-Tirmidzy 1/34 dan Syeikh Muqbil dalam Al-Jami&#8217; Ash-Shohih 1/541).</p>
<p>Kata Ibnu Mundzir : Ini adalah pendapat semua orang yang kami hafal darinya dari ahli fatwa dari ulama-ulama negeri dan saya tidak mengetahui sekarang adanya khilaf dikalangan ahli ilmu. (Al-Ausath 2/81)</p>
<p>Tiga : Perempuan yang suci dari Haid dan Nifas.</p>
<p>Adapun haid, dalil-dalilnya sebagai berikut :</p>
<p>a.      Firman Allah Ta&#8217;ala</p>
<p>فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ</p>
<p>&#8220;Jika mereka telah suci maka datangilah mereka sesuai dengan apa yang Allah perintahkan kepada kalian &#8220;. (QS. Al-Baqarah : 222).</p>
<p>Kata Imam An-Nawawy : Sisi pendalilan dari ayat adalah bolehnya suami menjima&#8217; isteri-isterinya (atau budaknya) dan tidaklah boleh yang demikian kecuali dengan mandi, dan apa-apa yang tidak sempurna kewajiban kecuali dengannya, maka perkara itu wajib. Al-Majmu&#8217; 2/168.</p>
<p>b.      Hadits &#8216;Aisyah tatkala Nabi berkata kepada Fatimah binti Abi Hubeisy :</p>
<p>إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَصَلِّي</p>
<p>&#8220;Jika waktu haid datang maka tinggalkanlah sholat dan jika telah selesai maka   mandilah dan sholatlah&#8221;. (HR. Bukhary-Muslim).</p>
<p>c.      Ijma&#8217;</p>
<p>Kata Imam An-Nawawy : Ulama telah sepakat tentang wajibnya mandi karena sebab haid dan sebab nifas dan di antara yang menukil ijma&#8217; pada keduanya adalah Ibnu Mundzir dan Ibnu Jarir dan selainnya (Majmu&#8217; 2/168).</p>
<p>Kata Ibnu Qudamah : tidak ada khilaf tentang wajibnya mandi karena haid dan nifas (Al-Mughny 1/277).</p>
<p>Dan Ibnu Hazm juga menukil ijma&#8217; dalam Maratibul Ijma&#8217; : 21, dan Imam Asy-Syaukany dalam Ad-Darary Al-Mudhiyah 1/48.</p>
<p>Adapun Nifas, dalilnya adalah Ijma&#8217; sebagaimana telah dinukil oleh An-Nawawy dan Ibnu Qudamah diatas, juga telah dinukil ijma&#8217; oleh Ibnu Mundzir dalam Al-Ausath 2/248.</p>
<p>Kata Ibnu Qudamah : Nifas sama dengan haid karena sesunguhnya darah nifas adalah darah haid, karena itu ketika seorang wanita hamil maka dia tidak haid sebab darah haid tersebut dialihkan menjadi makanan janin. Maka tatkala janin tersebut keluar, maka keluar juga darah karena tidak ada pengalihannya maka dinamakan nifas. (Lihat Al-Mughny: 1/277).</p>
<p>Kata Asy-Syirazy : Adapun darah nifas maka mewajibkan mandi karena sesungguhnya itu adalah haid yang terkumpul, dan diharamkan puasa dan jima&#8217; dan gugur kewajiban sholat maka diwajibkan mandi seperti haid (lihat Al-Majmu&#8217;: 2/167)</p>
<p>Empat : Orang kafir yang masuk Islam.</p>
<p>Apakah dia kafir asli atau murtad, ia telah mandi biasa sebelum islamnya atau tidak, didapatkan darinya pada zaman kekafirannya apa-apa yang mewajibkan mandi atau tidak.</p>
<p>Dalil-dalilnya :<br />
a. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu yang diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim tentang kisah Tsumamah bin Utsal radhiyallahu &#8216;anhu yang sengaja mandi[2] kemudian menghadap kepada Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam untuk masuk Islam. b. Hadits Qois bin A&#8217;shim radhiyallahu &#8216;anhu :</p>
<p>أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ أُرِيْدُ الإِسْلاَمَ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ</p>
<p>&#8220;Saya mendatangi Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam untuk masuk Islam maka Nabi memerintahkan kepadaku untuk mandi dengan air dan daun bidara&#8221;. (HR. Ahmad 5/61, Abu Daud no. 355, An-Nasa`i 1/91, At-Tirmidzy no. 605 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Shohih At-Tirmidzy 1/187).</p>
<p>Sisi pendalilannya : bahwasanya ini adalah perintah dari Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam. Dan asal dari perintah menunjukkan hukum wajib kecuali kalau ada dalil lain yang menurunkan derajatnya. Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p>Dan ini adalah pendapat Imam Ahmad, Malik, Abu Tsaur, Ibnul Mundzir, Asy-Syaukany, dan lain-lainnya.</p>
<p>Lihat Al-Mughny 1/275, As-Sailul Jarrar 1/123, Ma&#8217;alim As-Sunan 1/252 dan lain-lain.</p>
<p>Lima : Meninggal (mati)<br />
Maksudnya wajib bagi orang yang hidup untuk memandikan orang yang meninggal.</p>
<p>Adapun dalil-dalilnya :</p>
<p>(1) Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma tentang orang yang jatuh dari ontanya dan meninggal, Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>اغْسِلُوْهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوْهُ فِي ثَوْبَيْنِ.</p>
<p>&#8220;Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara dan kafanilah dengan dua baju&#8221;. (HR. Bukhary-Muslim).</p>
<p>(2)   Hadits Ummu &#8216;Athiyah tatkala anak Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam meninggal, beliau bersabda :</p>
<p>اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ أَكْثَرَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ</p>
<p>&#8220;Mandikanlah dia tiga kali atau lima atau tujuh atau lebih jika kalian melihatnya dengan air dan daun bidara&#8221;. (HR. Bukhary-Muslim).</p>
<p>Tata Cara (Sifat Mandi)</p>
<p>Tata cara mandi junub terbagi atas 2 cara :</p>
<p>1)      Cara yang sempurna/yang terpilih.</p>
<p>2)      Cara yang mujzi` (yang mencukupi/memadai)</p>
<p>(Lihat Al-Mughny :1/287, Al-Majmu&#8217; : 2/209, Al-Muhalla: 2/28, dan lain-lain.)</p>
<p>Faedah:</p>
<p>Kata Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah : batasan antara cara yang sempurna dengan yang cukup adalah apa-apa yang mencakup wajib maka itu sifat cukup, dan apa-apa yang mencakup wajib dan sunnah maka itu sifat sempurna. (Lihat As-Syarh Al-Mumti&#8217; : 1/414).</p>
<p>Adapun tata cara yang mujzi` :</p>
<p>1. Niat.</p>
<p>Karena niat adalah syarat sahnya seluruh ibadah, sebagaimana sabda Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam :</p>
<p>إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى</p>
<p>&#8220;sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung dengan niat dan sesungguhnya setiap orang sesuai dengan apa yang dia niatkan&#8221;. (HR. Bukhary-Muslim dari &#8216;Umar bin Khaththab radhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Faidah :</p>
<p>a. Kata Ibnu Abdil Bar : Pendapat yang shohih (benar) adalah tidak sah thoharah (bersuci) kecuali dengan niat dan maksud, karena sesungguhnya kewajiban-kewajiban tidaklah bisa ditunaikan kecuali bermaksud menunaikannya dan tidak dinamakan pelaku yang hakiki (sesungguhnya) kecuali ada maksud darinya untuk perbuatan tersebut dan mustahil seseorang akan menunaikan sesuatu yang tidak dia maksudkan untuk menunaikannya dan berniat untuk mengerjakannya. (At-Tamhid 2/283)</p>
<p>b. Kata Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin rahimahullah : Niat itu ada dua :</p>
<p>Pertama : Niat untuk mengamalkan suatu amalan dan itulah yang dibicarakan oleh para fuqaha` karena niat itu yang menshohihkan amalan.</p>
<p>Kedua : Niat untuk siapa amalan ditujukan dan inilah yang dibicarakan oleh ulama Tauhid karena hal tersebut berkaitan dengan keikhlasan.</p>
<p>Misalnya : ketika seorang ingin mandi (junub-pent) dia berniat mandi, maka inilah yang dinamakan niat amalan. Akan tetapi jika dia berniat mandi untuk mendekatkan diri kepada Allah karena ta&#8217;at kepadanya, maka inilah yang dinamakan niat untuk siapa amalan itu ditujukan, yaitu mencari wajah-Nya yang Maha Suci. Dan yang terakhir ini yang kebanyakan diantara kita lalai darinya, kita tidak menghadirkan niat untuk taqarrub (mendekatkan diri). Kebanyakan kita mengerjakan ibadah karena kita diharuskan untuk melaksanakannya, maka kita meniatkannya untuk menshohihkan amalan, maka ini adalah kekurangan. Oleh karena itu Allah Ta&#8217;ala berfirman tatkala menyebutkan amalan :</p>
<p>إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى</p>
<p>&#8220;Kecuali mencari wajah Rabbnya yang Maha Tinggi &#8220;.( QS. Al-Lail : 20 )</p>
<p>وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ</p>
<p>&#8220;Dan orang-orang yang sabar mencari wajah Rabb mereka &#8220;. (QS. Ar-Ra&#8217;du : 22)</p>
<p>يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا</p>
<p>&#8220;Mencari keutamaan dari Allah dan ridho-Nya&#8221; . (QS. Al-Hasyr : 8)</p>
<p>(Lihat : Syarh Mumti&#8217; 1/417).<br />
2. Menyiram kepala sampai ke dasar rambut dan seluruh anggota badan dengan air.</p>
<p>Dalil-dalilnya :</p>
<p>1)      Firman Allah Ta&#8217;ala :</p>
<p>وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا</p>
<p>&#8220;Dan jika kalian junub maka bersucilah&#8221;. (QS. Al-Ma`idah : 6).</p>
<p>Kata Ibnu Hazm : Bagaimanapun caranya dia bersuci (mandi-Pent) maka dia telah menunaikan kewajibannya yang Allah wajibkan padanya (Lihat Al-Muhalla : 2/28)</p>
<p>2)      Hadits Jubair bin Muth&#8217;im radhiyallahu &#8216;anhu :</p>
<p>قَالَ تَذَاكَرْنَا غُسْلَ الْجَنَابَةِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَمَا أَنَا فَيَكْفِيْنِيْ أَنْ أُصُبُّ عَلَى رَأْسِيْ ثَلاَثًا ثُمَّ أَفِيْضُ بَعْدُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِيْ.</p>
<p>&#8220;Kami (para shahabat) saling membicarakan tentang mandi junub di sisi Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam maka beliau berkata : Adapun saya, cukup dengan menuangkan air di atas kepalaku tiga kali kemudian setelah itu menyiramkan air ke seluruh badanku&#8221;. (HR. Ahmad dan dishohihkan oleh An-Nawawy dalam Al-Majmu&#8217; 2/209 dan asal hadits ini dalam riwayat Bukhary-Muslim).</p>
<p>3). Dari &#8216;Imran bin Husain radhiyallahu &#8216;anhu, riwayat Bukhary-Muslim dalam hadits yang panjang, beliau berkata :</p>
<p>وَكَانَ آخِرَ ذَاكَ أَنْ أَعْطِيَ الََّذِيْ أَصَابَتْهُ الْجَنَابَةُ إِنَاءً مِنْ مَاءٍ فَقَالَ : إِذْهَبْ فَافْرُغْهُ عَلَيْكَ</p>
<p>&#8220;Dan yang terakhir adalah diberikannya satu bejana air kepada yang orang yang terkena janabah lalu beliau (Nabi) bersabda : Pergilah dan tuangkanlah atas dirimu air itu &#8220;.</p>
<p>Kata Syeikh Ibnu &#8216;Utsaimin rahimahullah : &#8220;Dan Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam tidak menjelaskan bagaimana cara menuangkan air kepada dirinya. Seandainya mandi itu wajib sebagaimana tata cara mandinya Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam (yang sempurna-pent.), tentunya Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam menjelaskan kepada orang tersebut, karena mengakhirkan penjelasan pada saat dibutuhkan adalah tidak boleh&#8221;. (Lihat Asy-Syarh Al-Mumti&#8217; :1/424).</p>
<p>Adapun sifat atau tata cara mandi junub yang sempurna :</p>
<p>Yang menjadi pokok pendalilan sifat atau tata cara mandi junub yang sempurna ada dua hadits, yaitu hadits Aisyah dan hadits Maimunah radhiyallahu &#8216;anhuma.<br />
Satu : Sifat mandi junub dalam hadits &#8216;Aisyah radhiyallahu &#8216;anha.</p>
<p>Lafazh hadits &#8216;Aisyah radhiyallahu &#8216;anha adalah sebagai berikut :</p>
<p>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ غَسَلَ يَدَيْهِ -وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ ثُمَّ يَفْرُغُ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ- ثُمَّ تَوَضَّأَ وُضُوْئَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ يُخَلِّلًُ بِيَدَيْهِ شَعْرَهُ حَتَى إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ</p>
<p>&#8220;Bahwasanya Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam kalau mandi dari janabah maka beliau memulai dengan mencuci kedua telapak tangannya -dalam riwayat Muslim, kemudian beliau menuangkan (air) dengan tangan kanannya keatas tangan kirinya lalu beliau mencuci kemaluannya- kemudian berwudhu sebagaimana wudhunya untuk sholat kemudian memasukkan jari-jarinya kedalam air kemudian menyela dasar-dasar rambutnya sampai beliau menyangka sampainya air kedasar rambutnya kemudian menyiram kepalanya dengan kedua tangannya sebanyak tiga kali kemudian beliau menyiram seluruh tubuhnya. (HR. Bukhary-Muslim).</p>
<p>Dalam hadits diatas tidak disebutkan pensyaratan niat, namun itu tidaklah berarti gugurnya pensyaratan niat tersebut karena telah dimaklumi dari dalil-dalil lain menunjukkan disyaratkannya niat itu dan telah kami sebutkan sebagaian darinya dalam pembahasan diatas.</p>
<p>Maka dari hadits &#8216;Aisyah diatas dapat disimpulkan sifat mandi junub sebagai berikut :</p>
<p>1.       Mencuci kedua telapak tangan.</p>
<p>Dan ada keterangan dalam saah satu riwayat Muslim dalam hadits &#8216;Aisyah ini bahwa telapak tangan dicuci sebelum dimasukkan ke dalam bejana.</p>
<p>2.      Menuangkan air dengan tangan kanannya keatas tangan kirinya lalu mencuci kemaluannya.</p>
<p>3.      Kemudian berwudhu dengan wudhu yang sempurna sebagaimana berwudhu untuk sholat.</p>
<p>4. Kemudian memasukkan kedua tangan kedalam bejana, kemudian menciduk air dari satu cidukan dengan kedua tangan tadi, kemudian menuangkan air tadi diatas kepala. Kemudian memasukkan jari-jari diantara bagian-bagian rambut dan menyela-nyelainya sampai ke dasar rambut di kepala.<br />
5.      Kemudian menyiram kepala tiga kali dengan tiga kali cidukan.</p>
<p>Dan diterangkankan dalam hadits &#8216;Aisyah riwayat Muslim :</p>
<p>كَانَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ دَعَا بِشَيْءٍ نَحْوَ الْحِلاَبِ فَأَخَذَ بِكَفِّهِ فَبَدَأَ بِشِقِّ رَأْسِهِ الْأَيْمَنِ ثُمَّ الْأَيْسَرِ فَقَالَ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ.</p>
<p>&#8220;Adalah Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam bila mandi dari junub, maka beliau meminta sesuatu (air) seperti Hilab (semacam kantong yang dipakai untuk menyimpan air susu yang diperah dari binatang), kemudian beliau mengambil air dengan telapak tangannya maka beliau memulai dengan bagian kepalanya sebelah kanan kemudian yang kiri, kemudian beliau (menuangkan air) dengan kedua tangannya diatas kepalanya&#8221;.</p>
<p>6.      Kemudian menyiram air kesemua bagian tubuh.</p>
<p>Beberapa Catatan<br />
µ      Hendaknya memulai dengan anggota-anggota badan bagian kanan</p>
<p>Dalil-dalilnya :</p>
<p>1. Hadits &#8216;Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Muslim :</p>
<p>كَانَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُوْرِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ</p>
<p>&#8220;Adalah Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam menyenangi yang kanan dalam bersendal (sepatu), bersisir, bersuci dan dalam seluruh perkaranya&#8221;.</p>
<p>2. Hadits &#8216;Aisyah juga yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary :</p>
<p>كَناَ إِذَا أَصَابَتْ إِحْدَانَا جَنَابَةُ أَخَذَتْ بِيَدَيْهَا ثَلاَثًا فَوْقَ رَأْسِهِ ثُمَّ تَأْخُذُ بِيَدَيْهَا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ وَبِيَدِهَا الْأُخْرَى عَلَى شِقِّهَا الْأَيْسَرِ</p>
<p>&#8220;Kami (istri-istri Nabi-Pent) jika salah seorang diantara kami junub, maka dia mengambil dengan kedua tangannya tiga kali diatas kepalanya kemudian mengambil dengan salah satu tangannya diatas bagian kepalanya yang kanan dan tangannya yang lainnya diatas bagian kepalanya yang kiri.&#8221;</p>
<p>(Lihat: Al-Mughny: 1/287, Al-Majmu&#8217;: 2/209, At-Tamhid: 2/275,dan lain-lainnya)</p>
<p>µ      Dalam riwayat Muslim ada tambahan dalam hadits &#8216;Aisyah dengan lafazh :</p>
<p>فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثًا</p>
<p>&#8220;Maka beliau mencuci kedua telapak tangannya tiga kali&#8221;.</p>
<p>Tambahan &#8220;tiga kali&#8221; dalam hadits diatas dikritik oleh Imam Abul Fadhl Ibnu &#8216;Ammar sehingga beliau menganggap bahwa tambahan tersebut ghairu mahfuzh (tidak terjaga) atau dengan kata lain sebagai tambahan yang lemah tidak bisa dipakai berhujjah. Dan kritikan tersebut dikuatkan pula oleh Ibnu Rajab rahimahullah.</p>
<p>Lihat : &#8216;Ilalul Ahadits Fii Kitab Ash-Shohih li Muslim bin Hajjaj hal. 69-72 karya Abul Fadhl Ibnu &#8216;Ammar dengan tahqiq Ali bin Hasan Al-Halaby dan Fathul Bary fii Syarah Shohih Al-Bukhary 1/234 karya Ibnu Rajab (cet. Dar Ibnul Jauzy)</p>
<p>µ      Ada tambahan lain dalam hadits &#8216;Aisyah juga riwayat Muslim, lafazhnya sebagai berikut :</p>
<p>ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ</p>
<p>&#8220;Kemudian beliau mencuci kedua kakinya&#8221;.</p>
<p>Tambahan diatas juga dilemahkan oleh Abul Fadhl Ibnu &#8216;Ammar dengan alasan bahwa Abu Mu&#8217;awiyah bersendirian dalam meriwayatkannya dari Hisyam. Sedangkan sedangkan murid-murid hisyam lainnya tidak yang meriwayatkannya, seperti Za`idah, Hammad bin zaid, Jarir, Waki&#8217;, &#8216;Ali bin Mushir dan lain-lainnya. Dan Imam Muslim sendiri telah memberikan isyarat bahwa tammbahan itu adalah lemah.</p>
<p>Lihat : &#8216;Ilalul Ahadits Fii Kitab Ash-Shohih li Muslim bin Hajjaj hal. 69-72 dengan tahqiq Ali bin Hasan Al-Halaby dan Fathul Bary fii Syarah Shohih Al-Bukhary 1/233-234 bersama ta&#8217;liq Thoriq bin &#8216;Iwadhullah.</p>
<p>Kesimpulan Cara Mandi Dalam Hadits &#8216;Aisyah</p>
<p>Mencuci kedua telapak tangan sebelum dimasukkan ke dalam bejana, kemudian menuangkan air dengan tangan kanan keatas tangan kiri lalu mencuci kemaluan, lalu berwudhu dengan wudhu yang sempurna sebagaimana berwudhu untuk sholat, kemudian memasukkan kedua tangan kedalam bejana, lalu menciduk air dari satu cidukan lalu menuangkan air tadi diatas kepala dan menyela-nyelai rambut sampai ke dasar kepala, kemudian menyiram air kesemua bagian tubuh.<br />
Dua : Sifat mandi junub dalam hadits Maimunah radhiyallahu &#8216;anha.</p>
<p>Adapun cara yang kedua :</p>
<p>Lafazh hadits Maimunah bintul Harits radhiyallahu &#8216;anha adalah sebagai berikut :</p>
<p>وَضَعْتُ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَضُوْءَ الْجَنَابَةِ فَأَكْفَأَ بِيَمِيْنِهِ عَلَى يَسَارِهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ فَرْجَهُ ثُمَّ ضَرَبَ يَدَهُ بِالأَرْضِ أَوِ الْحَائِطِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَذِرَاعَيْهِ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى رَأْسِهُ الْمَاءَ ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ ثُمَّ تَنَحَّى فَغَسَلَ رِجْلَيْهِ فَأَتَيْتُهُ بِخِرْقَةٍ فَلَمْ يُرِدْهَا فَجَعَلَ يَنْفُضُ الْمَاءَ بِيَدَيْهِ.</p>
<p>&#8220;Saya meletakkan untuk Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam air mandi janabah maka beliau menuangkan dengan tangan kanannya diatas tangan kirinya dua kali atau tiga kali kemudian mencuci kemaluannya kemudian menggosokkan tangannya di tanah atau tembok dua kali atau tiga kali kemudian berkumur-kumur dan istinsyaq (menghirup air) kemudian mencuci mukanya dan kedua tangannya sampai siku kemudian menyiram kepalanya kemudian menyiram seluruh tubuhnya kemudian mengambil posisi/tempat, bergeser lalu mencuci kedua kakinya kemudian saya memberikan padanya kain (semacam handuk-pent.) tetapi beliau tidak menginginkannya lalu beliau menyeka air dengan kedua tangannya. (HR. Bukhary-Muslim).</p>
<p>Dalam sifat mandi junub riwayat Maimunah diatas berbeda dengan sifat mandi junub dalan hadits &#8216;Aisyah pada beberapa perkara :</p>
<p>µ      Dalam hadits Maimunah ada tambahan menggosokkan tangan ke tanah atau tembok.</p>
<p>µ      Dalam hadits Maimunah tidak ada penyebutan menyela-nyelai rambut.</p>
<p>µ Dalam salah satu riwayat Bukhary-Muslim pada hadits Maimunah ada penyebutan bahwa kepala disiram tiga kali, namun tidak diterangkan cara menuangkan air diatas kepala sebagaimana dalam hadits &#8216;Aisyah.</p>
<p>µ Juga riwayat diatas menunjukkan bahwa tidak ada pengusapan kepala dalam hadits Maimunah. Yang ada hanyalah menyiram kepala tiga kali.</p>
<p>µ Dalam hadits Maimunah mencucikan kaki dijadikan pada akhir mandi sedangkan dalam hadits &#8216;Aisyah mencuci kaki ikut bersama dengan wadhu.</p>
<p>Catatan Penting</p>
<p>Syeikh Ibnu &#8216;Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa memang ada beberapa perbedaan antara hadits &#8216;Aisyah dan hadits Maimunah dan itu banyak terjadi dalam beberapa &#8216;ibadah yang dikerjakan oleh Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam. Yaitu beliau kerjakan &#8216;ibadah tersebut dengan bentuk yang berbeda-beda untuk menunjukkan kepada umat bahwa ada keluasan dalam bentuk-bentuk &#8216;ibadah tersebut. Sepanjang ada tuntunan dalam Syari&#8217;at yang menjelaskan bentuk-bentuk &#8216;ibadah tersebut maka boleh dikerjakan seluruhnya atau dikerjakan secara silih berganti. Demikian makna penuturan Syeikh Ibnu &#8216;Utsaimin dalam kitab beliau Tanbihil Afham bisyarhi &#8216;Umdatil &#8216;Ahkam 1/83.</p>
<p>Beberapa Masalah Yang Berkaitan Dengan Tata Cara Mandi Junub</p>
<p>1. Apakah disyariatkan menyela-nyelai jenggot</p>
<p>Para Fuqoha` menyebutkan perkara ini dalam tata cara mandi junub, seperti Imam An-Nawawy dalam Al-Majmu&#8217; 2/209 dan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 1/287. Berkata Imam Ibnu Abdil Bar (At-Tamhid 2/278) didalam hadits &#8216;Aisyah didapatkan apa yang menguatkan pendapat yang menyela-nyelai (jenggotnya-pent) karena ucapannya &#8216;Aisyah :</p>
<p>فَيَدْخُلُ أَصَابِعَهُ فِي الْمَاءِ فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُوْلَ الشَّعْرِ</p>
<p>&#8220;Maka Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam memasukkan jari-jarinya ke dalam air kemudian menyela-nyelai dengan jari-jarinya dasar-dasar rambut&#8221;</p>
<p>Menunjukkan umumnya rambut jenggot dan kepala walaupun yang paling nampak didalamnya adalah rambut kepalanya.</p>
<p>2. Tata cara mandi janabah ini juga berlaku bagi perempuan dan tidak ada perbedaan kecuali dalam hal membuka kepang rambutnya. Dan membuka kepang rambut bagi perempuan tidaklah wajib bila air dapat sampai ke pangkal rambut tanpa membuka kepangnya, sebagaimana dalam hadits Ummu Salamah radhiyallahu &#8216;anha :</p>
<p>إِنَّ امْرَأَةً قَالَتْ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أَشَدُّ ضَفْرِ رَأْسِيْ أَفَأَنْقُضُهُ لِلْجَنَابَةِ ؟ قَالَ : لاَ، إِنَّمَا يَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تُفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِيْنَ.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya ada seorang perempuan bertanya : wahai Rasulullah, sesungguhnya saya perempuan yang sangat keras kepang rambutku apakah saya harus membukanya untuk mandi janabah ? Rasulullah menjawab : Tidak, sesungguhnya cukup bagi kamu untuk menyela-nyelai kepalamu tiga kali kemudian menyiram air diatasnya, maka kamu sudah suci&#8221;. (HSR. Muslim )</p>
<p>عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ : بَلََغَ عَائِشَةَ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو يَأْمُرُ النِّسَاءَ إِذَا اغْتَسَلْنَ أَنْ يَنْقُضْنَ رُؤُوْسَهُنَّ فَقَالَتْ : يَا عَجَبًا لِاِبْنِ عَمْرٍو هَذَا ! يَأْمُرُ النِّسَاءَ إِذَا اغْتَسَلْنَ أَنْ يَنْقُضْنَ رُؤُوْسَهُنَّ !! أَفَلاَ يَأْمُرُهُنَّ أَنْ يَحْلِقْنَ رُؤُوْسَهُنَّ ؟ لَقَدْ كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَلَا أَزِيْدُ عَلَى أَنْ أَفْرُغَ عَلَى رَأْسِيْ ثَلاَثَ إِفْرَاغَاتٍ.</p>
<p>&#8220;Dari &#8216;Ubaid bin &#8216;Umair, beliau berkata : telah sampai kepada &#8216;Aisyah bahwasanya Abdullah ibnu &#8216;Amr memerintahkan para perempuan untuk membuka kepang rambut bila mandi janabah. Maka &#8216;Aisyah berkata : Alangkah mengherankan Ibnu &#8216;Amr ini, ia memerintahkan para perempuan untuk membuka kepang rambutnya, kenapa dia tidak memerintahkan mereka untuk menggundul rambutnya?. Sesungguhnya saya mandi bersama Rasulullah dari satu bejana dan tidaklah saya menambah dari menyiram kepalaku tiga kali siraman&#8221;. (HSR. Muslim )</p>
<p>Berkata Imam Al-Baghawy : Mengamalkan hal ini adalah pilihan semua Ahlul &#8216;Ilmi bahwasanya membuka kepang rambut tidak wajib pada mandi junub jika air bisa masuk ke pangkal rambutnya. (Syarh Sunnah 2/18)</p>
<p>3.     Adapun orang yang haid atau nifas, maka tata cara mandinya sama dengan mandi janabah kecuali dalam beberapa perkara :</p>
<p>a. Disunnahkan baginya untuk mengambil potongan kain, kapas atau yang sejenisnya kemudian diberi wangi-wangian/harum-haruman kemudian dioleskan/digosokkan pada tempat keluarnya darah (kemaluannya) untuk membersihkan dan mensucikan dari bau yang kurang sedap.</p>
<p>Hal ini didasarkan pada hadits &#8216;Aisyah :</p>
<p>أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ تَسْأَلُهُ عَنْ الْغُسْلِ مِنَ الْحَيْضِ فَقَالَ : خُذِيْ فِرْصَةً مِنْ مِسْكٍ فَتَطَهَّرِيْ بِهَا فَقَالَتْ : كَيْفَ أَتَطَهَّرُِ بِهَا فَقَالَ : تَطَهَّرِيْ بِهَا ؟ قَالَتْ : كَيْفَ ؟ قَالَ : سُبْحَانَ اللهُ تَطَهَّرِيْ. فَاجْتَذَبَتْهَا إِلَيَّ فَقُلْتُ : تَتَبَّعِيْ أَثَرَ الدَّمِ.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya ada seorang perempuan datang kepada Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam bertanya tentang mandi dari Haid. Maka Nabi menjawab ambillah secarik kain yang diberi wangi-wangian kemudian kamu bersuci dengannya. Dia bertanya lagi : Bagaimana saya bersuci dengannya?. Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam menjawab : Bersucilah dengannya . Dia bertanya lagi bagaimana?. Nabi Menjawab : Subhanallah, bersucilah dengannya. Kemudian akupun menarik perempuan itu ke arahku, kemudian saya berkata : Ikutilah (cucila) bekas-bekas darah (kemaluan)&#8221;. (HR. Bukhary-Muslim)</p>
<p>Dan ini dilakukan sesudah selesai mandi sebagaimana dalam hadits &#8216;Aisyah bahwasanya Asma` bintu Syakal bertanya kepada Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam tentang mandi Haid, maka Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam menjawab :</p>
<p>تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدْلِكُهُ دَلْكًا شَدِيْدًا حَتَى يَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا. فَقَالَتْ أَسْمَاءُ : وَكَيْفَ أَتَطَهَّرُ بِهَا ؟ فَقَالَ : سُبْحَانَ الله تَطَهَّرِيْنَ بِهَا. فَقَالَتْ عَائِشَةُ : كَأَنَّهَا تَخْفَى ذَلِكَ تَتَبَّعِيْنَ أَثَرَ الدَّمِ.</p>
<p>&#8220;Hendaklah salah seorang di antara kalian mengambil air dan daun bidara kemudian bersuci dengan sempurna kemudian menyiram kepalanya dan menyela-nyelanya dengan keras sampai ke dasar rambutnya kemudian menyiram kepalanya dengan air. Kemudian mengambil sepotong kain (atau yang semisalnya-pent.) yang telah diberi wangi-wangian kemudian dia bersuci dengannya. Kemudian Asma` bertanya lagi : &#8220;Bagaimana saya bersuci dengannya?&#8221;. Nabi menjawab : &#8220;Subhanallah, bersuci dengannya&#8221;. Kata &#8216;Aisyah : &#8220;Seakan-akan Asma` tidak paham dengan yang demikian, maka ikutilah (cucilah) bekas-bekas darah (kemaluan)&#8221;. (HSR. Muslim)</p>
<p>(Lihat Al-Majmu&#8217; 2/218, Al-Mughny 1/302, dll)<br />
b. Disunnahkan pula untuk mandi dengan air dan daun bidara sebagaimana hadist &#8216;Aisyah diatas.c. Disunnahkan bagi wanita untuk membuka kepang rambutnya, sebagaimana hadits &#8216;Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary : أُنْقُضِي رَأْسَكِ وَامْتَشِطِي وَامْسِكِي عَنْ عُمْرَتِكِ&#8221;Bukalah kepang rambutmu dan bersisirlah dan tahanlah &#8216;umrah kamu&#8221;. Sisi pendalilannya : walaupun &#8216;Aisyah disini mandi untuk tahlil (untuk haji) bukan mandi haid tetapi tahlul (untuk haji) disini mengharuskan dia untuk mandi karena mandi itu merupakan sunnah untuk ihram dan dari situlah datang perintah mandi secara jelas dalam kisah ini, sebagaimana diriwaatkan oleh Imam Muslim dari jalan Abi Azzubair dari Jabir</p>
<p>فَاغْتَسِلِي ثُمَّ أَهَلِّي بِالْحَجِّ</p>
<p>&#8220;Maka mandilah dan tahallullah untuk haji&#8221;<br />
Jadi kalau boleh baginya untuk bersisir dalam mandi ihram padahal hukum mandinya hanya sunnah, maka bolehnya untuk mandi haid yang hukumnya wajib adalah lebih utama.</p>
<p>Tetapi hukum membuka kepang rambut  disini hanya sunnah tidak sampai wajib karena hadits Ummu Salamah :</p>
<p>قَالَتْ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِي امْرَأَةٌ أَشَدُّ ضُفْرِ رَأْسِي أَفَاَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ ؟ قَالَ : لاَ وَفِي رِوَايَةٍ : لِلْحَيْضَةِ وَالْجَنَابَةِ</p>
<p>&#8220;Ummu Salamah bertanya : &#8220;Ya Rasulullah, saya adalah perempuan yang sangat kuat kepang rambutku. Apakah saya membukanya untuk mandi jenabah ?. Rasulullah menjawab : &#8220;Tidak&#8221;. Dan dalam salah satu riwayat : &#8220;Untuk mandi haid dan janabah&#8221;. (HSR. Muslim).</p>
<p>Dan Imam Bukhary membawakan bab  :   فقضى المرأة شعرها عند غسل المحيضWanita membuka kepang rambutnya ketika mandi dari haid.</p>
<p>Dan ini adalah pendapat  Jumhur Ulama. Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p>Periksa : Al-Majmu&#8217; 2/216, Al-Mughny 1/300, Fathul Bary 1/417 , dan Al-Muhalla 2/38</p>
<p>Kemudian dari sisi pandangan :</p>
<p>a. Ketika mandi janabah tidak perlu membuka kepang rambut sebagai kemudahan karena sering dilakukan, maka tentu memberatkan kalau harus dibuka. Berbeda dengan mandi haid karena hanya dilakukan sekali sebulan umumnya pada wanita normal.</p>
<p>b. Karena mandi janabah, rentang waktu antara junubnya dengan mandinya lebih pendek dari mandi haid, yang bisa menunggu sampai berhari-hari, maka untuk kesempurnaan mandinya dan kesegarannya maka disyari&#8217;atkan dibuka kepang rambutnya.Wallahu A&#8217;lam<br />
4. Tidaklah makruh mengeringkan badan dengan kain, handuk, tissu atau yang sejenisnya, karena tidak adanya dalil yang menunjukkan hal tersebut, dan asalnya adalah mubah.</p>
<p>Tapi tidaklah diragukan bahwa yang paling utama adalah membiarkannya tanpa dikeringkan berdasarkan hadits Ibnu &#8216;Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma riwayat Bukhary-Muslim :</p>
<p>أَعْتَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ بِالْعِشَاءِ فَخَرَجَ عَمَرُ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ رَقَدَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ. فَخَرَجَ وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ مَاءً يَقُوْلُ : لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِهَذِهِ الصَّلَاةِ فِيْ هَذِهِ السَّاعَةِ.</p>
<p>&#8220;Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam mengakhirkan sholat &#8216;Isya sampai mendekati pertengahan malam. Maka keluarlah &#8216;Umar lalu berkata : &#8220;Wahai Rasulullah, para perempuan dan anak kecil telah tidur&#8217;. Maka keluarlah beliau dan kepalanya masih meneteskan air seraya berkata : &#8220;Andaikata tidak memberatkan umatku atau manusia maka saya akan memerintahkan mereka untuk melakukan sholat (&#8216;Isya) pada waktu ini&#8221;.&#8221;.</p>
<p>Berkata Ibnul Mulaqqin dalam Al-I&#8217;lam 2/292 : &#8220;Dalam (hadits ini) menunjukkan tidak ber-tansyif (menyeka air dari anggota tubuh) karena andaikata beliau shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam ber- tansyif niscaya kepalanya tidak meneteskan air dan tidak seorangpun yang berpendapat bahwa ada perbedaan antara kepala dan badan dalam hal tansyif &#8220;.</p>
<p>Adapun lafadz yang dipakai sebagian ulama tentang makruhnya hal tersebut yaitu lafadz dalam hadits Maimunah :</p>
<p>فَأَتَيْتُهُ بِحِرْقَةٍ فَلَمْ يًُرِدْهَا</p>
<p>&#8220;Maka sayapun memberikan kepada beliau secarik kain maka beliau tidak menginginkannya&#8221;.</p>
<p>Maka dapat dijawab dari beberapa sisi  :</p>
<p>a. Sebagian rawi keliru dalam menetapkan lafadz ini dengan membacanya فَلَمْ يَرُدَّ هَا yang benarnya adalah فلم يُِردْهَا .</p>
<p>Kata Al-Hafidz Ibnu Hajar : Dengan di-dhomma awalnya dan dal-nya disukun dari الْإِرَادَةُ dan asalnya &#8221; يُرِيْدُهَا &#8221; tetapi di-jazm-kan dengan lam. Maka siapa yang membacanya di-fathah awalnya (ya`-nya) dan di-tasydid dal-nya maka dia merubah dan merusak maknanya. Dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Affan dari Abu &#8216;Awanah dengan sanad ini dan diakhirnya beliau berkata :</p>
<p>فَقَالَ : هَكَذَا وَأَشَارَ بِيَدِهِ أَنْ لاَ أُرِيْدُهَا.</p>
<p>&#8220;Dan dia berkata demikian dan memberikan isyarat dengan tangannya bahwasanya dia tidak menginginkannya&#8221;. (Lihat : Fathul Bary 1/376)</p>
<p>b. Ini kejadian tersendiri dan kenyatan tertentu yang tidak boleh diterapkan sebagai dalil secara umum. Apalagi memuat beberapa kemungkinan seperti kemungkinan kotor, basah, merasa cukup dan tidak perlu dan lain-lain. Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p>c. Maimunah yang memberikan kain kepada Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam menunjukkan bahwa kebiasaan beliau setelah mandi adalah menggunakan kain tapi dalam kesempatan ini saja beliau tidak memakainya. Dari keterangan ini, boleh jadi hadits ini bermakna sunnah sebagai kebalikan dari apa yang mereka pahami bahwa mamakai kain setelah mandi adalah makruh.</p>
<p>Dan ini adalah pendapat Hasan Al-Basri, Ibnu Sirin, Sufyan Ats-Tsauri, Ahmad, Malik, dan lain-lain. (Lihat : Syarh Sunnah : 2/15, Ihkamul Ahkam : 1/97, At-Tamhid : 2/276 dan Asy-Syarh Al-Mumti&#8217; : 1/253).</p>
<p>5. Sudah cukup mandi dari wudhu, maka barang siapa yang mandi dan tidak berwudhu. Maka sudah terangkat darinya dua hadats, yaitu hadats kecil dan besar dan boleh baginya untuk sholat sebagaimana firman Allah Ta&#8217;ala :</p>
<p>وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا</p>
<p>&#8220;Dan (jangan pula dekati sholat) sedangkan kalian dalam keadaan junub kecuali sekedar berlalu sampai kalian mandi&#8221;. (QS. An-Nisa` : 43).</p>
<p>Kata Ibnu Qudamah : dijadikan mandi itu sebagai puncak/tujuan dari larangan untuk sholat, maka jika dia telah mandi wajib maka tidak terlarang lagi baginya untuk sholat. Dan sesungguhnya keduanya yaitu mandi dan wudhu, dua ibadah yang sejenis, maka masuk yang kecil kedalam yang besar seperti umrah dalam haji (Lihat :Al-Mughny 1/289).</p>
<p>Kata Ibnu Abdil Bar : orang yang mandi dari janabah jika dia belum berwudhu dan menyiram seluruh badannya maka sungguh dia telah menunaikannya yang wajib baginya, karena sesungguhnya Allah Ta&#8217;ala hanya mewajibkan kepada yang junub mandi dari janabah tanpa wudhu dengan firmannya.</p>
<p>وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا</p>
<p>&#8220;Dan jika kalian  junub, maka bersucilah&#8221;. (QS. Al-Ma`idah : 6).</p>
<p>Dan itu adalah ijma&#8217; tidak ada khilaf di kalangan para ulama mereka juga sepakat tentang sunnahnya wudhu sebelum mandi mencontoh Rasulullah dan karena wudhu tersebut membantu mandi dan lebih membersihkan padanya. (Lihat : Al-Istidzkar 1/327-328 ).</p>
<p>Kata Imam Asy-Syafi&#8217;iy : Allah mewajibkan mandi secara mutlaq, tidak disebut didalamnya sesuatu yang dimulai dengannya sebelum sesuatu. Maka jika orang yang mandi itu telah mandi (junub-pent), itu sudah cukup baginya dan Allah lebih tahu tentang bagaimana yang Dia datangkan demikian pula tidak ada batasan tentang air pada mandi janabah kecuali agar mendatangkan dengan menyiram seluruh tubuhnya. (Lihat : Al-Umm 1/40, Al-Fath 1/360-361)</p>
<p>Kata Imam Al-Baghawy : Dan ini adalah pendapat kebanyakan para ulama dan diriwayatkan dari Salim bin Abdullah bin Umar bahwasanya Abdullah bin Umar mandi kemudian berwudhu, maka saya berkata padanya : wahai bapakku bukankah cukup bagimu mandi dari wudhu ? Ibnu Umar menjawab : iya, akan tetapi saya kadang-kadang memegang kemaluanku, maka saya berwudhu. Dikeluarkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwatho&#8217; 1/43 dan dishohihkan sanadnya oleh Al-Arna`uth dalam ta&#8217;liqnya pada Syarh Sunnah 2/13. (Lihat pula Majmu&#8217; Fatawa :21/396-397, 1/397, Al-Muhalla : 2/44).</p>
<p>6. Tidak disyaratkan berwudhu lagi sesudah mandi janabah, karena Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam langsung sholat sesudah mandi janabah tanpa berwudhu lagi, sebagaimana dalam hadits &#8216;Aisyah :</p>
<p>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَصَلاَةَ الْغَدَاةِ وَلاَ أَرَاهُ يُحْدِثُ وُضُوْءًا بَعْدَ الْغُسْلِ</p>
<p>&#8220;Adalah Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam mandi janabah dan sholat dua raka&#8217;at kemudian sholat shubuh dan saya tidak melihatnya berwudhu lagi setelah mandi&#8221;. (HR. Imam Abu Daud 1/172 no. 250).</p>
<p>Dan dari &#8216;Aisyah :</p>
<p>كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ لاَ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ وَزَادَ ابْنُ مَاجَه : مِنَ الْجَنَابَةِ</p>
<p>&#8220;Adalah Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam tidak berwudhu lagi sesudah mandi. Dan ditambahkan oleh Ibnu Majah : Dari mandi janabah&#8221;. (HR. At-Tirmidzy 1/179 no. 107 dan berkata : Hadits ini Hasan Shohih dan An-Nasa`i 1/137 no. 252 dan Ibnu Majah 1/191 no. 579 dan dishohihkan oleh Syeikh Muqbil dalam Al-Jami&#8217; Ash-Shohih 1/548).</p>
<p>Kata Imam An-Nawawy (Al-Majmu&#8217; 2/225) : Dan Ar-Rafi&#8217;i dan yang lainnya telah menukil kesepakatan bahwasanya tidak disyariatkan wudhu dan mudah-mudahan itu adalah ijma&#8217;.</p>
<p>Tapi perlu diingat bahwa tidak perlunya berwudhu setelah mandi, bila dia meniatkan wadhu bersama dengan mandi sebagaimana telah dimaklumi tentang wajibnya niat pada setiap &#8216;ibadah. Baca Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah 5/326.<br />
7. Disunnahkan untuk tidak kurang dari satu sho&#8217; (empat mudd).</p>
<p>Sebagaimana dalam hadits Safinah radhiyallahu &#8216;anhu :</p>
<p>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ وَيَتَطَهَّرُ بِالْمًدِّ</p>
<p>&#8220;Adalah Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam mandi dengan satu sho&#8217; dan berwudhu dengan satu mudd (ukuran dua telapak tangan normal). (HSR. Muslim).</p>
<p>Dan dalam hadits Anas :</p>
<p>بِالصَّاِع إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ</p>
<p>&#8220;Dengan satu sho&#8217; sampai lima mudd&#8221;. (HR. Bukhary-Muslim).</p>
<p>Dan juga diriwayatkan dalam Shohih Al-Bukhary dari hadits Jabir dan &#8216;Aisyah.<br />
8.  Dan boleh kurang dari satu sho&#8217;.</p>
<p>Hal ini juga ditunjukkan oleh banyak hadits diantaranya :</p>
<p>a. Hadits &#8216;Aisyah</p>
<p>كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ يَسَعُ ثَلاَثَةَ أَمْدَادٍ وَقَرِيْباً مِنْ ذَلِكَ</p>
<p>&#8220;Saya mandi bersama Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam dari satu bejana memuat tiga mudd atau sekitar itu&#8221;. (HR. Muslim).</p>
<p>b. Hadits &#8216;Aisyah yang lain :</p>
<p>كُنْتُ أًغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ تَخْتَلِفُ أَيْدِيْنَا فِيْهِ مِنَ الْجَنَابَةِ</p>
<p>&#8220;Saya mandi janabah bersama Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam dari satu bejana dan tangan kami berebutan didalamnya&#8221;. (HR. Bukhary-Muslim).</p>
<p>c. Hadits Ibnu Abbas :</p>
<p>أَنَّ النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَمَيْمُوْنَةَ كَانَا يَغْسِلاَنِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam dan Maimunah keduanya mandi dari satu bejana&#8221;. (HR. Bukhary-Muslim).</p>
<p>9. Tidak boleh dan tercelanya berlebih-lebihan (boros) dalam menggunakan air dalam wudhu dan mandi junub.</p>
<p>Hal ini dtunjukkan oleh hadits Abdullah bin Mughoffal dengan sanad yang shohih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>إِنَّهُ سَيَكُوْنُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُوْنَ فِي الطََّهُوْرِ وَالدُّعَاءِ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya akan ada pada ummat ini suatu kaum yang berlebih-lebihan dalam bersuci dan berdo&#8217;a&#8221;.</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam wa Ahkam.</p>
<p>[1] Ini adalah kinayah dari melakukan hubungan suami-istri.</p>
<p>[2] Pada sebagian riwayat ada lafazh perintah tapi ada kelemahan dari sisi sanadnya.</p>
<p>http://www.an-nashihah.com/?page=artikel-detail&amp;topik=&amp;artikel=6</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/byonspot.wordpress.com/97/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/byonspot.wordpress.com/97/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/byonspot.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/byonspot.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/byonspot.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/byonspot.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/byonspot.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/byonspot.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/byonspot.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/byonspot.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/byonspot.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/byonspot.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/byonspot.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/byonspot.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/byonspot.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/byonspot.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=97&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/mandi-janabah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e08ce7fed8a6a0a72739bd469899b2c8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abunadiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAB Tentang Hukum-Hukum Wudhu</title>
		<link>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/bab-tentang-hukum-hukum-wudhu/</link>
		<comments>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/bab-tentang-hukum-hukum-wudhu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 11:38:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abunadiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://byonspot.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[BAB Tentang Hukum-Hukum Wudhu Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ Artinya : &#8220;Hai orang-orang yang beriman , apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=94&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BAB Tentang Hukum-Hukum Wudhu</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ</p>
<p>Artinya :<br />
&#8220;Hai orang-orang yang beriman , apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki&#8230;&#8221;(Q.S Al-Maidah:6)</p>
<p>Ayat yang mulia ini mewajibkan wudhu untuk shalat, menjelaskan anggota yang wajib dibasuh dan diusap didalam berwudhu, dan memberi pembatasan tempat-tempat anggota wudhu. Kemudian Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam menjelaskan cara dan sifat berwuhu melalui ucapan dan perbuatan beliau dengan penjelasan yang cukup.</p>
<p>Ketahuilah wahai muslim, bahwa wudhu mempunyai syarat-syarat, fardhu-fardhu dan sunnah-sunnah.</p>
<p>Syarat-syarat dan fardhu-fardhu harus dikerjakan menurut kemampuan; agar wudhunya sah.</p>
<p>Adapun sunnah-sunnah;maka merupakan penyempurna wudhu. Didalamnya terdapat tambahan pahala . Dan meninggalkannya tidak menghalangi sahnya wudhu.</p>
<p>#Syarat-syarat wudhu ada delapan :</p>
<p>(1 &#8211; 4) Islam, berakal, tamyiz dan niat; maka wudhu tidak sah apabila dilakukan oleh orang kafir, orang gila, anak kecil yang belum mumayyiz dan oleh orang yang tidak berniat untuk berwudhu; seperti berwudhu untuk mendinginkan anggota badan atau membasuh anggota wudhu untuk menghilangkan najis atau kotoran.</p>
<p>(5) Wudhu disyaratkan juga menggunakan air yang suci sebagaimana yang telah lewat. Apabila air tersebut najis, maka tidak memenuhi syarat.</p>
<p>(6) Wudhu disyaratkan juga menggunakan air yang mubah (boleh untuk dipergunakan). Apabila air tersebut adalah hasil rampasan atau memperolehnya dengan cara yang tidak syar&#8217;I, maka tidak sah wudhunya menggunakan air tersebut.</p>
<p>(7) Demikian juga wudhu disyaratkan untuk didahului dengan istinja&#8217; dan istijmar sebagaimana yang telah lewat perinciannya.</p>
<p>(8) Wudhu disyaratkan juga untuk menghilangkan hal-hal yang menghalangi sampainya air kekulit. Maka orang yang berwudhu harus menghilangkan apa yang ada pada anggota wudhu, seperti: tanah, pasta, lilin, kotoran yang menumpuk atau cat yang tebal; agar air bisa mengalir mengenai kulit anggota wudhu secara langsung tanpa adanya penghalang.</p>
<p># Adapun fardhu-fardhunya wudhu yaitu anggota-anggotanya ada enam :</p>
<p>Pertama : Membasuh wajah dengan sempurna, termasuk diantaranya adalah berkumur dan istinsyaq (menghirup air kehidung).</p>
<p>Barangsiapa membasuh wajahnya tanpa berkumur atau beristinsyaq atau salahsatunya, maka wudhunya tidak sah.<br />
Karena mulut dan hidung termasuk bagian dari wajah.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman :</p>
<p>فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ</p>
<p>Artinya : &#8220;Maka basuhlah mukamu.&#8221; (Al-Maidah-6)</p>
<p>Allah memerintahkan untuk membasuh seluruh wajah. Maka barang siapa meninggalkan sedikit saja dari wajah, berarti dia tidak menunaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Dan Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam juga berkumur dan berintisyaq.</p>
<p>Kedua : Membasuh kedua tangan hingga dua siku-siku; berdasar firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala :</p>
<p>وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ</p>
<p>Artinya : &#8221; Dan tanganmu sampai dengan siku.&#8221; (Al-Maidah &#8211; 6)</p>
<p>Artinya : Beserta siku-siku. Dikarenakan Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam membasuhkan air dengan memutar pada kedua siku-siku beliau (Dikeluarkan dari hadits Jabir oleh : Daruquthni (268)[1/86]; dan Al-Baihaqi (256)[1/93]</p>
<p>Dan didalam hadits lainnya:<br />
(Yang) Artinya : &#8220;Beliau membasuh kedua tangan hingga lengan beliau.&#8221; (Dikeluarkan dari hadits Nuaim bin Al-Mujammir (578)[21/158])<br />
Hadits ini termasuk yang menunjukkan bahwa kedua siku-siku termasuk didalam anggota yang harus dibasuh.</p>
<p>Ketiga : Mengusap seluruh kepala, termasuk dari kepala adalah dua telinga; berdasar firman Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala,</p>
<p>وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ</p>
<p>Artinya : &#8220;Dan sapulah kepalamu.&#8221; (Al-Maidah-6)</p>
<p>Dan Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda;<br />
Artinya ; &#8221; Dua telinga termasuk kepala.&#8221;<br />
(Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ad-Daruqhutni dan lainnya) (Dikeluarkan oleh Abu Dawud (134)[1/72]; Tirmidzi (37)[1/53]; Ibnu Majah (444)[262] dan Ad Daruqutni (353)[1/108]<br />
Maka tidak cukup dengan hanya mengusap sebagian kepala.</p>
<p>Keempat : Membasuh Kedua Kaki  beserta kedua mata kaki  berdasar firman Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala;</p>
<p>وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ</p>
<p>Artinya : &#8221; Dan (basuh) kakimu sampai kedua mata kaki.&#8221; (Al-Maidah-6)</p>
<p>Kata إِلَى sampai dengan &#8220;bermakna: beserta&#8221; hal itu berdasar hadits -hadits yang menerangkan tentang sifat wudhu. Hadits-hadits tersebut menjelaskan tentang masuknya dua mata kaki pada anggota yang dibasuh.</p>
<p>Kelima : Tertib, yaitu pertama-tama membasuh muka, kemudian kedua tangan, kemudian mengusap kepala, kemudian membasuh kaki.<br />
Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala,</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ</p>
<p>Artinya :<br />
&#8220;Hai orang-orang yang beriman , apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki&#8230;&#8221;(Q.S Al-Maidah:6)</p>
<p>Dan Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam mengurutkan wudhu beliau sebagaimana cara ini dan beliau bersabda :</p>
<p>(Yang) Artinya : &#8221; Ini adalah wudhu yang Allah tidak akan menerima shalat kecuali dengannya.&#8221; (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan lainnya) (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dari hadits Ibnu Umar (419)[1/250];Abu Ya&#8217;la didalam Al Musnad nomor (5598); dan Ad Daruqutni (257)[1/83]</p>
<p>Keenam : Terus menerus ; yaitu membasuh anggota-anggota tersebut secara terus-menerus artinya tidak ada yang memisahkan antara membasuh satu anggota dengan satu anggota sebelumnya. Bahkan berkesinambungan dalam membasuh anggota-anggota dari pertama dan seterusnya menurut kemampuan.</p>
<p>Inilah fardhu-fardhunya wudhu yang harus dikerjakan sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Allah di dalam kitab-Nya.<br />
Para ulama telah berselisih tentang hukum mengucapkan basmalah di awal wudhu. Apakah wajib atau sunnah?<br />
Basmalah menurut semua ulama adalah disyariatkan; tidak sepantasnya untuk ditinggalkan. Caranya adalah mengucapkan. بِسْمِ اللَّهِ<br />
dan apabila rnenambah dengan ucapan:<br />
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ<br />
maka tidak apa-apa.</p>
<p>Hikmahnya -Wallahu a&#8217;lam- di dalam mendahulukan keempat anggota ini di dalam berwudhu adalah karena keempatnya merupakan¬<br />
anggota badan yang paling cepat di dalam berbuat dosa. Maka didalam membersihkan bagian luarnya terdapat peringatan untuk membersihkan bagian dalamnya.</p>
<p>Dan Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam telah memberitakan bahwa seorang muslim apabila membasuh salah satu anggota dari anggota-anggota tersebut, akan dihapus setiap kesalahan yang menimpanya karena perbuatan anggota<br />
tersebut. Dan akan keluar kesalahan-kesalahan tersebut bersama air atau bersama tetes air yang terakhir.</p>
<p>Kemudian beliau Shalallahu ‘alahi wa sallam memberikan himbingan setelah membasuh anggota-anggota ini untuk memperbaharui iman dengan mengucap¬kan dua kalimat syahadat sebagai isyarat untuk menggabungkan diantara dua thaharah; yaitu hissiyyah (lahir) dan ma&#8217;nawiyyah (batin).</p>
<p>Thaharah hissiyyah adalah dengan menggunakan air sebagai mana cara yang telah dijelaskan oleh Allah di dalam kitab-Nva tentang membasuh anggota-anggota ini.</p>
<p>Dan thaharah ma&#8217;nawiyyah adalah dengan mengucapkan dua kalimat syahadat yang membersihkan dari kesyirikan.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah berfirman di akhir  ayat wudhu,</p>
<p>مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</p>
<p>Artinya : &#8221; Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni&#8217;mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur (Al-maidah-6)</p>
<p>Demikian inilah wahai Muslim, Allah mensyari&#8217;atkan wudhu kepada anda; untuk membersihkan kesalahan dan menyempurnakan ni&#8217;mat-Nya atas diri Anda.</p>
<p>Renungkanlah pembuka ayat wudhu dengan menggunakan seruan yang mulia ini,</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا</p>
<p>Artinya : &#8220;Wahai orang-orang yang beriman.&#8221;</p>
<p>Allah mengarahkan pembicaraan kepada orang yang disifati dengan keimanan; karena dialah yang mau mendengarkan perintah¬-perintah Allah dan mengambil manfaat dari padanya. Karena inilah Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :</p>
<p>Artinya : &#8220;Dan tidaklah menjaga wudhu kecuali orang yang beriman. (Dikeluarkan dari hadits Tsauban oleh: Ahmad (22429) [5/355]; Ibnu Majah (278) [1/178] dan dikeluarkan pula oleh imam yang lainnya dari shahabat lain.)</p>
<p>Adapun selebihnya dari apa yang telah disebutkan tentang sifat wudhu adalah mustahabb; barangsiapa mengerjakannya akan tambahan pahala dan barangsiapa meninggalkan¬nya, maka tidak berdosa. Karena itulah para fuqaha menamakan amalan-amalan tersebut dengan sunnah-sunnahnya wudhu atau hal-hal yang dianjurkan untuk dikerjakan ketika berwudhu.</p>
<p>Sunnah-sunnahnya wudhu adalah:</p>
<p>Pertama : Bersiwak, dan telah lewat penjelasan tentang keutamaan dan cara bersiwak. Tempatnya adalah ketika berkumur; supaya diperoleh dengan bersiwak dan berkumur-kumur tersebut bersihnya mulut untuk menghadapi ibadah dan mempersiapkan diri untuk membaca Al-Qur&#8217;an dan berdo&#8217;a kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p>Kedua : Membasuh kedua telapak tangan di awal wudhu tiga kali sebelum membasuh wajah; karena adanya. hadits-hadits tentang masalah tersebut. Dan juga karena telapak tangan adalah alat untuk memindahkan air ke anggota-anggota wudhu, maka di dalam membasuh keduanya terdapat kehati-hatian untuk seluruh wudhu.</p>
<p>Ketiga: Memulai dengan berkumur dan beristinsyaq sebelum membasuh wajah; karena adanya hadits-hadits untuk memulai dengan keduanya. Dan supaya bersungguh-sungguh di dalamnva apabila tidak sedang berpuasa.<br />
Makna bersungguh-sungguh di dalam berkumur-kumur adalah: mengelilingkan air pada seluruh mulutnya. Dan makna bersungguh-sungguh di dalam beristinsyaq adalah: menghirup air hingga pangkal hidung.</p>
<p>Keempat : Di antara sunnah-sunnahnya wudhu adalah menyela-¬nyelai janggut (jenggot) yang tebal dengan air sehingga<br />
sampai ke bagian dalam dan menyela-nyelai jari-jemari kedua kaki dan kedua tangan.</p>
<p>Kelima: Mendahulukan anggota yang kanan, yaitu memulai bagian kanan dari kedua tangan dan kaki sebelum bagian kiri.</p>
<p>Keenam: Menambah dari satu basuhan menjadi tiga basuhan ketika membasuh wajah, dua tangan dan dua kaki.</p>
<p>Inilah syarat-syarat, fardhu-fardhu dan sunnah-sunnahnya Wudhu. Merupakan suatu keharusan bagi Anda untuk mempelajarinya dan bersungguh-sungguh untuk menerapkannya pada setiap wudhu. Agar wudhu Anda menjadi sempurna sesuai cara yang disyari&#8217;atkan supaya mendapatkan pahala.</p>
<p>Kita memohon kepada Allah untuk kami dan Anda tambahan ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih.</p>
<p>Dikutip dari Buku &#8220;Ringkasan  Fiqih Islami&#8221; Terbitan Pustaka Salafiyyah</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/byonspot.wordpress.com/94/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/byonspot.wordpress.com/94/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/byonspot.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/byonspot.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/byonspot.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/byonspot.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/byonspot.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/byonspot.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/byonspot.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/byonspot.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/byonspot.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/byonspot.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/byonspot.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/byonspot.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/byonspot.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/byonspot.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=94&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/bab-tentang-hukum-hukum-wudhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e08ce7fed8a6a0a72739bd469899b2c8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abunadiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LUTUT / TANGANKAH YANG LEBIH DULU MENYENTUH BUMI KETIKA SUJUD</title>
		<link>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/lutut-tangankah-yang-lebih-dulu-menyentuh-bumi-ketika-sujud/</link>
		<comments>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/lutut-tangankah-yang-lebih-dulu-menyentuh-bumi-ketika-sujud/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 11:33:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abunadiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://byonspot.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Dalam praktek shalat, sebagian kaum muslimin ada yang meletakkan tangan dahulu sebelum lutut pada saat akan sujud dan ada yang sebaliknya lutut dahulu kemudian tangan. Jelaskan mana yang benar dalam masalah ini !. Sebelum menguraikan perbedaan pendapat para ulama dan dalil setiap pendapat dalam masalah ini, terlebih dahulu kami akan detailkan letak perbedaan pendapat para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=90&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam praktek shalat, sebagian kaum muslimin ada yang meletakkan tangan dahulu sebelum lutut pada saat akan sujud dan ada yang sebaliknya lutut dahulu kemudian tangan. Jelaskan mana yang benar dalam masalah ini !.</p>
<p>Sebelum menguraikan perbedaan pendapat para ulama dan dalil setiap pendapat dalam masalah ini, terlebih dahulu kami akan detailkan letak perbedaan pendapat para ulama tersebut guna memahami masalah ini dengan baik dan benar.</p>
<p>Mendetailkan letak perbedaan pendapat termasuk perkara yang penting. Dan menelantarkan hal tersebut akan menimbulkan beberapa dampak yang negatif, diantaranya :</p>
<p>µ      Penggambaran masalah tidak di atas hakikat sebenarnya.</p>
<p>µ      Timbulnya ketimpangan dalam penerapan masalah.</p>
<p>µ      Lahirnya masalah-masalah lain yang membuat permasalahan tersebut semakin rumit dan bertele-tele.</p>
<p>µ Bisa mengantar ke jalur berlebihan dalam masalah agama, padahal sikap berlebihan tersebut merupakan perkara yang tercela dalam syari&#8217;at Islam yang penuh dengan kemudahan ini.</p>
<p>Letak Perbedaan Pendapat Dalam Masalah</p>
<p>Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu&#8217; Al-Fatawa 22\449 : &#8220;Adapun sholat dengan keduanya (yaitu dengan meletakkan lutut sebelum tangan atau meletakkan tangan sebelum lutut-pent.) adalah boleh menurut kesepakatan para &#8216;ulama. Bila orang yang sholat menginginkan, (boleh) ia meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan bila ia menginginkan, (boleh) ia meletakkan kedua tangannya kemudian kedua lututnya dan sholatnya shohihah (sah/benar) pada dua keadaan (tersebut) menurut kesepakatan para &#8216;ulama. Tapi (para &#8216;ulama) berselisih tentang (mana) yang lebih afdhol&#8221;.</p>
<p>Dari uraian Ibnu Taimiyah di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :</p>
<p>µ Para ulama sepakat bahwa siapa yang sholat, baik ia meletakkan tangan dahulu kemudian lutut ketika akan sujud atau ia mendahulukan lutut lalu tangannya, maka shalatnya adalah sah dan benar.</p>
<p>µ Para ulama sepakat bahwa meletakkan tangan dahulu kemudian lutut atau sebaliknya, keduanya adalah perkara yang boleh dilakukan dalam shalat.</p>
<p>µ Letak perbedaan pendapat para ulama hanyalah pada yang mana lebih afdhol (utama) antara meletakkan tangan dahulu lalu lutut dan mendahulukan lutut kemudian tangan.</p>
<p>Uraian Pendapat Para Ulama</p>
<p>Tentang mana lebih afdhol antara meletakkan tangan dahulu lalu lutut atau mendahulukan lutut kemudian tangan, ada tiga pendapat dikalangan para &#8216;ulama :</p>
<p>Pendapat pertama : Tangan dahulu kemudian lutut. Ini pendapat Imam Al-Auza&#8217;iy dan salah satu riwayat dari Imam Malik dan Imam Ahmad. Bahkan Ibnu Hazm berlebihan dalam menguatkan pendapat ini sehingga beliau menganggap bahwa meletakkan tangan sebelum lutut adalah perkara yang wajib.</p>
<p>Pendapat kedua : Lutut dahulu kemudian tangan. Ini pendapat Muslim bin Yasar, An-Nakh&#8217;iy, Sufyan Ats-Tsaury, Abu Hanifah dan dua muridnya Muhammad dan Abu Yusuf, Asy-Syafi&#8217;iy, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan Ibnul Mundzir. Pendapat ini juga dihikayatkan dari &#8216;Umar bin Khaththab dan anaknya &#8216;Abdullah radhiyallahu &#8216;anhuma. At-Tirmidzy dan Al-Khaththaby mengatakan bahwa ini adalah pendapat kebanyakan para &#8216;ulama.</p>
<p>Pendapat ketiga : Boleh tangan dahulu kemudian lutut dan boleh lutut dahulu kemudian tangan. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Malik dan Ahmad.</p>
<p>Baca : Al-Mughny 2/193, Al-Inshof 1/65, Al-Majmu&#8217; 3/395, Syarah Ma&#8217;any Al-Astar 1/254-256, Al-Muhalla 4/128, Al-Fatawa 22/449 dan Fathul Bary 2/291.</p>
<p>Dalil-dalil setiap pendapat dan pembahasannya</p>
<p>Dalil-dalil Pendapat Pertama<br />
Ada dua hadits yang dijadikan dalil oleh orang menganut pendapat pertama ini :</p>
<p>Hadits pertama : Hadits Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>إِذَا سَجَدَ أَحُدُكُمْ فَلاَ يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيْرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ</p>
<p>&#8220;Apabila salah seorang dari kalian (hendak) sujud maka janganlah ia turun bersimpuh sebagaimana turun bersimpuhnya onta tapi hendaknya ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya&#8221;. Dikeluarkan oleh Ahmad 2/381, Al-Bukhary dalam At-Tarikh Al-Kabir 1/1/139, Abu Daud no 840, An-Nasa`i 2/207 dan dalam Al-Kubra no. 678, Ath-Thahawy dalam Syarah Ma&#8217;any Al-Atsar 1/254, Ad-Daruquthny 1/344-345, Al-Baihaqy 2/99-100, Al-Hazimy dalam Al-I&#8217;tibar Fii An-Nasikh Wal Mansukh minal Atsar hal. 59-60, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.520-522, Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 4/128-129 dan Al-Baghawy dalam Syarah As-Sunnah 3/134-135 semuanya dari jalan Abdul &#8216;Aziz bin Muhammad Ad-Darawardy dari Muhammad bin Hasan dari Abu Zinad dari Al-A&#8217;raj dari Abu Hurairah.</p>
<p>Dan Hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu Daud no 841, At-Tirmidzy no 628, An-Nasa`i 2/207 dan dalam Al-Kubra no 677 dan Al-Baihaqy 2/100 semuanya dari jalan Abdullah bin Nafi&#8217; dari Muhammad bin &#8216;Abdillah bin Hasan dari Abuz Zinad dari Al-A&#8217;raj dari Abu Hurairah dari Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam dengan lafazh :</p>
<p>يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ فَيَبْرُكُ فِيْ صَلاَتِهِ كَمَا يَبْرُكُ الْجَمَلُ</p>
<p>&#8220;Apakah salah seorang dari kalian sengaja turun bersimpuh dalam sholatnya sebagaimana onta turun bersimpuh kebumi ?!&#8221;</p>
<p>Pembahasan</p>
<p>Dari keterangan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah dalam Zadul Ma&#8217;ad 1/225-231 dan dalam Tahdzib As-Sunan 3/399-400 terkumpul sepuluh sisi kelemahan hadits Abu Hurairah ini dari segi matan maupun sanad. Tentu saja seluruh keterangan dari Ibnul Qoyyim tersebut tidak bisa diterima secara mutlak karena banyak dari keterangan beliau tidak dibangun diatas dasar yang kuat. Tapi secara global, pelemahan beliau terhadap hadits Abu Hurairah ini sangat kuat dan sangat beralasan serta sejalan dengan kaidah para &#8216;ulama Ahli Hadits.</p>
<p>Penjelasannya sebagai berikut :</p>
<p>Ibnul Qoyyim menyebutkan bahwa hadits ini telah dicacatkan oleh tiga ulama besar pakar Ilalul hadits (cacat-cacat hadits) yaitu Imam Al-Bukhary, Imam At-Tirmidzy dan Imam Ad-Daruquthny.</p>
<p>Berkata Imam Al-Bukhary : &#8220;Muhammad bin Abdillah bin Hasan laa yutaba&#8217;u &#8216;alaihi (tidak ada mutaba&#8217;ah-nya/pendukung baginya)&#8221;. Dan beliau juga berkata : &#8220;Saya tidak tahu apakah ia (Muhammad bin Abdillah) mendengar dari Abuz-Zinad atau tidak&#8221;. Lihat At-Tarikh Al-Kabir 1/1/139.</p>
<p>Berkata Imam At-Tirmidzy : &#8220;Gharib kami tidak mengetahuinya dari hadits Abuz Zinad kecuali dari jalan ini (yaitu dari jalan Muhammad bin Abdillah-pent)&#8221;.</p>
<p>Berkata Ad-Daruquthny : &#8220;Abdul &#8216;Aziz Ad-Darawardy bersendirian dengannya dari Muhammad bin Abdillah bin Hasan Al-&#8217;Alawy dari Abuz Zinad&#8221;.</p>
<p>Dan berkata Imam Al-Baihaqy dalam Sunannya 2/100 : &#8220;Bersendirian dengannya Muhammad bin &#8216;Abdillah bin Hasan&#8221;.</p>
<p>Pelemahan hadits Abu Hurairah dan perkataan Imam At-Timidzy sangatlah jelas karena dua perkara .</p>
<p>Satu : Kalimat &#8220;Gharib&#8221; dalam penggunaan Imam At-Tirmidzy adalah bermakna lemah.</p>
<p>Dua : Perkataan beliau : &#8220;kami tidak mengetahuinya dari hadits Abu-Zinad kecuali dari jalan ini&#8221; merupakan alasan pelemahan beliau, karena para ulama Ahli Hadits sering melemahkan riwayat seorang rawi bila :</p>
<p>µ      Ia bersendirian dalam suatu hadits atau potongan hadits dari seorang rawi yang mempunyai murid yang sangat banyak.</p>
<p>µ      Hadits yang ia riwayatkan merupakan tumpuan/patokan dalam suatu masalah.</p>
<p>Dan ternyata Abuz Zinad Abdullah bin Dzakwan adalah rawi yang mempunyai banyak murid. Dan tidak seorangpun dari murid beliau yang meriwayatkan hadits ini, seperti Imam Malik, Al-Laits bin Sa&#8217;ad, Sufyan Ats-Tsaury, Ibnu &#8216;Uyainah, Al-A&#8217;masy, Syu&#8217;aib bin Abi Hamzah, &#8216;Ubaidillah bin &#8216;Umar Al-&#8217;Umary dan lain-lainnya. Maka tentunya sangatlah aneh kalau Muhammad bin &#8216;Abdillah bin Hasan bersendirian meriwayatkan hadits ini dari Abuz Zinad sedangkan murid-murid seniornya yang jauh lebih kuat dari Muhammad bin &#8216;Abdillah tidak meriwayatkannya. Ini makna pelemahan Imam At-Tirmidzy disini dan serupa dengan perkataan Ad-Daruquthny dan Al-Baihaqy di atas.<br />
Kalau ada yang bertanya : &#8220;Bukankah Muhammad bin &#8216;Abdillah bin Hasan adalah rawi tsiqoh (terpercaya), maka tidak apa-apa kalau ia bersendirian dalam meriwayatkan hadits ini&#8221;.</p>
<p>Maka jawabannya adalah tidak semua tafarrud (bersendiriannya) seorang rawi di terima bahkan kadang-kadang ia tertolak dan tidak diterima dalam beberapa keadaan yang dikenal di kalangan para ulama ahli &#8216;ilalul hadits. Dan tafarrud Muhammad bin &#8216;Abdillah bin Hasan di sini termasuk dari tafarrud yang tidak bisa diterima sebagaimana dalam uraian diatas.</p>
<p>Dan untuk kejelasan bahwa tidak semua tafarrud diterima, perhatikan kaidah yang disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Al-&#8217;Ilal jilid 1 hal. 463-464 no. 1392 berikut ini :</p>
<p>&#8220;Dikatakan kepada ayahku (Imam Abu Hatim pakar &#8216;ilalul hadits di zamannya-pent.) :</p>
<p>&#8220;Apakah hadits Abu Hurairah dari Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam tentang sumpah bersama saksi, shohih ?&#8221;, maka beliaupun diam sejenak kemudian berkata :</p>
<p>&#8220;Apakah kamu tidak melihat kepada perkataan Ad-Darawardy ?, -yaitu perkataan dia :</p>
<p>&#8220;Saya menyebutkan hadits ini kepada Suhail dan dia tidak mengenalnya&#8221;.- Maka saya berkata :</p>
<p>&#8220;Lupanya Suhail tidaklah menolaknya (hadits ini -pent.) karena Robi&#8217;ah menghikayatkannya darinya (Suhail) dan Robi&#8217;ah tsiqoh (terpercaya) dan seseorang kadang menceritakan hadits kemudian dia lupa&#8221;. Maka (Abu Hatim) berkata : &#8220;Betul, memang demikian, akan tetapi kami tidak melihat ada mutabi&#8217; (penguat) terhadap riwayatnya dan telah meriwayatkan dari Suhail jama&#8217;ah yang sangat banyak (tapi) hadits ini tidak ada pada seorangpun diantara dari mereka&#8221;. Saya berkata : &#8220;(Bukankah) dia berpendapat akan diterimanya khabar (hadits) dari satu orang&#8221;. Beliau berkata : &#8220;Benar, akan tetapi saya tidak mengetahui ada patokon yang bisa saya anggap bagi hadits ini dari Abu Hurairah, dan ini adalah patokan dari patokan-patokon yang tidak ada mutaba&#8217;ah bagi Robi&#8217;ah di atasnya&#8221;.</p>
<p>Adapun perkataan Imam Al-Bukhary : &#8220;Laa yutaba&#8217;u &#8216;alaihi&#8221;, ini adalah isyarat akan lemahnya riwayat Muhammad bin &#8216;Abdillah. Dan juga perkataan beliau &#8220;Saya tidak tahu apakah ia (Muhammad bin Abdillah) mendengar dari Abuz-Zinad atau tidak&#8221; adalah suatu pensifatan yang menunjukkan sebab pelemahan tersebut walaupun bukan bentuk pelemahan secara mutlak tapi Syeikh &#8216;Abdurrahman bin Yahya Al-Mu&#8217;allimy rahimahullah dalam Muqaddimah Al-Fawa`id Al-Majmu&#8217;ah dalam kaidah yang keempat menyebutkan bahwa kadang seorang Imam menganggap mungkar suatu hadits yang zhohir sanadnya shohih walaupun kadang tidak ditemukan didalamnya &#8216;Illat yang tercela maka mereka mencacatkannya dengan &#8216;Illat yang tidak tercela. Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p>Sebagai kesimpulan bahwa hadits ini lemah karena dilemahkan oleh Imam Al-Bukhary, Imam At-Tirmidzy, Ad-Daruquthny dan Ibnul Qoyyim dan pelemahan ini juga dikuatkan oleh Syeikh Al-&#8217;Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hady Al-Wadi&#8217;iy rahimahullah.</p>
<p>Dan jangan terkecoh dengan anggapan bahwa hadits ini shohih dari sebagian &#8216;ulama belakangan karena mereka hanya melihat zhohir sanad yang shohih. Wallahu A&#8217;lam.</p>
<p>Hadits kedua : Hadits Ibnu Umar</p>
<p>أَنَّهُ كَانَ يَضَعُ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ وَقَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ ذَلِكَ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya beliau (Ibnu Umar) meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya dan (Ibnu Umar) berkata : &#8220;Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam mengerjakan hal tersebut&#8221;.</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhary secara Mu&#8217;allaq 2/290 -Al-Fath- dan disambung oleh Abu Daud sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 6/156-157, Ibnu Khuzaimah no. 627, Ath-Thohawy 1/254 Ad-Daraquthny 1/344, Al-Hakim 1/348, Al-Baihaqy 2/100 dan Al-Hazimy dalam Al-I&#8217;tibar hal. 59. Semuanya dari jalan Abdul &#8216;Azis bin Muhammad Ad-Darawardy dari &#8216;Ubaidullah bin &#8216;Umar dari Nafi&#8217; dari Ibnu &#8216;Umar.</p>
<p>Pembahasan</p>
<p>Zhahir hadits ini nampak baik, karena itu sebagian &#8216;ulama menshohihkannya. Tapi yang benar hadits ini adalah hadits yang mungkar, berikut penjelasannya :</p>
<p>Berkata Abu Daud sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 6/57 : &#8220;&#8216;Abdul &#8216;Azis meriwayatkan dari &#8216;Ubaidullah hadits-hadits yang mungkar&#8221;.</p>
<p>Berkata Al-Baihaqy 2/100 : &#8220;Saya tidak melihatnya (hadits ini-Pent.) kecuali hanya sebagai suatu kekeliruan&#8221;.</p>
<p>Dan lihat keterangan mungkarnya riwayat Abdul &#8216;Azis Ad-Darawardy dari &#8216;Ubaidullah dalam Syarah Ilal At-Tirmidzy 2/810-811 dalam Ghorotul Fishol karya syaikh Muqbil rahimahullah.</p>
<p>Dalil-dalil pendapat kedua</p>
<p>Hadits Pertama : Hadits Wa`il bin Hujr.</p>
<p>Hadits Wa`il ini mempunyai dua jalan dan semuanya lemah :</p>
<p>Jalan Pertama :</p>
<p>رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبِتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ</p>
<p>&#8220;Saya melihat Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam apabila beliau sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan apabila beliau bangkit beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya&#8221;.</p>
<p>Dikeluarkan oleh Abu Daud no.388, An-Nasa`i 2/207,234 dan dalam Al-Kubra no.676,740, Ibnu Majah no.838, Ad-Darimy 1/303, Ibnu Khuzaimah no. 626,629, Ibnu hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. 1912, Ath-Thohawy 1/255, Ad-Daraquthny 1/345, Al-Baihaqy 2/98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 518, Al-Baghawy 3/133, Al-Hazimy hal. 60-61, Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al-Jama&#8217; Wat Tafriq 2/501 dan Adz-Dzahaby dalam Mu&#8217;jamul Muhadditsin hal.218-219 semuanya dari jalan Syarik bin Abdillah An-Nakha&#8217;iy dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr.</p>
<p>Pembahasan</p>
<p>Sanad hadits ini lemah sebagaimana yang dikatakan Imam Al-Baihaqy dalam sunannya 2/100 dan Imam Ad-Daraquthny berkata :&#8221; dan tidak ada yang menceritakan (hadits ini) dari Ashim bin Kulaib selain dari Syarik dan Syarik tidak kuat pada apa-apa yang ia bersendirian darinya&#8221;.</p>
<p>Dan orang yang memperhatikan biografi Syarik bin Abdillah An-Nakha&#8217;iy dari buku-buku Al-Jarh wat Ta&#8217;dil (buku-buku yang memuat pujian dan kritikan terhadap para rawi), akan memastikan bahwa Syarik ini adalah dho&#8217;iful hadits (lemah haditsnya).</p>
<p>Kemudian Syarik ini telah diselisihi oleh Hammam bin Yahya sebagaimana dalam Sunan Abu Daud no.839 dan dalam Al-Marasil hal. 93, Syarah Ma&#8217;any Al-Atsar 1/255, Sunan Al-Baihaqy 2/99, Mu&#8217;jam Al-Ausath no. 5911 karya Ath-Thobarany dan Al-I&#8217;tibar hal. 61 dari jalan Hammam bin Yahya dari Syaqiq Abu laits dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam secara mursal.</p>
<p>Syaqiq Abu Laits guru Hammam pada sanad diatas kata Imam Ath-Thohawy : Laa Yu&#8217;raf (tidak dikenal).</p>
<p>Dan jalan Hammam ini yang mahfuzh (terjaga/benar) sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hazimy dalam Al-I&#8217;tibar hal.61.</p>
<p>Dan diriwayatkan pula Abu Daud no.839 dan Al-Baihaqy 2/98-99 dari jalan Hammam bin Yahya dari Muhammad bin Jahadah dari Abdul Jabbar bin Wa&#8217;il dari ayahnya yaitu Wa`il bin Hujr dari nabi shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam, dan Abdul Jabbar tidak mendengar dari ayahnya.</p>
<p>Jalan Kedua :</p>
<p>Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy 1/99 dari jalan Muhammad bin Hujr dari Sa&#8217;id bin Abdul Jabbar bin Wa`il dari ibunya dari Wa`il bin Hujr, beliau berkata :</p>
<p>صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ وَكَانَ أَوَّلَ مَا وَصَلَ إِلَى الْأَرْضِ رُكْبَتَاهُ<br />
&#8220;Saya sholat bersama dibelakang Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam kemudian beliau sujud dan yang pertama sampai kebumi adalah kedua lututnya&#8221;.</p>
<p>Dalam hadits ini terdapat dua kelemahan :</p>
<p>Satu : Muhammad bin Hujr, kata Imam Adz-Dzahaby : lahu manakir (ia mempunyai hadits-hadits mungkar)</p>
<p>Dua : Sa&#8217;id bin Abdul Jabbar, disimpulkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam At-Taqrib : Dho&#8217;if (lemah).</p>
<p>Hadits Kedua : Hadits Anas bin Malik radhiyallahu &#8216;anhu :</p>
<p>رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ ثُمَّ انْحَطَّ بِالتَّكْبِيْرِ سَبَقَتْ رُكْبَتَاهُ يَدَيْهِ</p>
<p>&#8220;Saya melihat Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam turun dengan takbir, maka kedua lutunya mendahului kedua tangannya&#8221;. Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthny 1/345, Al-Hakim 1/349, Al-Baihaqy 2/99, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah no. 2310, Ibnu Hazm Dalam Al-Muhalla 4/129 dan Al-Hazimy hal.60, semuanya dari jalan Al-&#8217;Ala&#8217; bin Isma&#8217;il Al-&#8217;Aththor dari Hafsh bin Ghiyats dari &#8216;Ashim Al-Ahwal dari Anas.</p>
<p>Pembahasan</p>
<p>Berkata Abu Hatim ketika ditanya oleh anaknya tentang hadits dengan jalan yang tersebut diatas : &#8220;Ini adalah hadits yang mungkar&#8221;. Lihat Al-&#8217;Ilal 1/188.</p>
<p>Berkata Ad-Daruquthny 1/345 : &#8220;Al-Ala` bin Isma&#8217;il bersendirian dengannya dari Hafsh dengan sanad ini&#8221;.</p>
<p>Dan berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Lisanul I&#8217;tidal 4/183 menjelaskan letak mungkarnya riwayat Al-Ala` : &#8220;Dan ia (Al-Ala`) telah diselisihi oleh Umar bin Hafsh bin Ghiyats dan ia adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari ayahnya, yaitu dia (Umar bin Hafsh) meriwayatkan dari ayahnya dari Al-A&#8217;masy dari Ibrahim dari Alqomah dan lainnya dari &#8216;Umar secara Mauquf dan ini yang Mahfuzh (terjaga)&#8221;.</p>
<p>Riwayat &#8216;Umar bin Hafsh yang tersebut diatas bisa dilihat dalam Syarah Ma&#8217;any Al-Atsar 1/256.</p>
<p>Berkata Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma&#8217;ad 1/229 : &#8220;Dan Al-Ala` ini majhul (tidak dikenal), sama sekali tidak ada penyebutannya dalam Kutubus Sittah&#8221;.</p>
<p>­</p>
<p>Catatan</p>
<p>Orang yang berpendapat lutut dahulu yang turun kemudian tangan mempunyai beberapa hadits yang lain, tapi semuanya lemah tidak bisa dipakai berhujjah. Silahkan lihat dalam &#8216;Irwa`ul Gholil no.75 dan Risalah Nahyu Ash-Shuhbah &#8216;Anin Nuzul Bir-Rukbah.</p>
<p>Dalil-dalil pendapat ketiga</p>
<p>Para &#8216;ulama yang menguatkan pendapat ketiga ini, ada dua jalan dalam menguatkannya :</p>
<p>µ Ada yang menguatkan pendapat ini dengan alasan bahwa dalil dari pendapat pertama dan kedua semuanya shohih bisa dipakai berhujjah. Dengan demikian maka kandungan dari dalil-dalil tersebut bisa diamalkan sehingga boleh meletakkan tangan dahulu kemudian lutut atau lutut dahulu kemudian tangan.</p>
<p>µ Ada yang menguatkan pendapat ketiga ini dengan alasan bahwa seluruh hadits yang berkaitan dengan cara turun untuk sujud, baik tangan dahulu kemudian lutut atau lutut dahulu kemudian tangan, adalah hadits-hadits yang lemah tidak bisa dipakai berhujjah. Karena tidak ada aturan dalam hadits yang shohih yang menjelaskan tentang cara turun untuk sujud tersebut maka ada keluasan, boleh meletakkan tangan dahulu kemudian lutut atau lutut dahulu kemudian tangan.</p>
<p>Kesimpulan Pembahasan<br />
Dari uraian diatas, nampak dengan jelas bahwa dalil-dalil dari pendapat pertama dan pendapat kedua semuanya lemah tidak bisa dipakai berhujjah. Dari pendapat ketiga, alasan yang bisa diterima hanyalah alasan kedua. Dengan demikian pembahsan ini bisa ditutup dengan kesimpulan bahwa dalam cara turun untuk sujud ada keluasan, boleh meletakkan tangan dahulu kemudian lutut atau lutut dahulu kemudian tangan. Kesimpulan ini merupakan kesimpulan dari ahli hadits dan mujaddid negeri Yaman Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi&#8217;iy rahimahullahu wa balla bil maghfirati tsarahu dan kesimpulan dari beberapa &#8216;ulama lain. Wallahu Ta&#8217;ala A&#8217;lam Wa fauqo kulli dzi &#8216;ilmin &#8216;alim.</p>
<p>http://www.an-nashihah.com/?page=artikel-detail&amp;topik=&amp;artikel=10</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/byonspot.wordpress.com/90/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/byonspot.wordpress.com/90/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/byonspot.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/byonspot.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/byonspot.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/byonspot.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/byonspot.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/byonspot.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/byonspot.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/byonspot.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/byonspot.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/byonspot.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/byonspot.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/byonspot.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/byonspot.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/byonspot.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=90&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/lutut-tangankah-yang-lebih-dulu-menyentuh-bumi-ketika-sujud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e08ce7fed8a6a0a72739bd469899b2c8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abunadiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CARA DUDUK TASYAHHUD AKHIR DALAM SETIAP SHOLAT</title>
		<link>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/cara-duduk-tasyahhud-akhir-dalam-setiap-sholat/</link>
		<comments>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/cara-duduk-tasyahhud-akhir-dalam-setiap-sholat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 11:19:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abunadiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://byonspot.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه، وعلى آله وصحبه وسلم. أما بعد: Sesungguhnya salah satu upaya menghindarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=87&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pendahuluan</p>
<p>إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه، وعلى آله وصحبه وسلم.<br />
أما بعد:</p>
<p>Sesungguhnya salah satu upaya menghindarkan diri dari fitnah yang melanda disetiap zaman adalah menyibukkan diri dalam menuntut ilmu, menghafal, muraja&#8217;ah, belajar , dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada yang lain, yang dengannya seseorang dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; bersabda:</p>
<p>(( نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ )).</p>
<p>&#8220;Semoga Allah memberikan kebahagiaan kepada seseorang yang mendengar dari kami satu hadits, lalu dia menghafalnya, hingga dia menyampaikan kepada yang lainnya. Boleh jadi orang yang membawa fiqih menyampaikan kepada yang lebih faqih, dan boleh jadi orang yang membawa fiqih tersebut tidak faqih.&#8221;</p>
<p>(HR. Tirmidzi (2656), Abu Dawud (3660), Ibnu Majah (230), dari hadits Zaid bin Tsabit &#8211; radhiyallahu &#8216;anhu &#8211; . Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi).</p>
<p>Dan risalah kecil ini merupakan salah satu risalah yang bersifat ilmiah untuk membuka wawasan ilmu fiqih yang ada pada kaum muslimin, sebagai pencerahan intelektual yang menuntut seorang muslim, khususnya kalangan para penuntut ilmu syar&#8217;i untuk bisa memahami setiap masalah hukum berdasarkan dalil-dalil dari sumbernya yang jernih, yaitu Al-Qur&#8217;an Al-Karim dan Sunnah Nabawiyyah yang shahih. Risalah ini menjelaskan tentang hukum dan tata cara duduk yang benar didalam shalat, disaat seorang yang melakukan shalat duduk pada tahiyyat akhir, dari shalat yang wajib maupun nafilah (sunnah), baik shalat yang berjumlah satu raka&#8217;at, dua raka&#8217;at, tiga raka&#8217;at dan seterusnya, baik shalat yang memiliki satu tasyahhud maupun dua tasyahhud. Dimana kita menyaksikan adanya perbedaan cara yang diamalkan kaum muslimin dalam cara duduk mereka, ada yang duduk iftirasy pada setiap shalat yang berjumlah dua raka&#8217;at, atau yang memiliki satu tasyahhud, dan ada pula yang melakukannya dengan cara duduk tawarruk. Sehingga sebagian kaum muslimin mempertanyakan tentang hal ini, apakah landasan masing-masing mereka yang melakukan cara duduk yang berbeda? Manakah yang benar?, manakah yang lebih sesuai dengan dalil?, apakah keduanya memang disebutkan dalam hadits? Dan yang semisalnya dari berbagai pertanyaan yang kerap diajukan kepada kami. Terlebih disaat sebagian kaum muslimin yang sudah terbiasa semenjak kecil dengan cara duduk tertentu, lalu kemudian merasa heran dengan cara yang dilakukan sebagian mereka yang shalat dengan cara duduk yang berbeda. Sehingga hal ini mendorong kami untuk mengeluarkan risalah kecil ini, agar bermanfaat bagi mereka yang ingin melihat permasalahan ini dengan kacamata ilmiah.</p>
<p>Memang ada sebagian para penuntut ilmu yang telah menulis tentang masalah ini walaupun dengan cara yang ringkas &#8211; semoga Allah membalas kebaikan mereka -, dan penulis juga memahami bahwa mungkin tulisan ini bersifat penjelasan, sekaligus bantahan terhadap sebagian tulisan tersebut, yang pada hakekatnya tidak memberikan hak yang semestinya terhadap bahasan ini.</p>
<p>Yang jelas, penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjelaskan masalah ini dengan cara ilmiah. Namun sebagai manusia biasa, keadaanya seperti kata pepatah &#8220;tiada gading yang tak retak&#8221;, sehingga kalau di dalamnya ada kekeliruan, baik isi maupun penulisan, kami dengan lapang dada menerima kritikan tersebut, dan semoga itu menjadi pahala tersendiri untuknya disisi Allah &#8211; jalla jalalahu -.</p>
<p>Balikpapan, Ma&#8217;had Ibnul Qoyyim<br />
28 Sya&#8217;ban 1428 H</p>
<p>Abu Karimah Askari bin Jamal</p>
<p>============================</p>
<p>Pendapat Para Ulama&#8217; dalam Masalah Cara Duduk Tasyahhud :</p>
<p>Sebelum kita menyebut pendapat yang terkuat dalam masalah duduk pada tasyahhud akhir disetiap shalat, hendaknya kita mengetahui perselisihan yang terjadi dikalangan para ulama dalam masalah ini. Para Ulama telah berselisih pendapat dalam masalah cara duduk tasyahhud secara umum, baik tasyahhud yang pertama maupun tasyahhud yang terakhir menjadi beberapa pendapat:</p>
<p>Pendapat Pertama: pendapat Imam Malik. Beliau mengatakan: Dianjurkan untuk duduk tawarruk dalam setiap keadaan duduk dalam shalat, apakah pada tasyahhud pertama, atau terakhir, dan pada duduk diantara dua sujud. Dan tidak ada perbedaan antara duduk tersebut, sebagaimana tidak ada perbedaan pula antara duduk laki-laki dan duduk wanita.</p>
<p>Pendapat Kedua: pendapat Imam Hanafi dan para pengikutnya, dan juga pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Hasan bin Shaleh, Abdullah bin Mubarak, mereka mengatakan: dianjurkan duduk iftirasy pada semua keadaan duduk, baik duduk diantara dua sujud, tasyahhud yang pertama dan terakhir. Ini berkenaan tentang duduk laki-laki. Adapun duduk wanita, maka dia duduk dengan cara yang paling mudah baginya. Dan diriwayatkan dari Asy-Sya&#8217;bi.</p>
<p>Pendapat Ketiga: pendapat Imam Ahmad dan para pengikutnya, dan juga pendapat Dawud dan Ishaq bin Rahuyah, mereka mengatakan: Berbeda antara shalat yang memiliki satu tasyahhud dengan shalat yang memiliki dua tasyahhud. Adapun shalat yang memiliki satu tasyahhud maka duduk akhirnya sama dengan cara duduk diantara dua sujud, yaitu dengan iftirasy, adapun bila shalatnya memiliki dua tasyahhud, maka pada tasyahhud pertama dengan cara iftirasy, sedangkan yang kedua dengan cara tawarruk. Dan ini merupakan pendapat yang paling masyhur dari Imam Ahmad. Dan dalam riwayat Al-Atsram bahwa Imam Ahmad menyebutkan secara nash tentang bolehnya duduk tawarruk pada tasyahhud yang dia mengucapkan salam padanya dari shalat dua raka&#8217;at, namun beliau mengatakan: Bahwa duduk iftirasy lebih afdhal.<br />
(Lihat : Fathul Bari, Ibnu rajab Al-Hanbali: 5/164).</p>
<p>Pendapat keempat: pendapat Imam Asy-Syafi&#8217;i dan para pengikutnya. Mereka mengatakan: Duduk yang bukan duduk akhir, dengan cara iftirasy, sedangkan duduk yang dilakukan pada tasyahhud akhir, dengan cara tawarruk. Dan tidak ada perbedaan antara shalat yang memiliki dua tasyahhud ataupun satu tasyahhud. Dan pendapat ini juga dikuatkan oleh Ibnu Hazm.</p>
<p>Pendapat Kelima: Adalah pendapat At-Thabari, yang mengatakan bolehnya memilih cara duduk yang mana saja yang dia inginkan yang ada dalilnya dari Nabi &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; . Dan Ibnu Abdil Barr lebih condong kepada pendapat ini, sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitabnya &#8220;At-Tamhid&#8221;.</p>
<p>============================</p>
<p>Alasan Masing-masing Pendapat</p>
<ul class="unIndentedList">
<li> Alasan Pendapat Pertama :</li>
</ul>
<p>Al-Malikiyyah membangun pendapatnya tersebut kepada hadits yang shahih dari Abdullah bin &#8216;Umar &#8211; radhiyallahu &#8216;anhuma &#8211; dimana beliau berkata:</p>
<p>إِنَّمَا سُنَّةُ الصَّلاَةِ أَنْ تَنْصِبَ رِجْلَكَ الْيُمْنَى وَتَثْنِيَ الْيُسْرَى.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya sunnahnya shalat (ketika duduk) adalah engkau menegakkan kaki kananmu dan menghamparkan (kaki) kirimu&#8221;<br />
(HR. Bukhari: /827, bersama Fathul Bari).</p>
<p>Dalam riwayat Imam Malik dalam &#8220;Al-Muwaththa&#8221;, dalam Bab: Al-&#8217;Amal Fil Juluus Fis Shalaah (188), dari Yahya bin Sa&#8217;id bahwa Al-Qasim bin Muhammad memperlihatkan kepada mereka cara duduk ketika tasyahhud, lalu beliau menegakkan kaki kanannya dan menghamparkan kaki kirinya, dan duduk di atas warik (warik adalah bagian atas paha) kirinya dan tidak duduk di atas kakinya. Lalu dia berkata: Abdullah bin Abdullah bin &#8216;Umar telah memperlihatkan kepadaku demikian, dan mengabariku bahwa ayahnya (Abdullah bin &#8216;Umar) melakukan yang demikian itu.</p>
<p>Yang menjadi syahid dari hadits ini dimana Abdullah bin &#8216;Umar mengajarkan bahwa duduk yang disyariatkan adalah duduk tawarruk, dan tidak disebutkan apakah duduk tersebut di awal ataukah di akhir yang menunjukkan keumuman lafadz hadits tersebut. Dan perkataan beliau &#8220;sunnahnya shalat&#8221; menunjukkan bahwa beliau menyandarkan hal tersebut kepada Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; , sebagaimana yang telah diketahui dalam ilmu musthalahul hadits.</p>
<p>Diantara dalil yang mereka sebutkan pula adalah hadits Abdullah bin Mas&#8217;ud &#8211; radhiyallahu &#8216;anhu &#8211; bahwa beliau berkata:</p>
<p>عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّشَهُّدَ فِي وَسَطِ الصَّلاَةِ وَفِي آخِرِهَا قَالَ فَكَانَ يَقُولُ إِذَا جَلَسَ فِي وَسَطِ الصَّلاَةِ وَفِي آخِرِهَا عَلَى وَرِكِهِ الْيُسْرَى&#8230;.. الحديث.</p>
<p>&#8220;Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; mengajarkan tasyahhud kepadaku dipertengahan shalat dan di akhirnya. Lalu berkata: Adalah beliau mengucapkan jika duduk dipertengahan shalat dan di akhir shalat di atas warik (bagian atas paha/bokong)-nya yang kiri&#8230;&#8221; Al-Hadits.<br />
(HR. Ahmad dalam Al-Musnad: 1/459).</p>
<p>Yang menjadi syahid dari hadits ini adalah penyebutan duduk tawarruk baik dipertengahan shalat maupun diakhir shalat.</p>
<ul class="unIndentedList">
<li> Alasan Pendapat Ke dua :</li>
</ul>
<p>Al-Hanafiyyah yang berpendapat bahwa semua keadaan duduk dilakukan dengan cara iftirasy, berdalil dengan hadits &#8216;Aisyah bahwa beliau berkata:</p>
<p>وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى.</p>
<p>&#8220;Adalah beliau (Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; ) mengucapkan tahiyyat pada setiap dua raka&#8217;at, dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy).&#8221;<br />
(HR. Muslim: Bab : Maa Yajma&#8217;u Shifatas Shalaah: 1/498).</p>
<p>Juga berdasarkan hadits Wail bin Hujr           &#8211; radhiyallahu &#8216;anhu &#8211;  bahwa beliau berkata:</p>
<p>« رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ جَلَسَ فِيْ الصَّلاَةِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ اْليُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ اْليُمْنَى ».</p>
<p>&#8220;Aku melihat Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; ketika duduk dalam shalat, beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.&#8221;<br />
(HR. Ibnu Khuzaimah (1/691), Al-Baihaqi (2/72), Ahmad (4/316), At-Thabrani (22/33).</p>
<p>Dalam riwayat Tirmidzi dengan lafadz:</p>
<p>فَلَمَّا جَلَسَ يَعْنِي لِلتَّشَهُّدِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى يَعْنِي عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى</p>
<p>&#8220;Maka tatkala beliau duduk untuk tasyahhud, beliau menghamparkan kaki kirinya dan meletakkan tangan kirinya di atas pahanya , dan menegakkan kaki kanannya.&#8221;<br />
(HR. Tirmidzi: 2/292).</p>
<p>Demikian pula diriwayatkan dari Amir bin Abdullah bin Zubair, dari ayahnya berkata:</p>
<p>« كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِيْ الرَّكْعَتَيْنِ ، افْتَرَشَ اْليُسْرَى ، وَنَصَبَ اْليُمْنَى »</p>
<p>&#8220;Adalah Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; jika duduk pada dua raka&#8217;at, beliau menghamparkan yang kiri, dan menegakkan yang kanan.&#8221;<br />
(HR. Ibnu Hibban: 5/1943).</p>
<p>Yang menjadi syahid dari beberapa riwayat tersebut di atas adalah penyebutan duduk iftirasy disaat duduk ketika shalat, baik diwaktu tasyahhud maupun bukan, dan baik diraka&#8217;at terakhir atau tidak.</p>
<ul class="unIndentedList">
<li> Alasan Pendapat Ke tiga dan Ke empat :</li>
</ul>
<p>Sebelum kita membahas dalil masing-masing dari kedua pendapat, yaitu antara madzhab Imam Ahmad dan Imam Syafi&#8217;i, terlebih dahulu kita fahami bahwa kedua pendapat ini memiliki persamaan dalam satu sisi, dan berbeda pandangan dari sisi yang lain:</p>
<p>-adapun persamaan kedua pendapat ini adalah bahwa kedua-duanya menggabungkan seluruh riwayat yang datang menjelaskan tentang kedua jenis duduk tersebut, yaitu duduk iftirasy dan juga duduk tawarruk. Sehingga semua dalil yang dijadikan alasan oleh madzhab Malikiyyah dan juga Al-Hanafiyyah, diamalkan oleh Imam Ahmad dan juga Imam Syafi&#8217;i. Dan mereka juga sepakat dalam hal duduk tasyahhud awal yang tidak ada salam setelahnya.<br />
(Fathul Bari, Ibnu Rajab Al-Hanbali: 5/162. cetakan: daru Ibnul jauzi, cetakan kedua, tahun 1422 H).</p>
<p>-sedangkan letak perbedaannya, adalah dalam menyikapi duduk akhir antara shalat yang memiliki satu tasyahhud dengan shalat yang memiliki dua tasyahhud, sebagaimana yang kami terangkan di atas.</p>
<p>Jika kita telah memahami perkara ini, maka jelaslah bahwa untuk menyebutkan alasan dan dalil dari pendapat Imam Ahmad dan Imam Syafi&#8217;i, adalah berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih yang telah disebutkan pada kedua madzhab, yaitu madzhab Imam Malik dan Abu Hanifah. Dan ditambah lagi dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari &#8211; rahimahullah &#8211; dalam shahihnya dari Muhammad bin Amr bin Atha&#8217; bahwa beliau pernah duduk bersama beberapa orang dari shahabat Nabi &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam -[1] . Lalu kamipun menyebutkan tentang shalatnya Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; . Lalu berkata Abu Humaid As-Sa&#8217;idi :</p>
<p>أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ اْلأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ.</p>
<p>&#8221; Aku adalah orang yang paling menghafal diantara kalian tentang shalatnya Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam -. Aku melihatnya tatkala bertakbir , menjadikan kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya, dan jika ruku&#8217;, beliau menetapkan kedua tangannya pada kedua lututnya, lalu meluruskan punggungnya. Dan jika beliau mengangkat kepalanya , maka ia berdiri tegak hingga kembali setiap dari tulang belakangnya ke tempatnya. Dan jika beliau sujud, maka beliau meletakkan kedua tangannya tanpa menidurkan kedua lengannya dan tidak pula melekatkannya (pada lambungnya), dan menghadapkan jari-jari kakinya kearah kiblat. Dan jika beliau duduk pada raka&#8217;at kedua, maka beliau duduk diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirasy), dan jika beliau duduk pada raka&#8217;at terakhir, maka beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain, dan duduk diatas tempat duduknya &#8211; bukan di atas kaki kiri- (duduk tawarruk).<br />
(HR. Bukhari dalam Kitab Al-Adzan, Bab: Sunnatul Julus Fis Shalaah: 2/828).</p>
<p>Berkata Al-Hafidz: &#8220;dan dalam riwayat Abdul Hamid [2] dengan lafadz:</p>
<p>حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي يَكُوْنُ فِيْهَا التَّسْلِيْمُ.</p>
<p>&#8221; Jika pada raka&#8217;at yang terdapat padanya salam&#8221;,</p>
<p>dan dalam riwayat Ibnu Hibban:</p>
<p>الَّتِي تَكُوْنُ خَاتِمَةُ الصَّلاَةِ أَخْرَجَ رِجْلَهُ اْليُسْرَى وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شَقِّهِ اْلأَيْسَرِ.</p>
<p>&#8220;(Raka&#8217;at) yang menjadi penutup shalat, maka beliau mengeluarkan kaki kiri dan duduk dengan tawarruk diatas sisi kirinya.&#8221;</p>
<p>Ditambah oleh Ibnu Ishaq dalam riwayatnya: &#8220;Lalu beliau mengucapkan salam&#8221;, dan dalam riwayatnya dalam riwayat At-Thahawi: &#8220;Tatkala mengucapkan salam, maka dia salam kesebelah kanannya &#8220;salaamun &#8216;alaikum warahmatullah, dan kesebelah kirinya pun seperti itu juga&#8221;. Dan dalam riwayat Abu Ashim dari Abdul Hamid dalam riwayat Abu Dawud dan selainnya: Mereka berkata -yaitu para shahabat yang disebutkan- engkau telah benar, memang demikian beliau shalat.&#8221;<br />
(Fathul bari:2/360).</p>
<p>Berkata penulis &#8211; semoga Allah mengampuninya &#8211; : Dan juga dalam riwayat Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa (192), dengan lafadz:</p>
<p>حَتَّى إِذَا كَانَتِ اْلقَعْدَةُ الَّتِي فِيْهَا اْلتَسْلِيْمُ أَخْرَجَ رِجْلَهُ اْليُسْرَى وَجَلَسَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شَقِّهِ اْلأَيْسَرِ.</p>
<p>&#8220;Sehingga pada duduk yang padanya terdapat salam, maka beliau menggeser kaki kirinya dan duduk dengan cara tawarruk diatas sisi kirinya.&#8221;<br />
Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya (1/587), dan Tirmidzi (304), Ahmad 5/424), dengan lafadz:</p>
<p>حَتَّى إِذَا كَانَتِ الرَّكْعَةُ الَّتِي تَنْقَضِي فِيْهَا الصَّلاَةُ.</p>
<p>&#8220;Sehingga pada raka&#8217;at yang diselesaikannya shalat padanya&#8221;,<br />
dan dalam riwayat An-Nasaai (1262), dengan lafadz:</p>
<p>كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ تَنْقَضِي فِيهِمَا الصَّلاَةُ.</p>
<p>&#8220;Adalah Nabi &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; jika pada dua raka&#8217;at yang pada keduanya berakhir shalat&#8221;.</p>
<p>============================</p>
<p>Kelemahan Pendapat Al-Malikiyyah dan Al-Hanafiyyah</p>
<p>Kedua pendapat tersebut adalah pendapat yang lemah, hal ini disebabkan karena mereka memandang kepada hadits-hadits yang datang dari Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; yang menjelaskan tentang salah satu cara duduk beliau , tanpa menoleh kepada hadits-hadits yang lain yang menjelaskan tentang cara duduk yang berbeda. Sehingga kalau kita mengamalkan seperti amalan madzhab Malikiyyah, berarti kita tidak mengamalkan hadits-hadits yang menyebutkan tata cara duduk iftirasy, demikian pula halnya jika kita mengamalkan seperti amalan madzhab Al-Hanafiyyah, berarti kita meninggalkan beramal dengan hadits-hadits yang menjelaskan tentang cara duduk tawarruk.</p>
<p>Berkata Abul Ula Al-Mubarakfuri:</p>
<p>وَاْلحَاصِلُ أَنَّهُ لَيْسَ نَصٌّ صَرِيْحٌ فِيْمَا ذَهَبَ إِلَيْهِ مَالِكٌ وَمَنْ مَعَهُ وَلاَ فِيْمَا ذَهَبَ إِلَيْهِ أَبُوْ حَنِيْفَةَ وَمَنْ مَعَهُ, وَأَمَّا مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَمَنْ مَعَهُ فَفِيْهِ نَصٌّ صَرِيْحٌ فِهذاَ اْلمَذْهَبُ الرَّاجِحُ.</p>
<p>&#8220;kesimpulannya bahwa tidak terdapat nash yang jelas dari apa yang menjadi pegangan Imam Malik dan yang bersamanya, dan tidak pula apa yang menjadi pegangan Abu Hanifah dan yang bersamanya. Adapun yang menjadi pendapat Imam Syafi&#8217;i dan yang bersamanya, maka padanya terdapat nash yang jelas , maka inilah madzhab yang kuat.&#8221;<br />
(Tuhfatul Ahwadzi: 2/155).</p>
<p>Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnu Hazm &#8211; rahimahullah &#8211; setelah menyebutkan madzhab Imam Malik dan Abu Hanifah:</p>
<p>&#8221; وَعَلَى كِلاَ اْلقَوْلَيْنِ خَطَأٌ وَخِلاَفٌ لِلسُّنَّةِ الثَّابِتَةِ الَّتِي أَورَدْنَا &#8211; يَعْنِي حَدِيْث أَبِي حُمَيْدٍ &#8211; &#8220;</p>
<p>&#8220;Dan kedua pendapat tersebut salah,dan menyelisihi sunnah yang tsabit  yang telah kami sebutkan (yaitu hadits Abu Humaid)&#8221;.<br />
(Al-Muhalla, Ibnu Hazm: 4/127).</p>
<p>Terkhusus riwayat Abdullah bin Mas&#8217;ud yang dijadikan pegangan oleh madzhab Malikiyyah tentang duduk tawarruk pada awal atau akhir shalat, adalah riwayat yang berasal dari jalan Muhammad bin Ishaq bin Yasar, ia berkata: Abdurrahman bin Al-Aswad bin Yazid An-Nakha&#8217;i telah memberitakan kepadaku tentang tasyahhud Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; dipertengahan shalat dan diakhirnya, dari ayahnya dari Abdullah bin Mas&#8217;ud&#8230;&#8230;Al-Hadits.</p>
<p>Muhammad bin Ishaq tersebut di atas, meskipun dia seorang perawi yang jujur, yang asal hukum riwayatnya dihasankan, namun dalam riwayat ini dia telah menyelisihi para perawi yang lebih terpercaya, yang meriwayatkan hadits Ibnu Mas&#8217;ud tersebut tanpa menyebutkan lafadz &#8220;duduk dipertengahan shalat dan di akhirnya&#8221; seperti yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq.</p>
<p>Berkata Adz-Dzahabi:<br />
&#8220;Yang nampak bagiku bahwa Ibnu Ishaq adalah hasan haditsnya. Keadaannya baik, jujur, dan apa yang ia bersendiri pada (riwayatnya), terdapat kemungkaran padanya, karena pada hafalannya ada sesuatu (berupa kelemahan).&#8221;</p>
<p>Oleh karena itu, Syaikh Al-Albani juga menghukumi hadits ini sebagai hadits yang mungkar.<br />
(Lihat kitab: Ashlu Shifat Shalaat An-Nabi  &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam -, karya Al-Albani &#8211; rahimahullah -: 3/832).</p>
<p>============================</p>
<p>Tarjih Antara Madzhab Imam Ahmad dan Imam Syafi&#8217;i</p>
<p>Barangsiapa yang memperhatikan kedua pendapat tersebut, dia akan mengetahui bahwa pendapat Imam Syafi&#8217;i merupakan pendapat yang lebih mendekati kebenaran dan yang berjalan bersama dalil. Hal ini dapat terlihat dari hadits Abu Humaid As-Sa&#8217;idi &#8211; radhiyallahu &#8216;anhu -, yang menjelaskan tentang tata cara shalat Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; secara terperinci. Berikut ini penjelasan tentang hadits tersebut:</p>
<p>Abu Humaid membedakan antara duduk diakhir shalat dengan duduk yang bukan diakhir shalat. Tatkala beliau menjelaskan tentang duduk yang bukan akhir shalat, beliau menyebutnya dengan lafadz &#8220;Dan jika beliau duduk pada raka&#8217;at kedua, maka beliau duduk diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirasy)&#8221;. Dari lafadz ini menunjukkan bahwa duduk iftirasy dilakukan dipertengahan shalat, dan bukan akhir shalat. Lafadz &#8220;dua raka&#8217;at&#8221; bukanlah maksud dari riwayat ini, namun maksudnya adalah &#8220;raka&#8217;at yang bukan akhir shalat&#8221;. Berdasarkan beberapa alasan berikut:</p>
<p>Pertama: Mafhum dari lafadz setelahnya &#8220;Dan jika beliau duduk pada raka&#8217;at terakhir&#8221; menunjukkan bahwa lafadz sebelumnya bermakna yang bukan raka&#8217;at terakhir.</p>
<p>Kedua: Mafhum Al-‘Adad menurut para ahli ushul termasuk diantara dalil yang paling lemah. Yang dimaksud Mafhum Al-‘Adad adalah menyandarkan satu hukum kepada bilangan tertentu yang disebut dalam sebuah nash. Seperti contoh, firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p>{ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً } [ النور : 4].</p>
<p>&#8220;Maka cambuklah mereka delapan puluh kali cambukan&#8221; (QS. An-Nur: 4).</p>
<p>Maka difahami dari ayat ini bahwa pencambukan tersebut dilakukan sebanyak delapan puluh kali, tidak lebih dan tidak pula kurang dari jumlah tersebut. Namun pemahaman ini tidak sepenuhnya bisa dijadikan dalil pada setiap tempat, namun harus dikembalikan kepada penguat (qorinah) yang ada. Seperti contoh hadits Abu Hurairah bahwa beliau berkata:</p>
<p>كَانَ لِسُلَيْمَانَ سِتُّونَ امْرَأَةً فَقَالَ لأَطُوفَنَّ عَلَيْهِنَّ اللَّيْلَةَ فَتَحْمِلُ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ فَتَلِدُ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ غُلاَمًا فَارِسًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَمْ تَحْمِلْ مِنْهُنَّ إِلاَّ وَاحِدَةٌ فَوَلَدَتْ نِصْفَ إِنْسَانٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَ اسْتَثْنَى لَوَلَدَتْ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ غُلاَمًا فَارِسًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.</p>
<p>&#8220;Sulaiman memiliki 60 istri, lalu beliau mengatakan: Saya akan berkeliling mendatangi mereka pada malam hari ini, sehingga setiap dari mereka mengandung, lalu setiap dari mereka melahirkan seorang anak yang menjadi penunggang kuda yang akan berperang dijalan Allah. Namun tidak ada yang hamil dari mereka kecuali satu orang yang kemudian melahirkan setengah manusia. Maka Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; bersabda: Sekiranya ia mengatakan &#8220;insya Allah&#8221; , niscaya akan melahirkan setiap mereka seorang anak lelaki yang menjadi penunggang kuda dijalan Allah.&#8221;<br />
(HR. Muslim, Kitabul Aymaan, Bab: Al-Istitsnaa&#8217;: 1654).</p>
<p>Perhatikan penyebutan jumlah 60 istri dalam hadits ini tidak menunjukkan bahwa istri beliau tidak lebih dari itu, berdasarkan riwayat-riwayat lain yang menyebutkan jumlah yang berbeda dari yang disebutkan dalam hadits ini. Berkata An-Nawawi tatkala mengomentari hadits ini:</p>
<p>وَفِي رِوَايَةٍ : (( سَبْعُونَ )) وَفِي رِوَايَةٍ : (( تِسْعُونَ )) وَفِي غَيْرِ صَحِيحِ مُسْلِمٍ (( تِسْعٌ وَتِسْعُونَ )) وَفِي رِوَايَةٍ : (( مِائَةٌ )) . هَذَا كُلُّهُ لَيْسَ بِمُتَعَارِضٍ لأَنَّهُ لَيْسَ فِي ذِكْرِ الْقَلِيْلِ نَفْي الْكَثِيْرِ ، وَقَدْ سَبَقَ بَيَان هَذَا مَرَّات ، وَهُوَ مِنْ مَفْهُومِ الْعَدَدِ ، وَلاَ يُعْمَلُ بِهِ عِنْدَ جَمَاهِيْرِ اْلأُصُولِيِّينَ.</p>
<p>&#8220;Dalam satu riwayat &#8220;70&#8243;, dan dalam riwayat lain &#8220;90&#8243;, dan dalam riwayat di luar shahih Muslim &#8220;99&#8243;, dan dalam riwayat lain &#8220;100&#8243;. Ini semua tidak bertentangan, sebab penyebutan bilangan yang sedikit tidak menafikan yang banyak. Dan telah berkali-kali penjelasan tentang hal ini. Dan ini termasuk mafhum al-‘adad, dan itu tidak diamalkan menurut kebanyakan dari para ahli ushul&#8221;.<br />
(Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi: 11/120).</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar juga mengatakan :</p>
<p>وَالتَّحْقِيقُ أَنَّ دَلاَلَةَ مَفْهُوم الْعَدَدِ لَيْسَتْ يَقِيْنِيَّة إِنَّمَا هِيَ مُحْتَمَلَةٌ</p>
<p>&#8220;Dan yang benar bahwa penunjukan mafhum al-‘adad tidaklah yakin, namun hanya bersifat kemungkinan&#8221;.<br />
(Fathul Bari: 3/146).</p>
<p>Jika kita telah memahami hal ini, maka penyebutan &#8220;dua raka&#8217;at&#8221; yang tersebut dalam hadits ini bukanlah maksud, namun maknanya adalah &#8220;duduk yang bukan raka&#8217;at terakhir&#8221;. Dan semakin dikuatkan dengan hadits Nabi &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; bahwa beliau bersabda:</p>
<p>(( فَإِذَا جَلَسْتَ فِي وَسَطِ الصَّلاَةِ فَاطْمَئِنَّ وَافْتَرِشْ فَخِذَكَ الْيُسْرَى ثُمَّ تَشَهَّدْ)).</p>
<p>&#8220;Maka jika engkau duduk di pertengahan shalat, maka lakukanlah thuma&#8217;ninah, dan hamparkan paha kirimu &#8211; agar engkau duduk diatasnya &#8211; (duduk iftirasy), lalu lakukanlah tasyahhud&#8221;<br />
(HR. Abu Dawud dari Rifa&#8217;ah bin Rafi&#8217;, dan Al-Albani berkata: sanadnya hasan. Lihat kitab: Aslu Shifatis Shalaah, Al-Albani: 3/831-832).</p>
<p>Maka hadits ini menjelaskan tentang keadaan duduk iftirasy tersebut dilakukan dipertengahan shalat, sedangkan lafadz hadits Abu Humaid &#8220;dan jika beliau duduk pada raka&#8217;at terakhir&#8221;, dengan berbagai lafadznya merupakan nash yang bersifat manthuq sharih (yaitu penunjukkan lafadz yang sesuai pada peletakannya), dan manthuq lebih didahulukan daripada mafhum. Wallahul muwaffiq.</p>
<p>Adapun hadits Aisyah, Wail bin Hujr dan Abdullah bin Zubair, yang menjelaskan tentang duduk iftirasy, tidak menyebutkan secara terperinci apakah duduk tersebut dilakukan pada pertengahan shalat ataukah pada akhirnya, yang menunjukkan bahwa hadits tersebut global dan tidak tafshil (terperinci). Jika kita beramal berdasarkan keumuman duduk iftirasy dalam hadits tersebut, lalu bagaimana dengan keumuman hadits Abdullah bin &#8216;Umar yang menyebutkan duduk tawarruk dalam shalat dan tidak merinci apakah duduk dipertengahan shalat ataukah di akhir shalat.</p>
<p>Jika ada yang berkata: Hadits Wail bin Hujr dan yang semisalnya menyebutkan cara duduk pada shalat dua raka&#8217;at, yang menunjukkan keumuman setiap shalat dua raka&#8217;at.</p>
<p>Maka kami menjawab: Hadits Ibnu &#8216;Umar lebih umum lagi, dimana Ibnu &#8216;Umar mengatakan &#8220;sesungguhnya sunnahnya shalat (ketika duduk)&#8221; dan beliau tidak menyebutkan raka&#8217;at ke berapa, dan shalatnya berapa raka&#8217;at. Maka jika anda beramal dengan keumuman hadits Wail dan yang semisalnya, maka amalkan pula hadits Abdullah bin &#8216;Umar secara umum,dengan duduk tawarruk pada setiap duduk ketika shalat.</p>
<p>Demikian pula, kita mengetahui bahwa shalat yang memiliki satu tasyahhud bukan hanya shalat yang berjumlah dua raka&#8217;at, namun disana ada shalat yang berjumlah satu raka&#8217;at saja, seperti shalat witir, ada pula shalat tiga rakaat dengan satu tasyahhud, empat raka&#8217;at dengan satu tasyahhud, lima raka&#8217;at dengan satu tasyahhud, tujuh raka&#8217;at dimana beliau duduk tasyahhud pada raka&#8217;at keenam dan tidak salam, lalu bangkit menuju raka&#8217;at yang ketujuh lalu salam, Sembilan raka&#8217;at dan beliau duduk diraka&#8217;at yang kedelapan dan tidak salam, lalu melanjutkan keraka&#8217;at yang kesembilan lalu salam. Nah, bagaimana anda menyikapi shalat tersebut? Sementara shalat tersebut hanya menyebutkan shalat yang &#8220;dua raka&#8217;at&#8221;. Namun jika kita memahaminya sebagaimana yang difahami oleh Imam Asy-Syafi&#8217;i &#8211; rahimahullah Ta&#8217;ala -, maka setiap permasalahan tentang tata cara duduk tersebut dapat difahami dengan baik berdasarkan hadits-hadits yang datang menjelasakan tentang permasalahan ini.</p>
<p>Kesimpulannya bahwa hadits Abu Humaid &#8211; radhiyallahu &#8216;anhu &#8211; adalah hadits yang menjelaskan tentang tata cara Shalat Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; pada seluruh shalat, apakah itu shalat yang memiliki satu tasyahhud, maupun yang memiliki dua tasyahhud. Jika duduk dilakukan dipertengahan shalat, maka yang dilakukan adalah duduk iftirasy, dan jika duduk dilakukan pada akhir shalat, maka yang dilakukan adalah duduk tawarruk. Sedangkan selain hadits Abu Humaid merupakan hadits yang bersifat umum, maka hadits yang bersifat umum/global tersebut semestinya dibawa kepada hadits Abu Humaid yang merinci dan menjelaskan. Wallahul muwaffiq.</p>
<p>Dan dari kesimpulan ini juga menunjukkan lemahnya pendapat kelima yang mengatakan bolehnya memilih duduk mana saja yang dia inginkan.</p>
<p>============================</p>
<p>Perkataan Para Ulama&#8217; yang Menguatkan Pendapat Imam Syafi&#8217;i</p>
<p>Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar &#8211; rahimahullah &#8211; :</p>
<p>وَفِي هَذَا الْحَدِيْثِ حُجَّةٌ قَوِيَّةٌ لِلشَّافِعِيِّ وَمَنْ قَالَ بِقَوْلِهِ فِي أَنَّ هَيْئَةَ الْجُلُوسِ فِي التَّشَهُّدِ اْلأَوَّلِ مُغَايِرَةٌ لِهَيْئَةِ الْجُلُوسِ فِي اْلأَخِيْرِ ، وَخَالَفَ فِي ذَلِكَ الْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَفِيَّةُ فَقَالُوا : يُسَوِّي بَيْنهمَا ، لَكِنْ قَالَ الْمَالِكِيَّةُ : يَتَوَرَّكُ فِيهِمَا كَمَا جَاءَ فِي التَّشَهُّدِ اْلأَخِيْرِ ، وَعَكَسَهُ اْلآخَرُونَ.<br />
ثُمَّ قَالَ : وَاسْتَدَلَّ بِهِ الشَّافِعِيُّ أَيْضًا عَلَى أَنَّ تَشَهُّدَ الصُّبْحِ كَالتَّشَهُّدِ اْلأَخِيْرِ مِنْ غَيْرِهِ لِعُمُومِ قَوْلِهُ &#8221; فِي الرَّكْعَةِ اْلأَخِيْرَةِ &#8221; ، وَاخْتَلَفَ فِيهِ قَوْل أَحْمَدَ ، وَالْمَشْهُورُ عَنْهُ اِخْتِصَاصُ التَّوَرُّكِ بِالصَّلاَةِ الَّتِي فِيهَا تَشَهُّدَانِ.</p>
<p>&#8220;Dalam hadits ini merupakan hujjah yang kuat bagi Imam Asy-Syafi&#8217;i dan yang sependapat dengannya bahwa keadaan duduk pada raka&#8217;at yang pertama berbeda dengan duduk pada raka&#8217;at terakhir. Dan Al-Malikiyyah dan Al-Hanafiyyah menyelisihi hal tersebut dan mengatakan: disamakan antara keduanya. Namun Al-malikiyyah mengatakan: dia bertawarruk pada dua duduk tersebut seperti yang terdapat pada tasyahhud akhir , sedangkan yang satunya (Al-Hanafiyyah) sebaliknya.<br />
Lalu Al-Hafidz melanjutkan: dan Imam Syafi&#8217;i menjadikan ini sebagai dalil pula bahwa tasyahhud diwaktu subuh adalah seperti tasyahhud akhir yang berbeda dengan yang lainnya, berdasarkan keumuman perkataannya &#8220;pada raka&#8217;at terakhir&#8221;, dan diperselisihkan perkataan imam Ahmad padanya,dan yang masyhur dari beliau adalah duduk tawarruk dikhususkan pada shalat yang memiliki dua tasyahhud.<br />
(Fathul Bari:2/360).</p>
<p>Berkata Imam Nawawi &#8211; rahimahullah Ta&#8217;ala &#8211; : berkata Imam Syafi&#8217;i dan pendukungnya:</p>
<p>فَحَدِيْثُ أَبِي حُمَيْدٍ وَأَصْحَابِهِ صَرِيْحٌ فِي اْلفَرْقِ بَيْنَ التَّشَهُّدَيْنِ. وَبَاقِيَ اْلأَحَادِيْثُ مُطْلَقَةٌ فَيَجِبُ حَمَلَهَا عَلَى مُوَافَقَتِهِ, فَمَنْ رَوَى التَّوَرُّكَ أَرَادَ اْلجُلُوْسَ فِي التَّشَهُّدِ اْلأَخِيْرِ, وَمَنْ رَوَى اْلاِفْتِرَاشَ أَرَادَ اْلأَوَّلَ. وَهذَا مُتَعَيِّنٌ لِلْجَمْعِ بَيْنَ اْلأَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ لاَ سِيَمَا وَحَدِيْثُ أَبِي حُمَيْدٍ وَافَقَهُ عَلَيْهِ عَشَرَةٌ مِنْ كِبَارِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ. وَاللهُ أَعْلَمُ.</p>
<p>&#8221; Hadits Abu Humaid dan para shahabatnya jelas membedakan antara dua duduk tasyahhud, sedangkan hadits-hadits yang lainnya adalah hadits yang mutlak , sehingga wajib untuk difahami dengan yang sesuai, maka yang meriwayatkan hadits duduk tawarruk, maka yang dimaksud adalah duduk pada tasyahhud akhir, dan yang meriwayatkan duduk iftirasy , yang dimaksud adalah tasyahhud awal. dan harus dilakukan untuk menggabungkan antara hadits-hadits yang shahih , terlebih lagi hadits Abu Humaid As-Sa&#8217;idi telah disetujui oleh sepuluh orang dari para pembesar shahabat radhiallahu anhum. Wallahu a&#8217;lam&#8221;.<br />
(Lihat Kitab Al-Majmu&#8217; Syarhul Muhadzdzab, 3/431. cetakan daar Ihyaa&#8217; At Turats Al-&#8217;Arabi, tahqiq Muhammad Najib Al-Muthi&#8217;i. Lihat pula dalam Syarah Muslim: 2/81)</p>
<p>Dan berkata Al-Mubarakfuri &#8211; rahimahullah &#8211; :</p>
<p>وَاْلإِنْصَافُ أَنَّهُ لَمْ يُوجَدْ حَدِيثٌ يَدُلُّ صَرِيحًا عَلَى اِسْتِنَانِ الْجُلُوسِ عَلَى الرِّجْلِ الْيُسْرَى فِي الْقَعْدَةِ اْلأَخِيرَةِ ، وَحَدِيثُ أَبِي حُمَيْدٍ مُفَصَّلٌ فَلْيُحْمَلْ الْمُبْهَمُ عَلَى الْمُفَصَّلِ.</p>
<p>&#8221; Secara insaf bahwa tidak didapatkan satupun hadits yang menunjukkan secara jelas tentang disunnahkannya duduk diatas kaki kiri (duduk iftirasy, pen) pada duduk terakhir. Dan hadits Abu Humaid terperinci, sehingga yang global dibawa maknanya kepadanya yang terperinci&#8221;.<br />
(Tuhfatul Ahwadzi: 2/156)</p>
<p>Berkata Abut Thayyib Aabadi &#8211; rahimahullah &#8211; :</p>
<p>وَفِي حَدِيث أَبِي حُمَيْدٍ حُجَّةٌ قَوِيَّةٌ صَرِيحَةٌ عَلَى أَنَّ الْمَسْنُونَ فِي الْجُلُوسِ فِي التَّشَهُّدِ اْلأَوَّلِ الاِفْتِرَاشُ وَفِي الْجُلُوسِ فِي اْلأَخِيْرِ التَّوَرُّكُ وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيّ وَهُوَ الْحَقُّ عِنْدِي وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَم.</p>
<p>&#8220;Dalam hadits Abu Humaid merupakan hujjah yang kuat dan jelas bahwa yang disunnahkan duduk pada tasyahhud pertama dengan iftirasy dan pada duduk akhir dengan tawarruk. Dan ini adalah madzhab Syafi&#8217;i dan inilah yang benar menurutku. Wallahu ta&#8217;ala a&#8217;lam.<br />
(Aunul Ma&#8217;bud: 3/171).</p>
<p>Asy-Syaukani &#8211; rahimahullah &#8211; mengatakan:</p>
<p>وَالتَّفْصِيلُ الَّذِي ذَهَبَ إلَيْهِ أَحْمَدُ يَرُدُّهُ قَوْلُ أَبِي حُمَيْدٍ فِي حَدِيثِهِ اْلآتِي )) فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ اْلأَخِيرَةِ (( وَفِي رِوَايَةٍ ِلأَبِي دَاوُد )) حَتَّى إذَا كَانَتْ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيهَا التَّسْلِيمُ ((.</p>
<p>&#8220;Dan rincian yang menjadi pendapat Imam Ahmad tertolak dengan ucapan Abu Humaid dalam haditsnya &#8220;jika duduk pada raka&#8217;at terakhir&#8221; dan pada riwayat Abu Dawud &#8220;hingga pada raka&#8217;at yang padanya terdapat salam&#8221;.<br />
(Nailul Authar: 1/563) [3]</p>
<p>Dan pendapat Imam Syafi&#8217;i ini juga dikuatkan oleh Ibnu Hazm &#8211; rahimahullah Ta&#8217;ala -. Berkata Ibnu Hazm &#8211; rahimahullah Ta&#8217;ala &#8211; :</p>
<p>&#8221; فَفِيْ الصَّلاَةِ أَرْبَعُ جَلَسَاتٍ : جِلْسَةُ بَيْنَ كُلِّ سَجْدَتَيْنِ, وَجِلْسَةُ إِثْرِ السَّجْدَةِ الثَّانِيَّةِ مِنْ كُلِّ رَكْعَةٍ, وَجِلْسَةُ لِلتَّشَهُّدِ بَعْدَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَّةِ, يَقُوْمُ مِنْهَا إِلىَ الثَّالِثَةِ فِيْ اْلمَغْرِبِ, وَاْلحَاضِرُ فِيْ الظُّهْرِ وَاْلعَصْرِ وَاْلعِشَاءِ اْلآخِرَةِ, وَجِلْسَةُ لِلتَّشَهُّدِ فِيْ آخِرِ كُلِّ صَلاَةٍ, يُسَلِّمُ فِيْ آخِرِهَا. وَصِفَةُ جَمِيْعِ اْلجُلُوْسِ اْلمَذْكُوْرِ أَنْ يَجْعَلَ أَلِيْتِهِ اْليُسْرَى عَلَى بَاطِنِ قَدَمِهِ اْليُسْرَى مُفَتَرِشًا لِقَدَمِهِ, وَيَنْصِبُ قَدَمَهُ اْليُمْنَى ,رَافِعًا لِعَقِبِهَا,مُجَلِّسُا لَهَا عَلَى بَاطِنِ أَصَابِعِها, إِلاَّ اْلجُلُوْس الّذِيْ يَلِي السَّلاَم مِنْ كُلِّ صَلاَةٍ, فَإِنَّ صِفَتَهُ أَنْ يَفْضِيَ بِمَقَاعِدِهِ إِلىَ مَا هُوَ جَالِسٌ عَلَيْهِ, وَلاَ يَجْلِس عَلىَ بَاطِنِ قَدَمِهِ فَقَطّ &#8220;.</p>
<p>&#8220;Di dalam shalat ada empat keadaan duduk: duduk diantara dua sujud, duduk setelah sujud kedua dari setiap raka&#8217;at (duduk istirahat-pen-), duduk tasyahhud setelah raka&#8217;at kedua, lalu bangkit menuju raka&#8217;at ketiga pada shalat maghrib, dan shalat muqim (tidak musafir) pada shalat dzuhur, Ashar dan Isya , dan duduk untuk tasyahhud pada akhir setiap shalat, yang dia mengucapkan salam pada akhirnya. Dan cara duduk semua duduk yang disebutkan adalah dengan menjadikan bokong kirinya berada di atas telapak kaki kirinya dengan menidurkan kakinya tersebut, dan menegakkan kaki kanannya, mengangkat tumitnya mendudukkannya diatas bagian dalam jari jemari (kakinya) tersebut (maksud beliau adalah duduk iftirasy -pen-). Kecuali duduk yang diikuti dengan salam dari setiap shalat, maka sesungguhnya caranya adalah dengan melekatkan tempat duduknya di bokongnya) ke tempat yang dia duduk di atasnya, dan tidak hanya duduk di atas telapak kakinya.&#8221;<br />
(Al-Muhalla: 4/125).</p>
<p>Semoga penjelasan ini dapat kita fahami dengan baik dan memberikan tambahan ilmu kepada para pembaca sekalian. wallahul haadii ilaa sabiilir rasyaad.</p>
<p>============================</p>
<p>Kesimpulan</p>
<p>Dari apa yang telah kami paparkan dari pembahasan tersebut di atas, memberikan kesimpulan bahwa pendapat yang kuat dalam masalah ini adalam pendapat Imam Syafi&#8217;i dan yang bersamanya, yang menjelaskan bahwa cara duduk terakhir yang benar adalah duduk tawarruk, dan bukan duduk iftirasy.</p>
<p>Dan disaat kami menguatkan pendapat ini, bukan berarti kami mencela pendapat yang menyelisihi pendapat kami, apabila yang nampak baginya menyelisihi apa yang telah kami sebutkan, dan demikian pula sebaliknya. Namun bagi seorang muslim, setelah nampak baginya pendapat yang lebih kuat dalam satu masalah, maka tidak ada jalan lain baginya kecuali menyatakan &#8220;kebenaran lebih patut untuk diikuti&#8221;.</p>
<p>Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua, dan semoga Allah senantiasa memberikan istiqamah kepada kita, agar terus berjalan diatas jalan Allah &#8211; subhanahu wa ta&#8217;ala &#8211; , hingga kita bertemu dengan-Nya.</p>
<p>============================</p>
<p>Al-Maraji&#8217;:</p>
<p>1)	Shahih Bukhari, bersama Fathul Bari karangan Ibnu Hajar Al-Asqalani.<br />
2)	Fathul Bari, Ibnu Rajab Al-Hanbali.<br />
3)	Shaih Muslim, bersama syarah Nawawi<br />
4)	Musnad Imam Ahmad.<br />
5)	Al-Muntaqa, Ibnul Jarud.<br />
6)	Al-Muwaththa&#8217;, Imam Malik.<br />
7)	Jami&#8217; At-Tirmidzi, bersama Tuhfatul ahwadzi.<br />
8)	At-Tamhid, Ibnu Abdil Barr.<br />
9)	Aunul Ma&#8217;bud, Syarah Sunan Abi Dawud.<br />
10)	Al-Mujtaba, Imam An-Nasaai.<br />
11)	Sunan Ibnu majah.<br />
12)	Shahih Ibnu Khuzaimah.<br />
13)	Shahih Ibnu Hibban, bersama &#8220;Al-Ihsan&#8221;.<br />
14)	As-Sunan Al-kubra, Al-Baihaqi.<br />
15)	Al-Mu&#8217;jam Al-kabir, Ath-Thabrani.<br />
16)	Al-Muhalla, Abu Muhammad Ibnu Hazm.<br />
17)	Al-Majmu&#8217;, Syarhul Muhadzdzab, Imam Nawawi.<br />
18)	Al-Mughni, Ibnu Qudamah.<br />
19)	Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd.<br />
20)	Nailul Authar, Asy-Syaukani.<br />
21)	As-Sailul Jarrar, Muhammad bin Ali Asy-Syaukani.<br />
22)	Ashlu Shifatis Shalaah, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.<br />
23)	Shalaat At-Taraawiih, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.</p>
<p>============================</p>
<p>Foot Note :</p>
<p>[1] Namun Asy-Syaukani &#8211; rahimahullah &#8211; berpendapat bahwa boleh duduk iftirasy pada raka&#8217;at terakhir yang padanya terdapat dua tasyahhud, namun duduk tawarruk lebih afdhal, disebabkan karena hadits-hadits yang datang tentang duduk tawarruk lebih banyak dan lebih jelas.(lihat pula kitab : As-sailul jarrar, Asy-Syaukani: 1/220. Cetakan darul kutub al-ilmiyyah, cetakan pertama.</p>
<p>[2] Abdul Hamid yang dimaksud adalah Abdul Hamid bin Ja&#8217;far Al-Anshari Al-Ausi Abul Fadhl, yang meriwayatkan hadits dari Muhammad bin Amr bin Atha&#8217; dari Abu Humaid As-Sa&#8217;idi.</p>
<p>[3] Dalam riwayat lain: bersama sepuluh shahabat Rasulullah &#8211; shallallahu &#8216;alaihi wa sallam -. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqa (192), Abu Dawud (963), At-Tirmidzi (304), Ibnu Majah (1061).</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/byonspot.wordpress.com/87/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/byonspot.wordpress.com/87/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/byonspot.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/byonspot.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/byonspot.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/byonspot.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/byonspot.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/byonspot.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/byonspot.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/byonspot.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/byonspot.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/byonspot.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/byonspot.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/byonspot.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/byonspot.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/byonspot.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=87&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/cara-duduk-tasyahhud-akhir-dalam-setiap-sholat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e08ce7fed8a6a0a72739bd469899b2c8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abunadiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Shaf yang Terpisah dengan Tiang Masjid</title>
		<link>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/hukum-shaf-yang-terpisah-dengan-tiang-masjid/</link>
		<comments>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/hukum-shaf-yang-terpisah-dengan-tiang-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 06:41:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abunadiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://byonspot.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Shaf yang Terpisah dengan Tiang Masjid Ahad, 04 September 2005 &#8211; 20:12:58 :: kategori Fiqh Penulis: Al Ustadz Askari bin Jamal Al-Bugisi .: :. a). Hadits –hadits tentang larangan memutus shaf dalam sholat Hadits Pertama : Hadits Anas bin Malik Radhiallahu anhu Dari Abdul Hamid bin Mahmud berkata : “Aku sholat bersama Anas bin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=69&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="article-index-container">
<div class="article-index-title">Hukum Shaf yang Terpisah dengan Tiang Masjid</div>
<div class="article-index-meta">Ahad, 04 September 2005 &#8211; 20:12:58			 :: kategori <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=arsip&amp;cat_id=3">Fiqh</a></div>
<div class="article-index-meta">Penulis: Al Ustadz Askari bin Jamal Al-Bugisi</div>
<div class="article-index-content">
<div>.: <a href="http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=983" target="_blank"><img src="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/images/print.png" alt="" /></a> :.</div>
<p>a). Hadits –hadits tentang larangan memutus shaf dalam sholat</p>
<p>Hadits Pertama : Hadits Anas bin Malik Radhiallahu anhu</p>
<p>Dari Abdul Hamid bin Mahmud berkata : “Aku sholat bersama Anas bin Malik Radhiallahu anhu pada hari Jum&#8217;at, kamipun terdesak diantara tiang-tiang, maka kamipun maju atau mundur, lalu berkata Anas:<br />
(( كنا نتقي هذا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ))<br />
Artinya : &#8220;Kami dahulu menghindari (tiang) ini di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.&#8221;</p>
<p>Takhrij Hadits<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (1/229), Abu Dawud (673), An-Nasaai (2/821) dan dalam Al-Kubra (1/895), Ibnu Hibban (5/2218), Al-Hakim dalam al-Mustadrak (1/793), Dhiyaa&#8217; dalam Al-Mukhtarah (6/2287, 2288), Al-Baihaqi (1/673), (3/104), Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya (2/2489), Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (2/7498), seluruhnya dari jalan Sufyan Ats-Tsauri dari Yahya bin Hani&#8217; bin Urwah Al-Muradi dari Abdul Hamid bin Mahmud. Dan lafadz di atas berdasarkan riwayat Abu Dawud, Al-Baihaqi, dan Dhiya&#8217;.</p>
<p>Pada lafadz yang lain, Abdul Hamid berkata:<br />
Adalah aku bersama Anas bin Malik akan menegakkan sholat, lalu mereka mendesak kami diantara dua tiang, maka Anas pun mundur.setelah kami sholat beliau berkata : &#8220;Sesungguhnya kami dahulu menghindari ini di zaman Rasulullah shllallahu alaihi wasallam&#8221;. Lafadz ini berdasarkan riwayat Al-Baihaqi, Al-Hakim, Abdurrazzaq, dan Dhiya&#8217; dalam satu riwayatnya.</p>
<p>Pada lafadz lainnya Abdul Hamid menyebutkan:<br />
Kami sholat di belakang salah seorang penguasa, maka keadaan berdesakan, maka kamipun sholat diantara dua tiang. Setelah kami sholat, berkata Anas bin Malik:<br />
&#8220;Sesungguhnya kami dahulu menghindari ini di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam&#8221;.</p>
<p>Kedudukan Hadits<br />
Hadits ini adalah hadits yang SHAHIH, para perawinya adalah perawi yang tsiqah (terpercaya). Abdul Hamid bin Mahmud Al-Bashri, adapula yang mengatakan Kufi telah ditsiqahkan oleh Ad-Daruquthni, An-Nasaai, dan Ibnu Hibban. Apa yang disebutkan oleh Abdul Haq dalam kitabnya &#8216;Al-Ahkam&#8221; bahwa beliau seorang yang tidak bisa dijadikan hujjah, adalah pendapat yang tertolak.Oleh karena itu pendapat ini dibantah oleh Ibnul Qahthan dan berkata : &#8220;Aku tidak melihat seorangpun menyebutkannya dalam daftar para perawi yang lemah&#8221;.<br />
Dan hadits ini telah dishohihkan oleh banyak dari kalangan para ulama, diantaranya:<br />
At-Tirmidzi, berkata: “Hadits ini hadits Hasan Shahih.” Juga dishahihkan oleh Al-Hakim, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Al-Fath, dan Al-Allamah Albani dalam Shahih Abi Dawud (673).</p>
<p>Hadits Kedua : Hadits Qurrah bin Iyyas radhiallahu anhu</p>
<p>Dari Qurrah bin Iyyas Radhiallahu anhu berkata:<br />
(( كنا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نطرد طردا أن نقوم بين السواري في الصلاة ))<br />
Artinya: &#8220;Adalah kami di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam diusir sejauh-jauhnya untuk berdiri diantara tiang-tiang (masjid) dalam sholat&#8221;.</p>
<p>Takhrij Hadits<br />
Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1002), Abu Dawud At-Thoyalisi dalam &#8220;Al-Musnad&#8221; (1073), Ibnu Khuzaimah (1567), Al-Hakim (1/794), Ibnu Hibban (5/2219), Al-Baihaqi (3/104), At-Thabrani (19/39), Al-Bazzar dalam Musnad-nya (8/249/3312), seluruhnya dari jalan Harun Abu Muslim dari Qatadah dari Muawiyah bin Qurrah dari ayahnya Qurroh bin Iyyas radhiallahu anhu.<br />
Berkata Al-Bazzar: Hadits ini kami tidak mengetahui yang meriwayatkan dari Qotadah kecuali Harun Abu Muslim.</p>
<p>Kedudukan Hadits<br />
Dalam sanad ini terdapat seorang perawi bernama Harun bin Muslim, Abu Muslim Al-Bashri. Abu Hatim Ar-Razi berkata bahwa dia majhul (tidak dikenal). Namun telah dikuatkan dengan riwayat sebelumnya yaitu hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu, sehingga hadits ini adalah hadits yang shahih.Telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim.Dan Al-Allamah Al-Albani dalam Silsilah as-Shahihah: (1/335).</p>
<p>Hadits Ketiga : Hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma</p>
<p>Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:<br />
(( عليكم بالصف الأول, وعليكم بالميمنة, وإياكم والصف بين السواري ))<br />
&#8220;Hendaklah kalian berada di shaf yang pertama dan carilah shaf sebelah kanan, dan jauhilah shaf yang ada diantara tiang-tiang&#8221;.</p>
<p>Takhrij Hadits:<br />
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam al-Kabir (11/12004) dan dalam Al-Awsath (9/9293), dari jalan Ismail bin Muslim al-Makki dari Abu Yazid Al-Madini dari Ikrimah dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma.</p>
<p>Kedudukan hadits:<br />
Dalam sanad hadits ini terdapat seorang yang bernama Ismail bin Muslim Al-Makki, dia adalah seorang perawi yang dha&#8217;if, bahkan sebagian para ulama sangat melemahkannya. Oleh karenanya hadits ini dilemahkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ad-Dha&#8217;ifah (6/2895).<br />
b). Beberapa Atsar dari para Shahabat</p>
<p>Pertama: Atsar Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiallahu anhu<br />
Dari Abdullah bin Mas&#8217;ud radhiallahu anhu bahwa beliau berkata:<br />
(( لا تصفوا بين السواري ))<br />
&#8220;Jangan kalian bershaf diantara tiang-tiang&#8221;</p>
<p>Takhrij Atsar<br />
Atsar ini dikeluarkan oleh Abdurrazzaq (2/2487, 2488), Abu Bakar bin Abi Syaibah dalam Mushonnaf-nya (2/1750), At-Thabrani dalam Al-Kabir (9/9293, 9295), Bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir (8/2081), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra (3/104), Ibnul Ja&#8217;ad dalam Al-Musnad (1964), seluruhnya dari jalan Abu Ishaq dari Ma&#8217;dikarib Al-Hamdani berkata : Aku mendengar Abdullah bin Mas&#8217;ud berkata (&#8220;Jangan kalian bershaf diantara tiang-tiang&#8221;) Al-Atsar.</p>
<p>Kedua: Atsar Abdullah bin Abbas<br />
Berkata Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma:<br />
((عليكم بميامن الصفوف وإياكم وما بين السواري وعليكم بالصف الأول ))<br />
&#8220;Hendaklah kalian mencari shaf bagian kanan, dan jauhilah shaf diantara tiang-tiang, dan carilah shaf yang pertama.&#8221;</p>
<p>Takhrij Atsar<br />
Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannaf (2/2477), dari Ibnu Juraij berkata: berkata seseorang dari Ibnu Abbas.<br />
Dan diriwayatkan pula oleh Al-Fakihi dalam &#8220;Akhbar Makkah&#8221; (2/1227), dari jalan Ismail bin Muslim dari Abdul Karim bin Abil Mukhariq dari Sa&#8217;id bin Jubair berkata: berkata Ibnu Abbas radhiallahu anhuma.</p>
<p>Ketiga: Atsar Anas bin Malik radhiallahu anhu.<br />
Berkata Anas bin Malik radhiallahu anhu:<br />
(( نهينا أن نصلي بين الأساطين ))<br />
&#8220;Kami dilarang shalat diantara tiang-tiang&#8221;</p>
<p>Takhrij Atsar<br />
Dikeluarkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah dalam Mushonnaf (2/7499): telah memberitakan kepada kami Husyaim bahwa dia berkata: Telah mengabari kami Khalid dari seseorang yang memberitakan padanya dari Anas radhiallahu anhu.</p>
<p>Keempat: Atsar Hudzaifah Radhiallahu anhu<br />
عن حذيفة رضي الله عنه أنه كره الصلاة بين الأساطين<br />
“Dari Hudzaifah Radhiallahu anhu bahwa beliau membenci sholat diantara tiang-tiang.”</p>
<p>Takhrij Atsar<br />
Dikeluarkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah dalam Mushonnaf (2/7501) : Telah memberitakan kami Fudhoil bin Iyyadh dari Hushain bin Hilal dari Hudzaifah radhiallahu anhu.</p>
<p>c). Pendapat para Ulama</p>
<p>Dalam hal menjelaskan tentang hukum sholat diantara dua tiang masjid, ada beberapa hal yang menjadi titik persamaan, dan ada pula yang menjadi titik perbedaan di kalangan para ulama. Adapun yang menjadi titik persamaan dan tidak diperselisihkan di kalangan mereka adalah sebagai berikut:<br />
1). Bolehnya sholat sendiri diantara dua tiang<br />
2). Bolehnya Imam sholat jama&#8217;ah berdiri diantara dua tiang mesjid<br />
3). Bolehnya sholat diantara dua tiang apabila jumlah jama&#8217;ah sedikit yang tidak melewati apa yang terdapat diantara dua tiang tersebut<br />
4). Bolehnya membuat shaf bagi para makmum diantara dua tiang apabila jumlah jama&#8217;ah terlalu banyak yang apabila mereka tidak sholat diantara dua tiang, akan menyebabkan mereka sholat diluar mesjid<br />
Adapun yang menjadi letak perselisihan adalah: para makmum membuat shaf diantara dua tiang dalam keadaan memungkinkan bagi mereka menghindarinya, dan tidak menyebabkan mereka sholat di luar masjid. Maka inilah yang akan saya jelaskan.</p>
<p>Ketahuilah –semoga Allah merahmati kita semua- bahwa telah terjadi perselisihan di kalangan para Ulama tentang hukum membuat shaf sholat jama&#8217;ah diantara tiang-tiang masjid menjadi dua pendapat :<br />
Pendapat pertama mengatakan : Tidak disukai (makruh). Ini adalah pendapat Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Ibrohim bin Yazid An-Nakha&#8217;i, dan telah diriwayatkan dari beberapa Shahabat seperti yang telah kita sebutkan di atas. Dan pendapat ini banyak dikuatkan oleh para ahli Tahqiq seperti Asy-Syaukani, dan Al-Albani rahimahumullah Ta&#8217;ala.<br />
Pendapat kedua mengatakan:Boleh saja. Dan ini adalah pendapat Abu Hanifah, Malik, dan Asy-Syafi&#8217;i, Ibnul Mundzir dan diriwayatkan dari Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Ibrahim At-Taimi, Sa&#8217;id bin Jubair, Suwaid bin Ghaflah dan pendapat orang-orang Kufah.</p>
<p>Hujjah masing-masing kedua pendapat<br />
Alasan pendapat pertama:<br />
a) Dalil-dalil yang shahih yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , yang telah kami sebutkan di atas<br />
b).Beberapa perkataan (atsar) para Shahabat yang telah kita sebutkan pula dan tidak ada dari kalangan Shahabat yang lain menyelisihi pendapat tersebut.</p>
<p>Alasan pendapat kedua:<br />
Pendapat ini berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari (474) dan Muslim (2358) dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masuk ke dalam Ka&#8217;bah bersama Usamah bin Zaid, Bilal, dan Utsman bin Thalhah lalu merekapun menutupnya.Tatkala mereka membukanya, aku orang yang pertama memasukinya.Lalu aku bertemu Bilal, maka aku bertanya kepadanya: “Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sholat didalamnya?”, beliau menjawab : “Iya, diantara dua tiang depan.&#8221;<br />
Dalam riwayat yang lain : &#8220;Beliau jadikan satu tiang sebelah kanannya, dan satu tiang sebelah kirinya.&#8221;<br />
Kata mereka : Ini menunjukkan boleh shalat diantara dua tiang secara mutlak tanpa membedakan antara shalat sendiri ataupun sholat jama&#8217;ah.</p>
<p>Bantahan terhadap pendapat yang kedua<br />
Tidak ada hujjah bagi pendapat kedua dari hadits tersebut, sebab hadits ini hanyalah menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sholat diantara dua tiang dalam keadaan sendiri, dan bukan sholat jama&#8217;ah, sehingga berhujjah dengan hadits ini dalam permasalahan yang diperselisihkan bukanlah pada tempatnya.berkata Asy-Syaukani rahimahullah Ta&#8217;ala: &#8220;Larangan tersebut khusus berkenaan tentang sholatnya para makmum di antara tiang-tiang, bukan sholatnya Imam ataukah sholat sendiri. Dan inilah yang terbaik untuk dikatakan, dan apa yang terdahulu dalam mengkiaskan para makmum dengan (sholatnya) Imam dan (sholat) sendiri adalah qiyas yang rusak, karena bertentangan dengan hadits-hadits bab ini (tersebut diatas).&#8221; (Nailul Authaar, Asy-Syaukani:3/187).</p>
<p>Maka, kuatlah pendapat pertama yang mengatakan makruhnya membuat shaf bagi para makmum di antara tiang-tiang masjid. Bahkan AsySyaukani rahimahullah menyatakan bahwa dzahir dari hadits tersebut menunjukkan HARAMNYA. (Nailul Authar:3/186).</p>
<p>Hikmah larangan membuat shaf di antara tiang-tiang<br />
Telah disebutkan oleh para ulama, diantaranya Ibnul Arabi, Al-Baihaqi, Imam Ahmad, dan sebagian dari kalangan Hanabilah seperti Ibnu Muflih, Al-Mardawi, Ibnu Qudamah, dan yang lainnya bahwa hikmah dilarangnya membuat shaf diantara tiang-tiang masjid adalah disebabkan karena hal tersebut menyebabkan terputusnya shaf shalat. Sedangkan merupakan suatu hal yang dituntut dalam barisan sholat adalah rapat, dan tidak terputus. Maka apabila shaf tersebut diputus oleh tiang-tiang masjid, maka menyebabkan hilangnya salah satu tujuan bershaf yaitu merapatkannya, sehingga menyatukan jasad kaum muslimin antara satu yang lainnya yang mengantarkan kepada menyatunya pula hati-hati mereka.</p>
<p>Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:<br />
ــ أقيموا الصفوف فإنما تصفون بصفوف الملائكة و حاذوا بين المناكب و سدوا الخلل و لينوا بأيدي إخوانكم و لا تذروا فرجات للشيطان و من وصل صفا وصله الله و من قطع صفا قطعه الله عز و جل .<br />
&#8220;Luruskanlah shaf-shaf kalian, sesungguhnya kalian bershaf seperti shaf-shaf-nya para malaikat, dan sejajarkanlah diantara pundak-pundak kalian.tutuplah yang kosong, lembutlah pada tangan saudara kalian dan jangan kalian biarkan adanya lubang-lubang syaithan.Barangsiapa yang menyambung shaf, maka Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya), dan barangsiapa yang memutus shaf, maka Allah akan memutusnya (menjauhkan dari rahmat-Nya).&#8221;<br />
(HR.Ahmad, Abu Dawud, Thabrani, dari hadits Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma. Dishahihkan Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Jami&#8217;, no:1187).</p>
<p>Abu Dawud berkata : “Aku telah bertanya kepada Imam Ahmad tentang shalat diantara tiang-tiang”, maka beliau menjawab : “Sesungguhnya hal itu dibenci sebab membuat shaf terputus. Maka apabila berjauhan diantara kedua tiangnya maka aku berharap (tidak mengapa).”<br />
Oleh karena sebab terputusnya shaf sholat tersebut, maka termasuk pelanggaran yang terdapat di sebagian masjid, terdapatnya mimbar yang terlalu panjang yang menyebabkan terputusnya shaf pertama. Sehingga pelanggaran dengan sebab mimbar tersebut dari dua perkara:<br />
Pertama: Menyelisihi mimbar Nabi shallallahu alaihi wasallam yang hanya terdiri dari tiga anak tangga<br />
Kedua: Menyebabkan terputusnya shaf sholat<br />
(lihat kitab: Ats-Tsamar Al-Mustathab:1/413)</p>
<p>Semoga Allah memberikan hidayah kepada kaum muslimin untuk beramal dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan menyatukan mereka di atasnya.Amin.</p>
<p>Ditulis oleh : Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi</p>
<p>Daftar rujukan:<br />
1). Shahih Bukhari<br />
2). Shahih Muslim<br />
3). Jami&#8217; Tirmidzi<br />
4). Sunan Abi Dawud<br />
5). Sunan An-Nasaai<br />
6). Sunan Ibnu Majah<br />
7). Al-Ihsan litartib Shahih Ibnu Hibban<br />
8). Mustadrak Al-Hakim<br />
9). Sunan Kubra, Al-Baihaqi<br />
10). Sunan Kubra, An-Nasaai<br />
11). Al-Mukhtarah, Dhiyaa&#8217;<br />
12). Mushannaf Abdurrazzaq<br />
13). Mushannaf Ibnu Abi Syaibah<br />
14). Shahih Ibnu Khuzaimah<br />
15). Musnad Abi Dawud At-Thayalisi<br />
16). Mu&#8217;jam Kabir, At-Thabrani<br />
17). Musnad Al-Bazzar<br />
18). Mu&#8217;jam Ausath, At-Thabrani<br />
19). Tarikh Kabir, Imam Bukhari<br />
20). Akhbar Makkah, al-Fakihi<br />
21). Musnad Ibnul Ja&#8217;ad<br />
22). Tahdzib At-Tahdzib, Ibnu Hajar Al-Asqalani<br />
23). Taqrib Attahdzib, Ibnu Hajar<br />
24). Nailul Authar, Asy-Syaukani<br />
25). Al-Mughni, Ibnu Qudamah<br />
26). Al-Mubdi&#8217;, Ibnu Muflih<br />
27). Al-Inshaf, Al-Mardawi<br />
28). Ats-Tsamar al-Mustathab, Al-Albani<br />
29). Asyarhul Mumti&#8217;, Ibnu Utsaimin<br />
30). Silsilah As-shohihah, Al-Albani<br />
31). Silsilah Ad-Dho&#8217;ifah, Al-Albani<br />
32). Shahih Al-Jami&#8217;, Al-Albani<br />
33). Shahih Abi Dawud, Al-Albani</p>
<p>(Dikutip dari tulisan Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi, judul asli HUKUM SHAF (BARISAN) SHOLAT YANG TERPUTUS OLEH TIANG MESJID DAN YANG SEMISALNYA, dikirim via email tgl 02/09/2005 ke redaksi).</p></div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/byonspot.wordpress.com/69/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/byonspot.wordpress.com/69/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/byonspot.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/byonspot.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/byonspot.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/byonspot.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/byonspot.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/byonspot.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/byonspot.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/byonspot.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/byonspot.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/byonspot.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/byonspot.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/byonspot.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/byonspot.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/byonspot.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=69&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/hukum-shaf-yang-terpisah-dengan-tiang-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e08ce7fed8a6a0a72739bd469899b2c8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abunadiah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/images/print.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Seputar masalah sholat (Luruskan Shaf)</title>
		<link>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/seputar-masalah-sholat-luruskan-shaf/</link>
		<comments>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/seputar-masalah-sholat-luruskan-shaf/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 06:40:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abunadiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://byonspot.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Seputar masalah sholat (Luruskan Shaf) Rabu, 12 Oktober 2005 &#8211; 01:53:35 :: kategori Fiqh Penulis: Abu Rasyid Ash-Shinkuaniy .: :. Luruskan Shaf-Shaf Kalian! Kedudukan dan Pentingnya Shalat Rukun Islam yang paling utama setelah persaksian dengan dua kalimat syahadat adalah mendirikan shalat. Bahkan shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab di hari kiamat nanti. Apabila [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=67&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="article-index-container">
<div class="article-index-title">Seputar masalah sholat (Luruskan Shaf)</div>
<div class="article-index-meta">Rabu, 12 Oktober 2005 &#8211; 01:53:35			 :: kategori <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=arsip&amp;cat_id=3">Fiqh</a></div>
<div class="article-index-meta">Penulis: Abu Rasyid Ash-Shinkuaniy</div>
<div class="article-index-content">
<div>.: <a href="http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=1011" target="_blank"><img src="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/images/print.png" alt="" /></a> :.</div>
<p>Luruskan Shaf-Shaf Kalian!</p>
<p>Kedudukan dan Pentingnya Shalat<br />
Rukun Islam yang paling utama setelah persaksian dengan dua kalimat syahadat adalah mendirikan shalat. Bahkan shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab di hari kiamat nanti. Apabila baik shalatnya, niscaya akan baik pula seluruh amalan yang lainnya akan tetapi sebaliknya apabila shalatnya rusak/jelek, niscaya akan rusak pula amalan yang lainnya.</p>
<p>Untuk itu sangatlah wajib bagi kita untuk memperhatikan permasalahan shalat, di mulai dari rukun-rukunnya, syarat wajibnya, thaharahnya dan lainnya yang berkaitannya dengan shalat.</p>
<p>Pentingnya Meluruskan Shaf &amp; Ancaman Keras bagi yang Tidak Meluruskannya<br />
Dan di antara hal yang berkaitan dengan shalat yang harus diperhatikan dengan serius dan tidak boleh diremehkan adalah permasalahan lurus dan rapatnya shaf (barisan dalam shalat).<br />
Mengapa demikian? Karena ancamannya pun tidak sembarangan, yakni ancaman bagi yang tidak meluruskan shaf.</p>
<p>Dijelaskan di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dan Al-Imam Muslim dari shahabat Abu Abdillah An-Nu&#8217;man bin Basyir, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,<br />
لَتُسَوُّنَّ سُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ<br />
&#8220;Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian (menjadikan wajah-wajah kalian berselisih).&#8221; (HR. Al-Bukhariy no.717 dan Muslim 436))</p>
<p>Dalam satu riwayat milik Al-Imam Muslim disebutkan,<br />
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يُسَوِّي صُفُوْفَنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا القِدَاحَ حَتَّى إِذَا رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ حَتَّى كَادَ أَنْ يُكَبِّرَ فَرَأَى رَجُلاً بَادِيًا صَدْرُهُ فَقَالَ: عِبَادَ اللهِ لَتُسَوُّنَّ سُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ<br />
&#8220;Bahwasanya Rasulullah biasa meluruskan shaf-shaf kami seakan-akan beliau sedang meluruskan anak panah sehingga apabila beliau melihat bahwasanya kami telah memahami hal itu, yakni wajibnya meluruskan shaf (maka beliaupun memulai shalatnya, pent). Kemudian pada suatu hari beliau keluar, lalu berdiri sampai hampir-hampir beliau bertakbir untuk shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol sedikit dadanya, maka beliaupun bersabda, &#8220;Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka Allah sungguh akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.&#8221;<br />
Lihatlah wahai saudaraku, kaum muslimin, sabda beliau yang mulia, yang mana beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah Allah terangkan sifatnya kepada orang-orang beriman,<br />
&#8220;Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan, kebaikan dan keselamatan) bagi kalian, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.&#8221; (At-Taubah:128)</p>
<p>Tidaklah beliau bersabda demikian kecuali karena menginginkan kebaikan bagi ummatnya, kaum muslimin.<br />
Tidak ada satu kebaikan pun yang akan mendekatkan ke jannah kecuali telah beliau tunjukkan kepada ummatnya agar melakukannya dan tidak ada satu kejelekan pun yang akan mengantarkan ke neraka kecuali telah beliau larang ummatnya agar menjauhinya.</p>
<p>Di dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sangat menekankan agar meluruskan shaf di dalam shalat dengan sabdanya, &#8220;Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian.&#8221;<br />
&#8220;Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian&#8221; dalam kalimat ini terdapat tiga penekanan dan penguat yaitu: sumpah yang diperkirakan, lam taukid dan nun taukid.<br />
Demikian juga kalimat setelahnya, &#8220;atau sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian&#8221;, mengandung tiga penekanan dan penguat: sumpah, lam taukid dan nun tukid, yakni jika kalian tidak meluruskan shaf, maka sungguh Allah subhanahu wa ta&#8217;ala akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.</p>
<p>Makna Berpaling/Berselisihnya Wajah<br />
Para ulama berbeda pendapat tentang makna &#8220;berpalingnya atau berselisihnya wajah&#8221;.<br />
Sebagian mereka berpendapat, bahwasanya maknanya adalah sungguh Allah subhanahu wa ta&#8217;ala akan memalingkan antar wajah-wajah mereka dengan memalingkan sesuatu yang dapat dirasakan panca indera, yaitu dengan memutar leher, sehingga wajahnya berada dibelakangnya, dan Allah subhanahu wa ta&#8217;ala Maha Mampu atas segala sesuatu.<br />
Dialah Allah &#8216;Azza Wa Jalla yang telah menjadikan sebagian keturunan Nabi Adam (yaitu Bani Israil) menjadi kera, di mana Allah subhanahu wa ta&#8217;ala berkata kepada mereka: &#8220;Jadilah kalian kera yang hina&#8221; (Al-Baqarah:65) maka jadilah mereka kera.<br />
Maka Allah subhanahu wa ta&#8217;ala mampu untuk memutar leher manusia sehingga wajahnya berada di punggungnya, dan ini adalah siksaan yang dapat dirasakan panca indera.</p>
<p>Adapun ulama yang lain berpendapat, bahwa yang dimaksudkan perselisihan di sini adalah perselisihan maknawiyyah, yakni berselisihnya hati, karena hati itu mempunyai arah, maka apabila hati itu bersepakat terhadap satu arah, satu pandangan, satu aqidah dan satu manhaj, maka akan didapatkan kebaikan yang banyak. Akan tetapi sebaliknya apabila hati berselisih maka ummat pun akan berpecah belah.<br />
Sehingga yang dimaksud perselisihan dalam hadits ini adalah perselisihan hati, dan inilah tafsiran yang paling shahih/benar, karena terdapat dalam sebagian lafazh hadits, &#8220;atau sungguh Allah akan palingkan antar hati-hati kalian.&#8221;<br />
Dengan alasan inilah, maka yang dimaksud dengan sabda beliau, &#8220;atau sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian&#8221;, yakni cara pandang kalian, yang hal ini terjadi dengan berselisihnya hati.</p>
<p>Wajibnya Meluruskan Shaf<br />
Bagaimanapun juga, di dalam hadits ini terdapat dalil akan wajibnya meluruskan shaf, dan bahwasanya wajib atas para makmum untuk meluruskan shaf-shaf mereka, dan kalau mereka tidak meluruskan shafnya, maka sungguh mereka telah mempersiapkan diri-diri mereka untuk mendapatkan siksaan dari Allah subhanahu wa ta&#8217;ala, wal&#8217;iyaadzu billaah.</p>
<p>Pendapat ini yaitu wajibnya meluruskan shaf adalah pendapat yang benar, sehingga wajib atas imam-imam shalat agar memperhatikan shaf, apabila didapatkan padanya kebengkokan atau ada yang sedikit maju atau mundur, maka para imam tersebut harus memperingatkan mereka agar meluruskan shafnya.</p>
<p>Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun kadang-kadang berjalan di antara shaf-shaf untuk meluruskannya dengan tangannya yang mulia dari shaf yang pertama sampai terakhirnya.<br />
Ketika manusia semakin banyak di masa khilafah &#8216;Umar Ibnul Khaththab, &#8216;Umar pun memerintahkan seseorang untuk meluruskan shaf apabila telah dikumandangkan iqamah. Apabila orang yang ditugaskan tersebut telah datang dan mengatakan, &#8220;Shaf telah lurus&#8221; maka &#8216;Umar pun bertakbir untuk memulai shalat.</p>
<p>Demikian juga hal ini dilakukan oleh &#8216;Utsman bin &#8216;Affan, beliau menugaskan seseorang untuk meluruskan shaf-shaf manusia, maka apabila orang tersebut datang dan mengatakan, &#8220;Shaf telah lurus&#8221;, beliaupun bertakbir untuk memulai shalat.<br />
Semuanya ini menunjukkan atas perhatian yang tinggi dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan Khulafa`ur Rasyidin dalam masalah meluruskan shaf.</p>
<p>Sebagian Kaum Muslimin Susah Diatur<br />
Akan tetapi, sungguh amat disesalkan, sekarang engkau akan dapati para makmum tidak mempedulikan masalah meluruskan shaf, yang satu agak maju ke depan, yang satu lagi agak mundur ke belakang, tidak peduli akan lurusnya shaf.<br />
Kadang-kadang mereka lurus pada raka&#8217;at pertama, kemudian ketika sujud muncullah kesenjangan, yang satu agak maju dan yang lain agak ke belakang, dan mereka tidak meluruskan shaf pada raka&#8217;at kedua, bahkan mereka tetap seperti itu tidak meluruskan shaf di raka&#8217;at kedua dan seterusnya, ini adalah kesalahan.</p>
<p>Yang lebih mengherankan dari semuanya itu adalah ketika ada seseorang yang paham akan wajibnya meluruskan shaf, dia bertindak sebagai imam, maka diapun melaksanakan petunjuk Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yaitu memeriksa para makmum dan memerintahkan mereka untuk meluruskan shaf, maka engkau akan dapati sebagian makmum tersebut enggan, tidak mau lurus dan rapat. Bahkan ada yang menonjol maju ke depan atau mundur ke belakang, ataupun kaki-kaki mereka tidak rapat antara satu dengan lainnya. Dalam keadaan mereka sudah mengetahui hadits di atas. Wallaahul Musta&#8217;aan.</p>
<p>Semoga Allah Tabaraka Wa Ta&#8217;ala menunjuki semua kaum muslimin agar menjadi orang-orang yang taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, di mana sifat orang-orang mukmin yang baik adalah sami&#8217;naa wa atha&#8217;naa (kami mendengar dan kami taat), bukan sami&#8217;naa wa &#8216;ashainaa (kami mendengar dan kami melanggarnya).<br />
Yang jelas wajib bagi imam maupun para makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf.</p>
<p>Bila Hanya Ada Imam &amp; Seorang Makmum<br />
Kalau ada yang bertanya, &#8220;Apabila di sana hanya ada imam dengan seorang makmum saja, apakah imam maju sedikit ke depan ataukah sejajar dengan makmum?&#8221;<br />
Jawabannya adalah hendaklah imam sejajar dengan makmum, imam berada di sebelah kiri sedangkan makmum di sebelah kanan imam, karena apabila hanya ada imam dan seorang makmum saja, maka berarti shaf cuma ada satu, yang tidak mungkin makmum sendirian di belakang imam, bahkan yang benar adalah mereka berdua berada dalam satu shaf yaitu sang imam sejajar dengan makmum. Dengan berada dalam satu shaf akan terjadi kelurusan dalam shaf.<br />
Dalilnya adalah ketika Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam shalat malam, datanglah Ibnu &#8216;Abbas berdiri di sebelah kiri beliau, maka beliau pun menarik Ibnu &#8216;Abbas dan menjadikannya tepat di sebelah kanan beliau. (Muttafaqun &#8216;alaihi)</p>
<p>Hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan oleh sebagian ulama, &#8220;Bahwasanya hendaklah imam maju sedikit ke depan&#8221;, karena pendapat ini tidak ada dalilnya, bahkan justru dalil menyelisihi pendapat ini, yaitu hendaklah antara imam dan makmum sejajar apabila mereka hanya berdua.</p>
<p>Jangan Ada yang Menonjol Dadanya!<br />
Kemudian dalam riwayat yang lain disebutkan, &#8220;Bahwasanya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam biasa meluruskan shaf-shaf kami (para shahabat) seakan-akan meluruskan anak panah.&#8221; Maka jadilah shaf mereka benar-benar lurus dengan sempurna, sehingga tidak ada yang maju ataupun mundur walaupun sedikit.<br />
Beliau biasa meluruskan shaf seperti meluruskan anak panah, sehingga apabila beliau melihat bahwasanya para shahabatnya telah memahaminya, yakni mereka telah paham dan tahu bahwasanya shaf harus lurus, beliaupun memulai shalatnya.<br />
Kemudian pada suatu hari beliau keluar untuk melaksanakan shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol dadanya, maka beliaupun besabda, &#8220;Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan palingkan antar wajah-wajah kalian.&#8221;<br />
Sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8220;Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian&#8221; sebabnya adalah semata-mata hanya karena beliau melihat seseorang menonjol dadanya, yaitu dada orang tersebut menonjol sedikit.</p>
<p>Bagaimana kalau beliau melihat shaf-shaf yang ada sekarang? Yang satu ke depan, yang satu lagi ke belakang, shaf mereka bengkok, tidak lurus dan tidak rapat? Bisa kita bayangkan apa yang akan diucapkan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ketika melihat keadaan seperti itu?</p>
<p>Imam Shalat Hendaklah Memeriksa Shaf<br />
Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwasanya di antara petunjuk Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah bahwa beliau senantiasa memeriksa shaf, meluruskan dan merapatkan shaf. Kalau masih ada yang belum lurus atau belum rapat maka beliaupun meluruskannya bahkan mengancam -sebagaimana kisah di atas- kepada orang yang maju sedikit dari shafnya dengan ancaman ini, &#8220;Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.&#8221;</p>
<p>Petunjuk ini harus diteladani oleh para imam shalat agar memeriksa, mengatur dan meluruskan shaf para makmum.<br />
Kesimpulannya adalah wajib atas kita untuk menerangkan masalah ini kepada imam-imam masjid dan demikian juga kepada para makmum agar mereka memperhatikan perkara yang sangat berbahaya ini sehingga mereka benar-benar meluruskan dan merapatkan shafnya di dalam shalat.</p>
<p>Semoga Allah subhanahu wa ta&#8217;ala selalu membimbing kita kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wallaahu A&#8217;lam.</p>
<p>Disadur dari Syarh Riyaadhush Shaalihiin hal.453-454 cetakan Maktabah Ash-Shafaa dengan beberapa tambahan dan perubahan.</p>
<p>Abu Rasyid Ash-Shinkuaniy</p>
<p>(Dikutip dari bulletin Al Wala&#8217; wal Bara&#8217;, Edisi ke-25 Tahun ke-3 / 20 Mei 2005 M / 11 Rabi&#8217;uts Tsani 1426 H, url asli http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/25.htm)</p></div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/byonspot.wordpress.com/67/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/byonspot.wordpress.com/67/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/byonspot.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/byonspot.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/byonspot.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/byonspot.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/byonspot.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/byonspot.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/byonspot.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/byonspot.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/byonspot.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/byonspot.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/byonspot.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/byonspot.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/byonspot.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/byonspot.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=67&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/seputar-masalah-sholat-luruskan-shaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e08ce7fed8a6a0a72739bd469899b2c8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abunadiah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/images/print.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Syarat-syarat Shalat</title>
		<link>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/63/</link>
		<comments>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/63/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 06:31:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abunadiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/63/</guid>
		<description><![CDATA[Syarat-syarat Shalat Sabtu, 06 Oktober 2007 &#8211; 05:45:46 :: kategori Fiqh Penulis: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari .: :. Ada beberapa hal yang harus dipenuhi sebelum shalat ditunaikan. Berikut adalah penjelasannya. Sebagai salah satu bentuk ibadah, shalat memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Pengertian syarat sendiri menurut ulama ilmu ushul adalah perkara yang keberadaan suatu hukum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=63&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syarat-syarat Shalat</p>
<p>Sabtu, 06 Oktober 2007 &#8211; 05:45:46			 :: kategori <a href="http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=arsip&amp;cat_id=3">Fiqh</a></p>
<p>Penulis: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari 		 			 				.:  				:.</p>
<p>Ada beberapa hal yang harus dipenuhi sebelum shalat ditunaikan. Berikut adalah penjelasannya. Sebagai salah satu bentuk ibadah, shalat memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Pengertian syarat sendiri menurut ulama ilmu ushul adalah perkara yang keberadaan suatu hukum tergantung dengannya. Dalam arti, bila ia tidak ada maka pasti tidak ada hukum. Namun adanya perkara tersebut tidak mengharuskan adanya hukum. Contohnya, adanya wudhu sebagai suatu syarat dalam ibadah shalat tidak mengharuskan adanya shalat. Karena bisa jadi orang berwudhu bukan untuk shalat tapi untuk menjaga agar ia selalu di atas thaharah atau ia wudhu karena hendak tidur. Sebaliknya bila tidak ada wudhu (ataupun penggantinya) maka tidak sah shalatnya. Contoh lain, adanya dua saksi merupakan syarat sahnya suatu akad nikah. Namun adanya dua saksi tidak mengharuskan adanya akad nikah, sebaliknya bila tidak ada dua saksi tidak sah suatu pernikahan. (Asy-Syarhul Mumti&#8217;, 1/396, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/86)</p>
<p>Setelah kita fahami makna syarat, maka kita masuk pada pembahasan syarat-syarat shalat1.</p>
<p>1. Sudah masuk waktu shalat</p>
<p>2. Suci dari hadats</p>
<p>3. Suci pakaian, badan, dan tempat shalat dari najis</p>
<p>4. Menutup aurat</p>
<p>5. Menghadap kiblat</p>
<p>6. Niat</p>
<p>1. Telah Masuk Waktu</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَوْقُوْتًا</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang ditetapkan waktunya bagi kaum mukminin.&#8221; (An-Nisa`: 103)</p>
<p>Dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak sekali kita dapatkan dalil tentang permasalahan ini. Kaum muslimin pun sepakat akan tidak sahnya shalat yang dikerjakan sebelum masuk waktunya. Bila seseorang shalat sebelum waktunya dengan sengaja maka shalatnya batil dan ia tidak selamat dari dosa. Namun bila tidak sengaja, dalam arti ia mengira telah masuk waktu shalat padahal belum, maka ia tidak berdosa. Shalatnya tersebut teranggap shalat nafilah (shalat sunnah) dan ia wajib mengulangi shalatnya setelah masuk waktunya. (Asy-Syarhul Mumti&#8217; 1/398)</p>
<p>Perincian tentang waktu shalat akan kami bawakan dalam pembahasan tersendiri, insya Allah.</p>
<p>2. Suci dari Hadats</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوْهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوْسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا</p>
<p>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak menegakkan shalat, basuhlah wajah kalian dan lengan kalian sampai siku, lalu usaplah kepala kalian dan cucilah kaki kalian sampai mata kaki. Dan jika kalian junub, bersucilah&#8230;.&#8221; (Al-Ma`idah: 6)</p>
<p>Dalam ayat di atas ada perintah dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala kepada hamba-hamba-Nya yang ingin shalat sementara mereka belum bersuci agar membasuh wajah dan tangan mereka sampai siku dengan menggunakan air, dan seterusnya dari amalan wudhu. (Jami&#8217;ul Bayan fit Ta`wil Ayil Qur`an, 4/50)</p>
<p>Al-‘Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa&#8217;di rahimahullahu mengatakan bahwa dalam ayat yang agung ini terkandung banyak hukum. Di antaranya:</p>
<p>- Disyaratkannya thaharah untuk sahnya shalat, karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berthaharah ketika hendak menunaikan shalat. Sementara, hukum asal suatu perintah adalah wajib.</p>
<p>- Thaharah tidak wajib dilakukan ketika telah masuk waktu shalat, namun thaharah hanya diwajibkan ketika seseorang ingin mengerjakan shalat.</p>
<p>- Seluruh amalan yang dinamakan shalat, baik shalat itu wajib atau nafilah, maupun shalat yang fardhu kifayah seperti shalat jenazah, disyaratkan thaharah sebelumnya. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 222)</p>
<p>Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, &#8220;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ</p>
<p>&#8220;Tidak diterima shalat seseorang yang berhadats hingga ia berwudhu.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 135 dan Muslim no. 536)</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu memaknakan hadits di atas: &#8220;(Tidak diterima shalat seseorang yang berhadats) hingga ia bersuci dengan air atau tanah/debu. Dalam hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyebut wudhu karena asal mula bersuci itu dengan wudhu (bila tidak ada air baru menggantinya dengan yang lain, -pent.) dan itu yang lebih banyak dilakukan. Wallahu a&#8217;lam.&#8221; (Al-Minhaj, 3/99)</p>
<p>Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, &#8220;Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُوْرٍ &#8230;</p>
<p>&#8220;Tidak diterima shalat tanpa bersuci&#8230;&#8221; (HR. Muslim no. 534)</p>
<p>Hadits di atas merupakan nash yang menunjukkan wajibnya thaharah bila hendak mengerjakan shalat sementara ia dalam keadaan berhadats. Dan ulama sepakat bahwa thaharah ini merupakan syarat sahnya shalat. (Tharhut Tatsrib 2/400, 409, Al-Minhaj 3/98)</p>
<p>Hadats yang dimaksudkan dalam pembahasan di sini mencakup hadats besar seperti janabah dan hadats kecil seperti buang air besar, kencing, buang angin, dan sebagainya.</p>
<p>3. Suci Pakaian, Badan dan Tempat Shalat dari Najis</p>
<p>Dalil tentang sucinya pakaian didapatkan dari firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<p>وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ</p>
<p>&#8220;Dan pakaianmu sucikanlah.&#8221; (Al-Mudatstsir: 4)</p>
<p>Sebagian ahlul ilmi menafsirkan ayat ini dengan: &#8220;Sucikanlah pakaianmu dari najis untuk mengerjakan shalat.&#8221; Adapun yang lainnya menafsirkan dengan selain makna ini. (Ma&#8217;alimut Tanzil 4/383, Adhwa`ul Bayan 8/619)</p>
<p>Dari As-Sunnah didapatkan banyak dalil, seperti hadits Asma` bintu Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma berkata, &#8220;Ada seorang wanita bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ya Rasulullah, apa pendapatmu bila pakaian salah seorang dari kami terkena darah haid, apa yang harus diperbuatnya?&#8221; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memberi bimbingan:</p>
<p>إِذَا أَصَابَ ثَوْبَ إِحْدَاكُنَّ الدَّمَ مِنَ الْحَيْضَةِ فَلْتُقْرِصْهُ ثُمَّ لِتَنْضَحْهُ بِمَاءٍ ثُمَّ لِتُصَلِّي فِيْهِ</p>
<p>&#8220;Apabila pakaian salah seorang dari kalian terkena darah haid, hendaklah ia mengeriknya kemudian membasuhnya dengan air. Setelah itu, ia boleh mengenakannya untuk shalat.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 307 dan Muslim no. 673)</p>
<p>Kata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-&#8217;Asqalani rahimahullahu, dalam hadits ini terdapat isyarat dilarangnya shalat bila mengenakan pakaian yang terkena najis. (Fathul Bari, 1/532)</p>
<p>Demikian pula hadits tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas sandalnya ketika shalat, sebagaimana diberitakan Abu Sa&#8217;id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:</p>
<p>بَيْنَمَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ، فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ. فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ. فَلَمَّا قَضَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَتَهُ قَالَ: مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَائِكُمْ نِعَالَكُمْ؟ قَالُوا: رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيْهِمَا قَذَرًا &#8211; أَوْ قَالَ: أَذًى -. وَقَالَ: إِذَا جاَءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيْهِمَا</p>
<p>Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat bersama shahabat-shahabat beliau, tiba-tiba beliau melepas kedua sandalnya2 lalu meletakkannya di sebelah kiri beliau. Ketika melihat hal tersebut, mereka (para shahabat) pun melepaskan sandal mereka. Selesai dari shalat, Rasulullah bertanya, &#8220;Ada apa kalian melepaskan sandal-sandal kalian?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Kami melihatmu melepas sandalmu maka kami pun melepaskan sandal-sandal kami.&#8221; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, &#8220;Tadi Jibril mendatangiku dan mengabarkan bahwa pada kedua sandalku ada kotoran/najis, maka akupun melepaskan keduanya.&#8221; Beliau juga mengatakan, &#8220;Apabila salah seorang dari kalian datang ke masjid, sebelum masuk masjid hendaklah ia melihat kedua sandalnya. Bila ia lihat ada kotoran atau najis maka hendaklah membersihkannya. Setelah bersih, ia boleh shalat dengan mengenakan kedua sandalnya.&#8221; (HR. Abu Dawud no. 650 dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud, Irwa`ul Ghalil no. 284 dan Ashlu Shifati Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/110)</p>
<p>Mengenai kesucian badan maka tentunya lebih utama daripada sucinya pakaian yang dikenakan. Di samping ada pula hadits yang menunjukkan wajibnya membersihkan najis yang ada pada badan seperti hadits Anas radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata, &#8220;Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>تَنَزَّهُوْا مِنَ الْبَوْلِ، فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ</p>
<p>&#8220;Bersucilah kalian dari kencing karena kebanyakan adzab kubur disebabkan kencing.&#8221; (HR. Ad-DaraQathani dalam Sunan-nya hal. 7, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 280)3</p>
<p>Demikian pula hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:</p>
<p>كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً فَكُنْتُ أَسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ، فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ اْلأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: يَغْسِلُ ذَكَرَهَ ويَتَوَضَّأُ</p>
<p>&#8220;Aku seorang lelaki yang banyak mengeluarkan madzi, namun aku malu menanyakannya langsung kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebabkan keberadaan putri beliau (sebagai istriku). Maka aku menyuruh Al-Miqdad ibnul Aswad untuk menanyakannya. Ia pun bertanya kepada beliau, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tuntunan, ‘Hendaklah ia mencuci kemaluannya kemudian berwudhu4&#8242;.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 132 dan Muslim no. 693)</p>
<p>Adapun dalil tentang kesucian tempat shalat adalah firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<p>أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِيْنَ وَالْعَاكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ</p>
<p>&#8220;Bersihkanlah rumah-Ku (Baitullah) (wahai Ibrahim dan Ismail) untuk orang-orang yang thawaf, yang i&#8217;tikaf, yang ruku&#8217;, dan yang sujud.&#8221; (Al-Baqarah: 125)</p>
<p>Demikian pula adanya perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyiram kencing A&#8217;rabi (Arab gunung/Badui) sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:</p>
<p>أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَامَ إِلَى نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ فَبَالَ فِيْهَا، فَصَاحَ بِهِ النَّاسُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعُوْهُ. فَلَمَّا فَرَغَ أَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَنُوْبٍ فَصُبَّ عَلَى بَوْلِهِ</p>
<p>Ada seorang A&#8217;rabi bangkit menuju ke pojok masjid lalu kencing di tempat tersebut. Melihat hal itu, orang-orang berteriak menghardiknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menegur, &#8220;Biarkan ia menyelesaikan kencingnya.&#8221; Seselesainya si A&#8217;rabi kencing, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar mengambil air satu ember penuh, lalu dituangkan di atas kencingnya.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 221 dan Muslim no. 658)</p>
<p>Bila seseorang melihat pada tubuh, pakaian atau tempat shalatnya ada najis setelah selesai shalatnya, apakah ia harus mengulangi shalatnya?</p>
<p>Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat. Namun yang rajih, wallahu a&#8217;lam, orang itu tidak wajib mengulangi shalatnya, baik keberadaan najis tersebut telah diketahuinya sebelum shalat tapi ia lupa, atau lupa mencucinya, ataupun ia tidak tahu bila najis itu terkena dirinya, atau ia tidak tahu kalau itu najis, atau ia tidak tahu hukumnya, atau ia tidak tahu apakah najis itu mengenainya sebelum shalat ataukah sesudah shalat. Pendapat ini yang dipilih oleh Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah, Al-Majdu, Syaikhul Islam, Ibnul Qayyim, dan selain mereka rahimahumullah. Dalilnya adalah kaidah umum yang agung yang Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala letakkan bagi hamba-hamba-Nya, yaitu firman-Nya:</p>
<p>رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا</p>
<p>&#8220;Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau keliru&#8230;.&#8221; (Al-Baqarah: 286)</p>
<p>Dan juga hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melepas sandal beliau dalam shalatnya setelah Jibril ‘alaihissalam mengabarkan bahwa pada sandalnya ada kotoran/najis. Beliau tidaklah membatalkan shalatnya, namun melanjutkannya setelah melepas kedua sandalnya. (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah fashl Man Shalla Tsumma Ra`a ‘Alaihi Najasah fi Badanihi au Tsiyabihi, Asy-Syarhul Mumti&#8217; 1/485, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/94, Taudhihul Ahkam 2/33)</p>
<p>4. Menutup Aurat</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ</p>
<p>&#8220;Wahai anak Adam kenakanlah zinah5 kalian setiap kali menuju masjid.&#8221; (Al-A&#8217;raf: 31)</p>
<p>Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu berkata: &#8220;Mereka diperintah untuk mengenakan zinah ketika datang ke masjid guna melaksanakan shalat atau thawaf di Baitullah. Ayat ini dijadikan dalil untuk menunjukkan wajibnya menutup aurat di dalam shalat. Demikian pendapat yang dipegangi oleh jumhur ulama. Bahkan menutup aurat ini wajib dalam segala keadaan, sekalipun seseorang shalat sendirian sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih.&#8221; (Fathul Qadir, 2/200)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu menyatakan, &#8220;(Perintah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dalam ayat di atas adalah) perintah untuk mengenakan zinah setiap kali ke masjid, yang dinamakan oleh para fuqaha: bab Sitrul ‘Aurah fish Shalah (bab Menutup aurat dalam shalat).&#8221; (Hijabul Mar`ah wa Libasuha fish Shalah hal. 14)</p>
<p>Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menerangkan sebab turunnya ayat di atas, &#8220;Dulunya di masa jahiliah, wanita biasa thawaf di Ka&#8217;bah dalam keadaan tanpa busana. Yang tertutupi hanyalah bagian kemaluannya. Ia thawaf seraya bersyair:</p>
<p>Pada hari ini tampak tubuhku sebagiannya atau pun seluruhnya</p>
<p>Maka apa yang nampak darinya tidaklah aku halalkan.</p>
<p>Lalu turunlah ayat di atas.&#8221; (HR. Muslim no. 7467)</p>
<p>Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu dalam tafsirnya terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala di atas menyatakan, &#8220;Yang dimaksud dengan zinah adalah pakaian. Mujahid berkata, ‘(Zinah adalah) apa yang menutupi auratmu walaupun berupa ‘aba&#8217;ah.&#8217; Al-Kalbi berkata, ‘Zinah adalah apa yang menutupi aurat setiap kali ke masjid untuk thawaf dan shalat&#8217;.&#8221; (Ma&#8217;alimut Tanzil, 2/157)</p>
<p>Dulunya orang-orang jahiliah thawaf di Ka&#8217;bah dalam keadaan telanjang. Mereka melemparkan pakaian mereka dan membiarkannya tergeletak di atas tanah terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang lalu lalang. Mereka tidak lagi mengambil pakaian tersebut untuk selamanya, hingga usang dan rusak. Demikian kebiasaan jahiliah ini berlangsung hingga datang Islam dan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memerintahkan mereka untuk menutup aurat: &#8220;Wahai anak Adam, kenakanlah zinah kalian setiap kali menuju masjid.&#8221;</p>
<p>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>لاَ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ عُرْياَنٌ</p>
<p>&#8220;Tidak boleh orang yang telanjang thawaf di Ka&#8217;bah.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 369, 1622 dan Muslim no. 3274) [Lihat Al-Minhaj 18/357]</p>
<p>Hadits di atas selain dibawakan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya, kitab Al-Hajj bab Tidak boleh orang yang telanjang thawaf di Baitullah dan tidak boleh orang musyrik melaksanakan haji, dibawakan pula oleh beliau dalam kitab Ash-Shalah, bab Wajibnya shalat dengan mengenakan pakaian.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-&#8217;Asqalani rahimahullahu dalam penjelasannya terhadap hadits di atas menyatakan: &#8220;Sisi pendalilan hadits ini dengan judul bab yang diberikan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu (bab Wajibnya shalat dengan mengenakan pakaian) adalah apabila dalam thawaf dilarang telanjang, maka larangan hal ini di dalam shalat lebih utama lagi. Karena apa yang disyaratkan di dalam shalat sama dengan apa yang disyaratkan di dalam thawaf, bahkan dalam shalat ada tambahan. Dan jumhur berpendapat menutup aurat termasuk syarat shalat.&#8221; (Fathul Bari, 1/604)</p>
<p>Faedah</p>
<p>Perlu diperhatikan di sini, menutup aurat di dalam shalat tidaklah cukup dengan berpakaian ala kadarnya yang penting menutup aurat, tidak peduli pakaian itu bau dan kotor misalnya. Namun perlu memerhatikan sisi keindahan dan kebersihan. Karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dalam firman-Nya memerintahkan untuk mengenakan zinah (pakaian sebagai perhiasan) ketika shalat, sebagaimana dalam ayat di atas. Sehingga sepantasnya seorang hamba shalat dengan mengenakan pakaiannya yang paling bagus dan paling indah, karena dia akan ber-munajat dengan Rabb semesta alam dan berdiri di hadapan-Nya. (Al-Ikhtiyarat Ibnu Taimiyyah rahimahullahu hal. 43)</p>
<p>Bedanya Menutup Aurat di Dalam dan di Luar Shalat</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata, &#8220;Mengenakan zinah di dalam shalat merupakan hak Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, sehingga tidak boleh bagi seseorang untuk thawaf di Ka&#8217;bah dalam keadaan telanjang walaupun bersendiri di waktu malam. Tidak boleh pula ia shalat dalam keadaan telanjang walaupun sendirian. Maka mengenakan zinah dalam shalat bukanlah untuk berhijab (menutup tubuh) dari manusia tapi menunaikan hak Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Dengan demikian, menutup aurat di luar shalat dibedakan dari menutup aurat di dalam shalat. Kita dapatkan seseorang yang shalat menutup bagian tubuhnya yang justru boleh tampak bila ia sedang tidak shalat (di luar shalat)6. Sebaliknya ia menampakkan dalam shalatnya apa yang justru harus ditutupnya di luar shalat7. (Hijabul Mar`ah wa Libasuha fish Shalah hal. 23)</p>
<p>Sebenarnya memang yang diperintahkan dalam shalat adalah berhias dan berpenampilan bagus karena hendak berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Bila seseorang merasa malu bertemu dengan seorang raja atau salah seorang pembesar di muka bumi ini dengan pakaian kotor, bau, kusut masai, atau terbuka separuh tubuhnya, lalu bagaimana ia tidak malu berdiri di hadapan Raja Diraja Penguasa alam semesta Subhanahu wa Ta&#8217;ala dengan pakaian yang tidak patut dikenakannya ketika shalat? Karena itulah Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah bekata kepada maulanya, Nafi&#8217;, yang shalat dalam keadaan tidak menutup kepala (dengan peci dan semisalnya), &#8220;Tutuplah kepalamu! Apakah engkau biasa keluar ke hadapan manusia dalam keadaan membuka kepalamu?&#8221; Nafi&#8217; menjawab, &#8220;Tidak pernah.&#8221; &#8220;Allah adalah Dzat yang lebih pantas untuk engkau berhias bila hendak menghadap-Nya&#8221;, kata Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Ma&#8217;anil Atsar, 1/377)</p>
<p>Dengan demikian, semakin fahamlah kita bahwa yang sebenarnya dituntut dalam shalat bukan sekedar menutup aurat, tapi mengenakan zinah. Seseorang yang hendak shalat dituntut agar berada dalam penampilan yang bagus dan indah, karena ia akan berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. (Adz-Dzakhirah lil Qarafi 2/102, Al-Mulakhkhashul Fiqhi 1/93)</p>
<p>Hukum Menutup Pundak bagi Laki-laki di Dalam Shalat</p>
<p>Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, &#8220;Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>لاَ يُصَلِّي أَحَدُكُمْ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقَيْهِ شَيْءٌ</p>
<p>&#8220;Tidak boleh seorang lelaki di antara kalian shalat dengan hanya mengenakan satu kain sementara tidak ada di atas pundaknya sedikitpun dari kain tersebut8.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 359 dan Muslim no. 1151)</p>
<p>Dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan bimbingan kepada orang yang shalat dengan mengenakan satu kain saja tanpa ada pakaian lain, agar tidak mengikat kainnya pada bagian tengah tubuhnya sehingga dua pundaknya dibiarkan terbuka. Tapi hendaknya ia berselubung dengan kain tersebut, dua ujung kainnya diangkat lalu disilangkan dan diikatkannya di atas pundaknya, sehingga kain tersebut keberadaannya seperti izar dan rida`. Hal ini mungkin dilakukan bila kainnya lebar/lapang. Namun bila sempit maka terpaksa diikatkan pada pinggang sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:</p>
<p>فَإِنْ كَانَ وَاسِعًا فَلْتَحِفْ بِهِ وَإِنْ كَانَ ضَيِّقًا فَاتَّزِرْ بِهِ</p>
<p>&#8220;Bila kainmu lebar berselimutlah dengannya (menutupi tubuh bagian bawah dan atas dengan disilangkan dua ujungnya di atas dua pundak) namun bila kainmu sempit ikatkanlah pada setengah tubuhmu yang bagian bawah9.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 361) [Syarhus Sunnah Al-Baghawi 2/433]</p>
<p>Dari dua hadits di atas, tergambar bagi kita hukum menutup pundak dalam shalat. Dalam masalah ini memang ada perselisihan pendapat di kalangan ahlul ilmi.</p>
<p>Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam pendapatnya yang masyhur mengatakan wajib bagi orang yang memiliki kemampuan, berdalil dengan dzahir hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas.</p>
<p>Sementara jumhur ulama, di antaranya imam yang tiga, berpandangan mustahab, karena yang wajib ditutup hanyalah aurat sementara dua pundak bukanlah aurat. Adapun larangan dalam hadits tidaklah menunjukkan haram karena adanya hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu di atas. Sehingga larangan shalat dalam keadaan pundak terbuka mereka bawa kepada nahyut tanzih wal karahah, yaitu makruh, bukan haram. Wallahu a&#8217;lam. (Al-Umm kitab Ash-Shalah bab Jima&#8217;i Libasil Mushalli, Al-Majmu&#8217; 3/181, Al-Mughni kitab Ash-Shalah fashl Hukmi Sitril Mankibain, Raddul Mukhtar ‘Ala Ad-Darril Mukhtar Syarhu Tanwiril Abshar Ibnu ‘Abidin 2/76, Subulus Salam 1/211, Taisirul Allam 1/259,260, Tamamul Minnah hal. 163)</p>
<p>Faedah</p>
<p>Apakah shalat seseorang batal bila di tengah shalatnya tersingkap bagian tubuhnya yang mesti ditutupi dalam shalat?</p>
<p>Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu menerangkan:</p>
<p>1. Bila ia melakukannya dengan sengaja maka batal shalatnya, baik sedikit atau banyak bagian tubuhnya yang tersingkap, lama ataupun hanya sebentar.</p>
<p>2. Bila tidak sengaja dan yang tersingkap hanya sedikit, shalatnya tidak batal.</p>
<p>3. Bila tidak sengaja namun yang tersingkap banyak dalam waktu yang singkat, shalatnya tidak batal.</p>
<p>4. Tersingkap banyak bagian tubuhnya tanpa sengaja dalam waktu yang lama, ia tidak tahu kecuali di akhir shalatnya atau setelah salam, maka shalatnya tidak sah.</p>
<p>Misalnya: Seseorang shalat memakai sirwal (celana panjang yang luas/longgar) dan kain. Selesai salam dari shalatnya, ia dapatkan sirwalnya sobek besar pada bagian kemaluannya hingga menampakkannya, maka shalatnya tidak sah dan ia harus mengulangi shalatnya karena menutup aurat termasuk syarat sahnya shalat. Adapun bila di tengah shalat, pakaiannya sobek besar namun dengan segera ia pegang bagian yang sobek maka shalatnya sah. (Asy-Syarhul Mumti&#8217; 1/446-447)</p>
<p>5. Menghadap Kiblat</p>
<p>Yang dimaukan dengan kiblat adalah Ka&#8217;bah. Dinamakan kiblat karena manusia menghadapkan wajah mereka dan menuju kepadanya. (Al-Majmu&#8217; 3/193, Ar-Raudhul Murbi&#8217; Syarhu Zadil Mustaqni&#8217;, 1/119, Asy-Syarhul Mumti&#8217; 1/501, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/96)</p>
<p>Awalnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memerintahkan beliau menghadap ke Ka&#8217;bah, kiblat yang beliau cintai. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ</p>
<p>&#8220;Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit10, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang engkau sukai. Hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kalian berada, hadapkanlah wajah-wajah kalian ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al-Kitab (dari kalangan Yahudi dan Nasrani) memang mengetahui bahwa menghadap ke Masjidil Haram itu benar dari Rabb mereka, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.&#8221; (Al-Baqarah: 144)</p>
<p>Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu berkata:</p>
<p>صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا، حَتَّى نَزَلَتِ اْلآيَةُ الَّتِي فِي الْبَقَرَةِ {وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ} فَنَزَلَتْ بَعْدَمَا صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْطَلَقَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ، فَمَرَّ بِنَاسٍ مِنَ اْلأَنْصَارِ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ، فَحَدَّثَهُمْ فَوَلَّوْا وُجُوْهَهُمْ قِبَلَ الْبَيْتِ</p>
<p>&#8220;Aku shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama 16 bulan, hingga turunlah ayat dalam surah Al-Baqarah: ‘Dan di mana saja kalian berada, palingkanlah (hadapkanlah) wajah kalian ke arahnya.&#8217; Ayat ini turun setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat. Lalu pergilah seseorang dari mereka yang hadir dalam shalat berjamaah bersama Nabi. Ia melewati orang-orang Anshar yang sedang shalat (dalam keadaan masih menghadap ke arah Baitul Maqdis), maka ia pun menyampaikan kepada mereka tentang perintah perpindahan arah kiblat. Mendengar hal tersebut orang-orang Anshar pun memalingkan/menghadapkan wajah-wajah mereka ke arah Baitullah.&#8221; (HR. Muslim no. 1176) [Al-Hawil Kabir 2/68]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bangkit untuk shalat, beliau menghadap Ka&#8217;bah, baik dalam shalat wajib maupun shalat nafilah. Kata Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu: &#8220;Berita ini merupakan sesuatu yang pasti keberadaannya karena mutawatirnya&#8230;.&#8221; (Ashlu Shifati Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/55)</p>
<p>Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada orang yang salah shalatnya:</p>
<p>إِذَا قُمْتَ إِلىَ الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ&#8230;</p>
<p>&#8220;Bila engkau bangkit untuk menegakkan shalat maka baguskanlah wudhu kemudian menghadaplah kiblat, setelah itu bertakbirlah&#8230;.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 6251 dan Muslim no. 884)</p>
<p>Orang yang Melihat Ka&#8217;bah dan yang Tidak Melihatnya</p>
<p>Bagi orang yang shalat dalam keadaan dapat melihat Ka&#8217;bah maka wajib baginya shalat menghadap persis ke Ka&#8217;bah, seperti keadaan orang yang shalat di Masjidil Haram. Adapun orang yang tidak bisa menyaksikan Ka&#8217;bah secara langsung karena negerinya jauh dari Makkah misalnya, maka wajib baginya menghadap ke arah Ka&#8217;bah. Dalam hal ini perkaranya lapang, dalam arti bila seseorang shalat dalam keadaan menyimpang sedikit dari arah kiblat maka hal itu tidak menjadi masalah. Karena tetap saja ia dikatakan menghadap ke arah kiblat, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<p>لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا</p>
<p>&#8220;Allah tidak membebani suatu jiwa kecuali sekadar kesanggupannya.&#8221; (Al-Baqarah: 286)</p>
<p>Dan juga berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْـمَغْرِبِ قِبْلَةٌ</p>
<p>&#8220;Antara timur dan barat adalah kiblat.&#8221; (HR. At-Tirmidzi no. 342, Ibnu Majah no. 1011, dan selain keduanya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` no. 292) [Lihat Al-Umm, kitab Ash Shalah, bab Istiqbalil Qiblah, Al-Majmu' 3/195, Subulus Salam 1/214, Asy-Syarhul Mumti' 1/509, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/96,97, Taudhihul Ahkam 2/17,18]</p>
<p>Keberadaan arah kiblat di antara timur dan barat ini berlaku bagi penduduk Madinah dan negeri-negeri yang searah dengan Madinah. Dengan demikian, bagian selatan seluruhnya kiblat bagi mereka. Adapun yang tidak searah maka tentunya akan berbeda, arah kiblatnya bukan antara timur dan barat. Seperti kita di Indonesia ini, arah kiblatnya justru antara utara dan selatan. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Kapan Gugur Kewajiban Menghadap Kiblat?</p>
<p>Menghadap kiblat sebagai salah satu syarat shalat yang harus dipenuhi dapat gugur pewajibannya dalam keadaan-keadaan berikut ini:</p>
<p>1. Shalat tathawwu&#8217; (shalat sunnah) bagi orang yang berkendaraan, baik kendaraannya berupa hewan tunggangan ataupun berupa alat transportasi modern seperti mobil, kereta api, dan kapal laut.</p>
<p>Jabir bin Abdillah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhuma berkata:</p>
<p>رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ أَنْمَارٍ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ مُتَوَجِّهًا قِبَلَ الْمَشْرِقِ مُتَطَوِّعًا</p>
<p>&#8220;Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Anmar mengerjakan shalat sunnah di atas hewan tunggangannya sementara hewan tersebut menghadap ke timur.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 4140)</p>
<p>Jabir radhiyallahu ‘anhu juga mengabarkan:</p>
<p>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ، فَإِذَا أَرَادَ الْفَرِيْضَةِ نَزَلَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ</p>
<p>&#8220;Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah di atas hewan tunggangannya ke arah mana saja hewan itu menghadap. Namun bila beliau hendak mengerjakan shalat fardhu, beliau turun dari tunggangannya lalu menghadap kiblat.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 400)</p>
<p>‘Amir bin Rabi&#8217;ah radhiyallahu ‘anhu berkata:</p>
<p>رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الرَّاحِلَةِ يُسَبِّحُ، يُوْمِئُ بِرَأْسِهِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ، وَلَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ</p>
<p>&#8220;Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat nafilah di atas hewan tunggangannya menghadap ke arah mana saja hewan itu menghadap, beliau memberi isyarat dengan kepalanya (ketika melakukan ruku&#8217; dan sujud, -pent.). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan hal itu dalam shalat fardhu.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 1097)</p>
<p>2. Shalat orang yang dicekam rasa takut seperti dalam keadaan perang, orang yang sakit, orang yang lemah, dan orang yang dipaksa (di bawah tekanan).</p>
<p>Orang yang tidak mampu menghadap kiblat disebabkan takut, sakit, atau dipaksa, ataupun dalam situasi berkecamuk perang maka diberi udzur baginya untuk shalat dengan tidak menghadap kiblat, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<p>لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا</p>
<p>&#8220;Allah tidak membebani suatu jiwa kecuali sekadar kesanggupannya.&#8221; (Al-Baqarah: 286)</p>
<p>فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَانًا</p>
<p>&#8220;Jika kalian dalam keadaan takut maka shalatlah dalam keadaan berjalan kaki atau berkendaraan.&#8221; (Al-Baqarah: 239)</p>
<p>Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma setelah menjelaskan tata cara shalat khauf, pada akhirnya beliau berkata:</p>
<p>فَإِنْ كَانَ خَوْفَ هُوَ أَشَدُّ مِنْ ذَلِكَ، صَلُّوا رِجَالاَ قِيَامًا عَلَى أَقْدَامِهِم أَوْ رُكْبَانًا مُسْتَقْبِلِي الْقِبْلَةَ أَوْ غَيْرَ مُسْتَقْبِلِيْهَا</p>
<p>&#8220;Bila keadaan ketakutan lebih dahsyat daripada itu, mereka shalat dengan berjalan di atas kaki-kaki mereka atau berkendaraan, dalam keadaan mereka menghadap kiblat ataupun tidak.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 4535)</p>
<p>Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma juga berkata:</p>
<p>غَزَوْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ نَجْدٍ، فَوَازَيْنَا الْعَدُوَّ، فَصَافَفْنَا لَهُمْ فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي لَنَا&#8230;</p>
<p>&#8220;Aku pernah berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di arah Najd. Kami berhadapan dengan musuh, lalu beliau mengatur shaf/barisan kami untuk menghadapi musuh. Setelahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengimami kami &#8230;.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 942)</p>
<p>Hadits di atas menunjukkan ketika situasi perang, seseorang tidak harus menghadap kiblat. Namun dia bisa menghadap ke mana saja sesuai dengan keadaan dan posisi musuh. (Al-Umm kitab Ash-Shalah, bab Al-Halain Al-Ladzaini Yajuzu Fihima Istiqbalu Ghairil Qiblah, Al-Hawil Kabir 2/70, 72,73, Al-Majmu&#8217; 3/212, 213, Ar-Raudhul Murbi&#8217; Syarhu Zadil Mustaqni&#8217; 1/119, Al-Muhalla bil Atsar 2/257, Adz-Dzakhirah 2/118,122, Subulus Salam 1/214,215, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/97, Taudhihul Ahkam 2/20,21)</p>
<p>Orang yang Tersamar baginya Arah Kiblat</p>
<p>‘Amir bin Rabi&#8217;ah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan:</p>
<p>كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ فَلَمْ نَدْرِ أَيْنَ الْقِبْلَةُ، فَصَلَّى كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا عَلَىحِيَالِهِ، فَلَمَّا أَصْبَحْنَا ذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَ {فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ}</p>
<p>&#8220;Kami pernah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu safar di malam yang gelap. Ketika hendak shalat, kami tidak tahu di mana arah kiblat. Maka masing-masing orang shalat menghadap arah depannya. Di pagi harinya, kami ceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, turunlah ayat ‘Maka ke mana saja kalian menghadap, di sanalah wajah Allah&#8217;.&#8221; (HR. At-Tirmidzi no. 345, Ibnu Majah no. 1020. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi, Shahih Ibni Majah, dan Al-Irwa` no. 291)</p>
<p>Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, &#8220;Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu pasukan perang. Ketika itu, kami ditimpa mendung hingga kami bingung dan berselisih tentang arah kiblat. Pada akhirnya masing-masing dari kami shalat menurut arah yang diyakininya. Mulailah salah seorang dari kami membuat garis di hadapannya guna mengetahui posisi kami. Ketika pagi hari, kami melihat garis tersebut dan dari situ kami tahu bahwa kami shalat tidak menghadap arah kiblat. Kami ceritakan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau tidak menyuruh kami mengulang shalat. Beliau bersabda: &#8220;Shalat kalian telah mencukupi.&#8221; (HR. Ad-DaraQathani, Al-Hakim dll. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Al-Irwa` 1/323)</p>
<p>Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, &#8220;Tatkala orang-orang sedang mengerjakan shalat subuh di Quba`, tiba-tiba ada orang yang datang seraya berkata, ‘Semalam telah diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ayat Al-Qur`an. Beliau diperintah untuk shalat menghadap ke Ka&#8217;bah.&#8217; Mendengar hal tersebut, orang-orang yang sedang shalat itu pun mengubah posisi menghadap ke arah Ka&#8217;bah. Tadinya wajah mereka menghadap ke arah Syam, kemudian mereka membelakanginya untuk menghadap ke arah Ka&#8217;bah.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 403, 4491, 7251 dan Muslim no. 1178)</p>
<p>Hendaknya seseorang mencurahkan segala upayanya untuk mengetahui arah kiblatnya. Bila jelas baginya setelah selesai shalat bahwa ia menghadap selain arah kiblat, ia tidak perlu mengulang shalatnya karena shalat yang telah dikerjakannya telah mencukupi. (Subulus Salam, 1/213)</p>
<p>6. Niat</p>
<p>Niat merupakan ketetapan hati untuk melakukan suatu ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Niat tempatnya di hati, tidak dibenarkan dan bahkan termasuk perkara bid&#8217;ah bila diucapkan dengan lisan. (Raddul Mukhtar 2/90, 91, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/98, 99)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ</p>
<p>&#8220;Hanyalah amalan-amalan itu dengan niat&#8230;.&#8221; (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Sebagai bagian dari amalan ibadah, shalat yang dikerjakan tentunya harus diawali dan disertai niat.</p>
<p>Wallahu ta&#8217;ala a&#8217;lam bish-shawab.</p>
<p>1 Termasuk syarat shalat adalah Islam, baligh/tamyiz, dan berakal. Syarat yang tiga ini harus ada dalam seluruh ibadah. (Ar-Raudhul Murbi&#8217; Syarhu Zadil Mustaqni&#8217;, 1/98)</p>
<p>2 Dan termasuk perkara sunnah adalah shalat dengan memakai sandal (tentunya dengan perincian seperti yang dijelaskan oleh para ulama), sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>خَالِفُوا الْيَهُوْدَ فَإِنَّهُمْ لاَ يُصَلُّوْنَ فِي نِعَالِهِمْ وَلاَ خِفَافِهِمْ</p>
<p>&#8220;Selisihilah Yahudi karena mereka tidak shalat dengan mengenakan sandal dan tidak pula khuf mereka.&#8221; (HR. Abu Dawud no. 652, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dan beliau membahas hadits ini dalam Ashlu Shifati Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/109)</p>
<p>3 Dalam Ash-Shahihain, ada hadits Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>مَرَّ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّباَنِ فِي كَبِيْرٍ، بَلَى، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَنْزِهُ مِنَ الْبَوْلِ (وَفِي رِوَايَةٍ: بَوْلِهِ)&#8230;</p>
<p>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan, beliau berkata, &#8220;Kedua penghuni kuburan ini sedang diadzab. Tidaklah mereka diadzab karena perkara yang dianggap besar (oleh manusia) padahal sungguh perkaranya sebenarnya besar. Adapun salah satu penghuninya, (ia diadzab karena) tidak bersuci dari kencingnya (dalam satu riwayat: ia diadzab karena perkara kencingnya/ia tidak menjaga dari percikan najisnya)&#8230;.&#8221;</p>
<p>4 Bila hendak mengerjakan shalat, karena keluarnya madzi merupakan salah satu pembatal wudhu.</p>
<p>5 Zinah adalah sesuatu yang dikenakan untuk berhias/memperindah diri seperti pakaian. (Mukhtarush Shihah, hal. 139)</p>
<p>6 Pundak laki-laki misalnya, bukanlah aurat di luar shalat karena batas aurat laki-laki dengan sesama lelaki adalah antara pusar dan lutut. Namun di dalam shalat ada perintah untuk menutup pundak sebagaimana akan disebutkan haditsnya.</p>
<p>7 Misalnya wajah dan kedua telapak tangan wanita boleh ditampakkan ketika shalat, selama tidak ada lelaki ajnabi (non mahram). Namun di luar shalat ia harus menutupnya dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya.</p>
<p>Tentang pakaian wanita dalam shalat telah dibahas dalam lembar Sakinah dari majalah ini.</p>
<p>8 Maksudnya shalat dalam keadaan kedua pundak terbuka, tidak ada pakaian yang menutupi.</p>
<p>9 Daerah aurat antara pusar dan lutut harus tertutup.</p>
<p>10 Dalam keadaan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dan menunggu-nunggu turunnya wahyu dari langit yang memerintahkan beliau untuk menghadap ke Baitullah ketika shalat</p>
<p>Sumber:<br />
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=540</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/byonspot.wordpress.com/63/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/byonspot.wordpress.com/63/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/byonspot.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/byonspot.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/byonspot.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/byonspot.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/byonspot.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/byonspot.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/byonspot.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/byonspot.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/byonspot.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/byonspot.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/byonspot.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/byonspot.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/byonspot.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/byonspot.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=63&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://byonspot.wordpress.com/2008/07/02/63/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e08ce7fed8a6a0a72739bd469899b2c8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abunadiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>murotal</title>
		<link>http://byonspot.wordpress.com/2008/06/30/murotal-2/</link>
		<comments>http://byonspot.wordpress.com/2008/06/30/murotal-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 12:56:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abunadiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://byonspot.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[- Surah File Type Save Listen 1 Al-Fatihah ( The Opening ) MP3 Save 1 Al-Fatihah ( The Opening ) Real Audio Save Listen 2 Al-Baqarah ( The Cow ) MP3 Save 2 Al-Baqarah ( The Cow ) Real Audio Save Listen 3 Al-Imran ( The Famiy of Imran ) MP3 Save 3 Al-Imran ( [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=50&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="620">
<tbody>
<tr>
<td>
<table style="height:4128px;" border="1" width="424" bgcolor="#ffffff">
<tbody>
<tr>
<td align="center" bgcolor="#d8d8d8">-</td>
<td align="center" bgcolor="#d8d8d8">Surah</td>
<td align="center" bgcolor="#d8d8d8">File Type</td>
<td align="center" bgcolor="#d8d8d8">Save</td>
<td align="center" bgcolor="#d8d8d8">Listen</td>
</tr>
<tr>
<td align="center">1</td>
<td align="center">Al-Fatihah ( The Opening )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/001.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">1</td>
<td align="center">Al-Fatihah ( The Opening )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/001.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/001.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">2</td>
<td align="center">Al-Baqarah ( The Cow )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/002.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">2</td>
<td align="center">Al-Baqarah ( The Cow )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/002.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/002.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">3</td>
<td align="center">Al-Imran ( The Famiy of Imran )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/003.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">3</td>
<td align="center">Al-Imran ( The Famiy of Imran )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/003.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/003.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">4</td>
<td align="center">An-Nisa ( The Women )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/004.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">4</td>
<td align="center">An-Nisa ( The Women )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/004.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/004.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">5</td>
<td align="center">Al-Maidah ( The Table spread with Food )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/005.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">5</td>
<td align="center">Al-Maidah ( The Table spread with Food )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/005.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/005.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">6</td>
<td align="center">Al-An&#8217;am ( The Cattle )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/006.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">6</td>
<td align="center">Al-An&#8217;am ( The Cattle )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/006.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/006.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">7</td>
<td align="center">Al-A&#8217;raf (The Heights )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/007.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">7</td>
<td align="center">Al-A&#8217;raf (The Heights )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/007.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/007.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">8</td>
<td align="center">Al-Anfal ( The Spoils of War )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/008.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">8</td>
<td align="center">Al-Anfal ( The Spoils of War )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/008.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/008.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">9</td>
<td align="center">At-Taubah ( The Repentance )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/009.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">9</td>
<td align="center">At-Taubah ( The Repentance )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/009.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/009.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">10</td>
<td align="center">Yunus ( Jonah )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/010.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">10</td>
<td align="center">Yunus ( Jonah )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/010.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/010.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">11</td>
<td align="center">Hud ( Hud )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/011.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">11</td>
<td align="center">Hud ( Hud )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/011.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/011.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">12</td>
<td align="center">Yusuf (Joseph )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/012.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">12</td>
<td align="center">Yusuf (Joseph )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/012.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/012.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">13</td>
<td align="center">Ar-Ra&#8217;d ( The Thunder )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/013.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">13</td>
<td align="center">Ar-Ra&#8217;d ( The Thunder )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/013.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/013.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">14</td>
<td align="center">Ibrahim ( Abraham )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/014.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">14</td>
<td align="center">Ibrahim ( Abraham )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/014.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/014.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">15</td>
<td align="center">Al-Hijr ( The Rocky Tract )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/015.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">15</td>
<td align="center">Al-Hijr ( The Rocky Tract )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/015.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/015.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">16</td>
<td align="center">An-Nahl ( The Bees )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/016.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">16</td>
<td align="center">An-Nahl ( The Bees )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/016.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/016.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">17</td>
<td align="center">Al-Isra ( The Night Journey )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/017.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">17</td>
<td align="center">Al-Isra ( The Night Journey )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/017.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/017.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">18</td>
<td align="center">Al-Kahf ( The Cave )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/018.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">18</td>
<td align="center">Al-Kahf ( The Cave )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/018.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/018.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">19</td>
<td align="center">Maryam ( Mary )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/019.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">19</td>
<td align="center">Maryam ( Mary )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/019.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/019.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">20</td>
<td align="center">Taha</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/020.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">20</td>
<td align="center">Taha</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/020.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/020.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">21</td>
<td align="center">Al-Anbiya ( The Prophets )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/021.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">21</td>
<td align="center">Al-Anbiya ( The Prophets )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/021.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/021.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">22</td>
<td align="center">Al-Hajj ( The Pilgrimage )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/022.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">22</td>
<td align="center">Al-Hajj ( The Pilgrimage )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/022.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/022.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">23</td>
<td align="center">Al-Mu&#8217;minoon ( The Believers )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/023.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">23</td>
<td align="center">Al-Mu&#8217;minoon ( The Believers )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/023.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/023.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">24</td>
<td align="center">An-Noor ( The Light )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/024.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">24</td>
<td align="center">An-Noor ( The Light )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/024.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/024.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">25</td>
<td align="center">Al-Furqan (The Criterion )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/025.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">25</td>
<td align="center">Al-Furqan (The Criterion )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/025.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/025.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">26</td>
<td align="center">Ash-Shuara ( The Poets )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/026.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">26</td>
<td align="center">Ash-Shuara ( The Poets )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/026.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/026.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">27</td>
<td align="center">An-Naml (The Ants )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/027.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">27</td>
<td align="center">An-Naml (The Ants )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/027.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/027.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">28</td>
<td align="center">Al-Qasas ( The Stories )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/028.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">28</td>
<td align="center">Al-Qasas ( The Stories )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/028.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/028.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">29</td>
<td align="center">Al-Ankaboot ( The Spider )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/029.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">29</td>
<td align="center">Al-Ankaboot ( The Spider )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/029.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/029.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">30</td>
<td align="center">Ar-Room ( The Romans )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/030.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">30</td>
<td align="center">Ar-Room ( The Romans )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/030.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/030.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">31</td>
<td align="center">Luqman</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/031.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">31</td>
<td align="center">Luqman</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/031.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/031.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">32</td>
<td align="center">As-Sajdah ( The Prostration )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/032.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">32</td>
<td align="center">As-Sajdah ( The Prostration )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/032.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/032.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">33</td>
<td align="center">Al-Ahzab ( The Combined Forces )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/033.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">33</td>
<td align="center">Al-Ahzab ( The Combined Forces )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/033.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/033.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">34</td>
<td align="center">Saba ( Sheba )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/034.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">34</td>
<td align="center">Saba ( Sheba )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/034.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/034.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">35</td>
<td align="center">Fatir ( The Orignator )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/035.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">35</td>
<td align="center">Fatir ( The Orignator )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/035.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/035.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">36</td>
<td align="center">Ya-seen</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/036.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">36</td>
<td align="center">Ya-seen</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/036.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/036.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">37</td>
<td align="center">As-Saaffat ( Those Ranges in Ranks )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/037.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">37</td>
<td align="center">As-Saaffat ( Those Ranges in Ranks )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/037.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/037.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">38</td>
<td align="center">Sad ( The Letter Sad )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/038.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">38</td>
<td align="center">Sad ( The Letter Sad )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/038.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/038.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">39</td>
<td align="center">Az-Zumar ( The Groups )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/039.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">39</td>
<td align="center">Az-Zumar ( The Groups )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/039.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/039.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">40</td>
<td align="center">Ghafir ( The Forgiver God )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/040.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">40</td>
<td align="center">Ghafir ( The Forgiver God )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/040.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/040.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">41</td>
<td align="center">Fussilat ( Explained in Detail )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/041.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">41</td>
<td align="center">Fussilat ( Explained in Detail )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/041.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/041.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">42</td>
<td align="center">Ash-Shura (Consultation )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/042.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">42</td>
<td align="center">Ash-Shura (Consultation )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/042.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/042.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">43</td>
<td align="center">Az-Zukhruf ( The Gold Adornment )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/043.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">43</td>
<td align="center">Az-Zukhruf ( The Gold Adornment )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/043.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/043.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">44</td>
<td align="center">Ad-Dukhan ( The Smoke )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/044.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">44</td>
<td align="center">Ad-Dukhan ( The Smoke )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/044.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/044.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">45</td>
<td align="center">Al-Jathiya ( Crouching )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/045.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">45</td>
<td align="center">Al-Jathiya ( Crouching )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/045.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/045.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">46</td>
<td align="center">Al-Ahqaf ( The Curved Sand-hills )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/046.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">46</td>
<td align="center">Al-Ahqaf ( The Curved Sand-hills )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/046.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/046.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">47</td>
<td align="center">Muhammad</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/047.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">47</td>
<td align="center">Muhammad</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/047.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/047.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">48</td>
<td align="center">Al-Fath ( The Victory )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/048.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">48</td>
<td align="center">Al-Fath ( The Victory )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/048.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/048.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">49</td>
<td align="center">Al-Hujurat ( The Dwellings )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/049.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">49</td>
<td align="center">Al-Hujurat ( The Dwellings )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/049.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/049.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">50</td>
<td align="center">Qaf ( The Letter Qaf )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/050.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">50</td>
<td align="center">Qaf ( The Letter Qaf )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/050.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/050.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">51</td>
<td align="center">Adh-Dhariyat ( The Wind that Scatter )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/051.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">51</td>
<td align="center">Adh-Dhariyat ( The Wind that Scatter )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/051.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/051.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">52</td>
<td align="center">At-Tur ( The Mount )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/052.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">52</td>
<td align="center">At-Tur ( The Mount )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/052.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/052.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">53</td>
<td align="center">An-Najm ( The Star )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/053.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">53</td>
<td align="center">An-Najm ( The Star )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/053.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/053.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">54</td>
<td align="center">Al-Qamar ( The Moon )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/054.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">54</td>
<td align="center">Al-Qamar ( The Moon )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/054.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/054.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">55</td>
<td align="center">Ar-Rahman ( The Most Graciouse )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/055.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">55</td>
<td align="center">Ar-Rahman ( The Most Graciouse )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/055.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/055.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">56</td>
<td align="center">Al-Waqi&#8217;ah ( The Event )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/056.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">56</td>
<td align="center">Al-Waqi&#8217;ah ( The Event )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/056.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/056.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">57</td>
<td align="center">Al-Hadid ( The Iron )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/057.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">57</td>
<td align="center">Al-Hadid ( The Iron )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/057.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/057.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">58</td>
<td align="center">Al-Mujadilah ( She That Disputeth )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/058.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">58</td>
<td align="center">Al-Mujadilah ( She That Disputeth )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/058.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/058.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">59</td>
<td align="center">Al-Hashr ( The Gathering )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/059.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">59</td>
<td align="center">Al-Hashr ( The Gathering )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/059.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/059.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">60</td>
<td align="center">Al-Mumtahanah ( The Woman to be examined )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/060.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">60</td>
<td align="center">Al-Mumtahanah ( The Woman to be examined )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/060.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/060.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">61</td>
<td align="center">As-Saff ( The Row )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/061.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">61</td>
<td align="center">As-Saff ( The Row )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/061.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/061.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">62</td>
<td align="center">Al-Jumu&#8217;ah ( Friday )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/062.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">62</td>
<td align="center">Al-Jumu&#8217;ah ( Friday )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/062.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/062.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">63</td>
<td align="center">Al-Munafiqoon ( The Hypocrites )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/063.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">63</td>
<td align="center">Al-Munafiqoon ( The Hypocrites )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/063.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/063.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">64</td>
<td align="center">At-Taghabun ( Mutual Loss &amp; Gain )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/064.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">64</td>
<td align="center">At-Taghabun ( Mutual Loss &amp; Gain )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/064.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/064.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">65</td>
<td align="center">At-Talaq ( The Divorce )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/065.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">65</td>
<td align="center">At-Talaq ( The Divorce )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/065.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/065.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">66</td>
<td align="center">At-Tahrim ( The Prohibition )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/066.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">66</td>
<td align="center">At-Tahrim ( The Prohibition )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/066.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/066.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">67</td>
<td align="center">Al-Mulk ( Dominion )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/067.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">67</td>
<td align="center">Al-Mulk ( Dominion )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/067.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/067.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">68</td>
<td align="center">Al-Qalam ( The Pen )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/068.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">68</td>
<td align="center">Al-Qalam ( The Pen )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/068.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/068.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">69</td>
<td align="center">Al-Haaqqah ( The Inevitable )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/069.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">69</td>
<td align="center">Al-Haaqqah ( The Inevitable )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/069.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/069.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">70</td>
<td align="center">Al-Ma&#8217;arij (The Ways of Ascent )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/070.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">70</td>
<td align="center">Al-Ma&#8217;arij (The Ways of Ascent )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/070.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/070.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">71</td>
<td align="center">Nooh</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/071.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">71</td>
<td align="center">Nooh</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/071.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/071.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">72</td>
<td align="center">Al-Jinn ( The Jinn )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/072.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">72</td>
<td align="center">Al-Jinn ( The Jinn )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/072.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/072.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">73</td>
<td align="center">Al-Muzzammil (The One wrapped in Garments)</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/073.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">73</td>
<td align="center">Al-Muzzammil (The One wrapped in Garments)</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/073.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/073.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">74</td>
<td align="center">Al-Muddaththir ( The One Enveloped )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/074.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">74</td>
<td align="center">Al-Muddaththir ( The One Enveloped )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/074.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/074.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">75</td>
<td align="center">Al-Qiyamah ( The Resurrection )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/075.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">75</td>
<td align="center">Al-Qiyamah ( The Resurrection )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/075.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/075.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">76</td>
<td align="center">Al-Insan ( Man )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/076.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">76</td>
<td align="center">Al-Insan ( Man )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/076.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/076.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">77</td>
<td align="center">Al-Mursalat ( Those sent forth )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/077.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">77</td>
<td align="center">Al-Mursalat ( Those sent forth )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/077.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/077.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">78</td>
<td align="center">An-Naba&#8217; ( The Great News )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/078.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">78</td>
<td align="center">An-Naba&#8217; ( The Great News )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/078.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/078.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">79</td>
<td align="center">An-Nazi&#8217;at ( Those who Pull Out )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/079.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">79</td>
<td align="center">An-Nazi&#8217;at ( Those who Pull Out )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/079.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/079.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">80</td>
<td align="center">Abasa ( He frowned )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/080.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">80</td>
<td align="center">Abasa ( He frowned )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/080.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/080.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">81</td>
<td align="center">At-Takwir ( The Overthrowing )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/081.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">81</td>
<td align="center">At-Takwir ( The Overthrowing )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/081.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/081.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">82</td>
<td align="center">Al-Infitar ( The Cleaving )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/082.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">82</td>
<td align="center">Al-Infitar ( The Cleaving )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/082.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/082.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">83</td>
<td align="center">Al-Mutaffifin (Those Who Deal in Fraud)</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/083.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">83</td>
<td align="center">Al-Mutaffifin (Those Who Deal in Fraud)</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/083.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/083.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">84</td>
<td align="center">Al-Inshiqaq (The Splitting Asunder)</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/084.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">84</td>
<td align="center">Al-Inshiqaq (The Splitting Asunder)</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/084.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/084.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">85</td>
<td align="center">Al-Burooj ( The Big Stars )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/085.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">85</td>
<td align="center">Al-Burooj ( The Big Stars )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/085.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/085.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">86</td>
<td align="center">At-Tariq ( The Night-Comer )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/086.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">86</td>
<td align="center">At-Tariq ( The Night-Comer )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/086.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/086.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">87</td>
<td align="center">Al-A&#8217;la ( The Most High )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/087.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">87</td>
<td align="center">Al-A&#8217;la ( The Most High )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/087.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/087.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">88</td>
<td align="center">Al-Ghashiya ( The Overwhelming )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/088.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">88</td>
<td align="center">Al-Ghashiya ( The Overwhelming )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/088.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/088.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">89</td>
<td align="center">Al-Fajr ( The Dawn )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/089.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">89</td>
<td align="center">Al-Fajr ( The Dawn )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/089.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/089.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">90</td>
<td align="center">Al-Balad ( The City )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/090.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">90</td>
<td align="center">Al-Balad ( The City )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/090.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/090.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">91</td>
<td align="center">Ash-Shams ( The Sun )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/091.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">91</td>
<td align="center">Ash-Shams ( The Sun )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/091.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/091.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">92</td>
<td align="center">Al-Layl ( The Night )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/092.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">92</td>
<td align="center">Al-Layl ( The Night )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/092.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/092.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">93</td>
<td align="center">Ad-Dhuha ( The Forenoon )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/093.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">93</td>
<td align="center">Ad-Dhuha ( The Forenoon )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/093.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/093.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">94</td>
<td align="center">As-Sharh ( The Opening Forth)</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/094.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">94</td>
<td align="center">As-Sharh ( The Opening Forth)</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/094.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/094.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">95</td>
<td align="center">At-Tin ( The Fig )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/095.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">95</td>
<td align="center">At-Tin ( The Fig )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/095.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/095.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">96</td>
<td align="center">Al-&#8217;alaq ( The Clot )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/096.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">96</td>
<td align="center">Al-&#8217;alaq ( The Clot )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/096.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/096.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">97</td>
<td align="center">Al-Qadr ( The Night of Decree )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/097.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">97</td>
<td align="center">Al-Qadr ( The Night of Decree )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/097.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/097.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">98</td>
<td align="center">Al-Bayyinah ( The Clear Evidence )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/098.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">98</td>
<td align="center">Al-Bayyinah ( The Clear Evidence )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/098.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/098.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">99</td>
<td align="center">Az-Zalzalah ( The Earthquake )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/099.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">99</td>
<td align="center">Az-Zalzalah ( The Earthquake )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/099.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/099.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">100</td>
<td align="center">Al-&#8217;adiyat ( Those That Run )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/100.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">100</td>
<td align="center">Al-&#8217;adiyat ( Those That Run )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/100.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/100.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">101</td>
<td align="center">Al-Qari&#8217;ah ( The Striking Hour )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/101.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">101</td>
<td align="center">Al-Qari&#8217;ah ( The Striking Hour )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/101.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/101.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">102</td>
<td align="center">At-Takathur ( The piling Up )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/102.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">102</td>
<td align="center">At-Takathur ( The piling Up )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/102.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/102.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">103</td>
<td align="center">Al-Asr ( The Time )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/103.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">103</td>
<td align="center">Al-Asr ( The Time )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/103.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/103.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">104</td>
<td align="center">Al-Humazah ( The Slanderer )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/104.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">104</td>
<td align="center">Al-Humazah ( The Slanderer )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/104.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/104.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">105</td>
<td align="center">Al-Fil ( The Elephant )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/105.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">105</td>
<td align="center">Al-Fil ( The Elephant )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/105.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/105.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">106</td>
<td align="center">Quraish</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/106.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">106</td>
<td align="center">Quraish</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/106.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/106.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">107</td>
<td align="center">Al-Ma&#8217;un ( Small Kindnesses )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/107.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">107</td>
<td align="center">Al-Ma&#8217;un ( Small Kindnesses )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/107.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/107.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">108</td>
<td align="center">Al-Kauther ( A River in Paradise)</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/108.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">108</td>
<td align="center">Al-Kauther ( A River in Paradise)</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/108.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/108.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">109</td>
<td align="center">Al-Kafiroon ( The Disbelievers )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/109.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">109</td>
<td align="center">Al-Kafiroon ( The Disbelievers )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/109.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/109.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">110</td>
<td align="center">An-Nasr ( The Help )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/110.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">110</td>
<td align="center">An-Nasr ( The Help )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/110.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/110.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">111</td>
<td align="center">Al-Masad ( The Palm Fibre )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/111.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">111</td>
<td align="center">Al-Masad ( The Palm Fibre )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/111.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/111.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">112</td>
<td align="center">Al-Ikhlas ( Sincerity )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/112.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">112</td>
<td align="center">Al-Ikhlas ( Sincerity )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/112.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/112.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">113</td>
<td align="center">Al-Falaq ( The Daybreak )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/113.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">113</td>
<td align="center">Al-Falaq ( The Daybreak )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/113.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/113.ram">Listen</a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">114</td>
<td align="center">An-Nas ( Mankind )</td>
<td align="center">MP3</td>
<td colspan="2" align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/114.mp3">Save </a></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">114</td>
<td align="center">An-Nas ( Mankind )</td>
<td align="center">Real Audio</td>
<td align="center"><a href="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/114.rm">Save</a></td>
<td align="center"><a href="http://quran.islamway.com/quran/akhaleqali/114.ram">Listen</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
<td width="13"></td>
</tr>
<tr>
<td width="13" height="11"><img src="http://english.islamway.com/images/table_left_down.jpg" border="0" alt="" width="13" height="11" /></td>
<td><img src="http://english.islamway.com/transparent.gif" alt="" width="1" height="1" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/byonspot.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/byonspot.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/byonspot.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/byonspot.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/byonspot.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/byonspot.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/byonspot.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/byonspot.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/byonspot.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/byonspot.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/byonspot.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/byonspot.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/byonspot.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/byonspot.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/byonspot.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/byonspot.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=50&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://byonspot.wordpress.com/2008/06/30/murotal-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/002.mp3" length="30931209" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/001.mp3" length="213757" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/003.mp3" length="18214528" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/004.mp3" length="19612908" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/005.mp3" length="15273453" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/006.mp3" length="15788755" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/007.mp3" length="16950617" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/008.mp3" length="6259808" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/009.mp3" length="13531396" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/010.mp3" length="9632422" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/011.mp3" length="10212026" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/012.mp3" length="9377571" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/013.mp3" length="4567176" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/014.mp3" length="4667922" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/015.mp3" length="3592639" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/016.mp3" length="9917093" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/017.mp3" length="7898771" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/018.mp3" length="8024469" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/019.mp3" length="4769192" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/020.mp3" length="6390453" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/021.mp3" length="6210323" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/022.mp3" length="6552416" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/023.mp3" length="5519439" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/024.mp3" length="7137873" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/025.mp3" length="4501391" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/026.mp3" length="6963695" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/027.mp3" length="6292447" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/028.mp3" length="7262113" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/029.mp3" length="5094375" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/030.mp3" length="4211219" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/031.mp3" length="2839267" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/032.mp3" length="2004815" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/033.mp3" length="6827751" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/034.mp3" length="4310167" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/035.mp3" length="4069319" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/036.mp3" length="3556064" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/037.mp3" length="4689159" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/038.mp3" length="1552384" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/039.mp3" length="5732487" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/040.mp3" length="6325359" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/041.mp3" length="4184574" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/042.mp3" length="4309442" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/043.mp3" length="4342357" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/044.mp3" length="1913073" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/045.mp3" length="2525595" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/046.mp3" length="3173952" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/047.mp3" length="3230582" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/048.mp3" length="2842927" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/049.mp3" length="1828438" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/050.mp3" length="2232488" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/051.mp3" length="1924989" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/052.mp3" length="1784652" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/053.mp3" length="1770651" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/054.mp3" length="1817985" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/055.mp3" length="2436150" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/056.mp3" length="2429933" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/057.mp3" length="2899092" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/058.mp3" length="2565979" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/059.mp3" length="2568905" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/060.mp3" length="1947978" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/061.mp3" length="1282635" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/062.mp3" length="919220" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/063.mp3" length="939282" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/064.mp3" length="1287442" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/065.mp3" length="1487017" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/066.mp3" length="1417166" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/067.mp3" length="1747558" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/068.mp3" length="1641816" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/069.mp3" length="1776193" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/070.mp3" length="1277569" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/071.mp3" length="1290411" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/072.mp3" length="1388635" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/073.mp3" length="1143300" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/074.mp3" length="1409331" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/075.mp3" length="1019897" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/076.mp3" length="1336500" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/077.mp3" length="1126897" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/078.mp3" length="1071578" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/079.mp3" length="981301" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/080.mp3" length="806066" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/081.mp3" length="567311" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/082.mp3" length="466375" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/083.mp3" length="1023619" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/084.mp3" length="636902" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/085.mp3" length="662396" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/086.mp3" length="368675" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/087.mp3" length="394693" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/088.mp3" length="538994" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/089.mp3" length="807218" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/090.mp3" length="445787" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/091.mp3" length="326774" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/092.mp3" length="427502" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/093.mp3" length="244331" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/094.mp3" length="140677" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/095.mp3" length="216432" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/096.mp3" length="379019" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/097.mp3" length="152694" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/098.mp3" length="480584" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/099.mp3" length="213404" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/100.mp3" length="237229" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/101.mp3" length="216852" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/102.mp3" length="187177" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/103.mp3" length="89268" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/104.mp3" length="187490" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/105.mp3" length="147365" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/106.mp3" length="127406" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/107.mp3" length="165339" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/108.mp3" length="73596" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/109.mp3" length="133366" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/110.mp3" length="116540" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/111.mp3" length="132214" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/112.mp3" length="73597" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/113.mp3" length="113823" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://download.quran.islamway.com/quran/akhaleqali/114.mp3" length="137125" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e08ce7fed8a6a0a72739bd469899b2c8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abunadiah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://english.islamway.com/images/table_left_down.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://english.islamway.com/transparent.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Terpaksa Pinjam Ke Bank?</title>
		<link>http://byonspot.wordpress.com/2008/06/23/terpaksa-pinjam-ke-bank/</link>
		<comments>http://byonspot.wordpress.com/2008/06/23/terpaksa-pinjam-ke-bank/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 19:08:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abunadiah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://byonspot.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Soal: Jika seorang miskin, hidup di negeri yang bukan muslim dan tidak ada yang membantu dia hutangan uang, dan dia terpaksa untuk meminjam sejumlah hutangan dari bank dengan pembayaran lebih dalam bentuk riba. Apakah boleh baginya untuk membayar kelebihan ribanya tersebut mengingat kepada keadaan dia yang fakir sehingga dia melakukannya dalam keadaan darurat? Narasumber : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=46&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"> Soal: Jika seorang miskin, hidup di negeri yang bukan muslim dan tidak ada yang membantu dia hutangan uang, dan dia terpaksa untuk meminjam sejumlah hutangan dari bank dengan pembayaran lebih dalam bentuk riba. Apakah boleh baginya untuk membayar kelebihan ribanya tersebut mengingat kepada keadaan dia yang fakir sehingga dia melakukannya dalam keadaan darurat?</span></p>
<p>Narasumber : Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiah wal Ifta&#8217;</p>
<p>Kategori : Bimbingan Ulama</p>
<p>Jawab: Tidak ada udzur(alasan) baginya untuk memenuhi kebutuhannya melalui jalan riba Wajib baginya untuk mencar sebab lain yang dibolehkan. Atau dia pindah ke negerinya kaum muslimin jika mampu supaya dia bisa saling tolong-menolong dengan mereka di atas kebaikan dan ketakwaan, dan agar dia bisa menjaga agamanya dari fitnah-fitnah yang ada, serta dia bisa mendapatkan apa yang bisa mencukupi kebutuhannya berupa harta dan ilmu. Allah Ta&#8217;ala berfirman (artinya):</p>
<p>&#8220;Barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.&#8221;(Ath Tholaq 2-3)</p>
<p>Dan Allah berfirman (artinya):</p>
<p>&#8220;Barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan mudahkah urusannya&#8221;(Ath Tholaq 4)</p>
<p>Wa billah at taufiq wa shollallahu &#8216;ala nabiyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.</p>
<p>Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiah wal Ifta&#8217;</p>
<p>Ketua: Asy Syaikh Abdulaziz bin Abdullah bin Baaz</p>
<p>Wakil: Asy Syaikh Abdurrozzaq &#8216;Afifi</p>
<p>Anggota: Asy Syaikh Abdullah bin Ghudoyyan</p>
<p>Fatawa Al Lajnah (13/388)</p>
<p>Alih Bahasa: Ayub Abu Ayub<br />
http://mimbarislami.or.id/?module=konsultasi&amp;action=detail&amp;tjid=20</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/byonspot.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/byonspot.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/byonspot.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/byonspot.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/byonspot.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/byonspot.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/byonspot.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/byonspot.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/byonspot.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/byonspot.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/byonspot.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/byonspot.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/byonspot.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/byonspot.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/byonspot.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/byonspot.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=byonspot.wordpress.com&amp;blog=3793865&amp;post=46&amp;subd=byonspot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://byonspot.wordpress.com/2008/06/23/terpaksa-pinjam-ke-bank/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e08ce7fed8a6a0a72739bd469899b2c8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abunadiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
